FYI.

This story is over 5 years old.

media sosial

Pemilik Saham Usul Twitter Dijadikan Koperasi

Performa medsos 140 karakter itu makin tertinggal dari pesaing, kepemilikan komunitas dianggap segelintir pemegang saham sebagai jalan penyelamatan.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Jika anda membeli saham Twitter senilai US$100 (setara Rp1,3 juta) per lembar saat pertama kali diperdagangkan ke publik pada musim gugur 2013, ada berita buruk: saham yang anda miliki sekarang harganya cuma sekitar $56, anjlok nyaris separuhnya.

Pada rapat pemegang Saham Twitter awal pekan ini di Kota San Fransisco, kabar buruk yang paling banyak dibahas adalah performa buruk raksasa media sosial mikroblogging itu beberapa tahun belakangan. Buat mengatasinya, para pemegang saham menyarankan satu usulan yang agak nyentrik: sebuah permintaan agar petinggi Twitter menyelidiki kemungkinan media sosial tersebut dimiliki sekitar 313 juta pengguna aktifnya atau gampangnya kemungkinan Twitter dibikin koperasi. "Twitter yang dimiliki bersama kemungkinan bisa membuka pemasukan baru yang bisa diandalkan, karena kami, sebagai pengguna, bisa membeli saham sebagai pemilik bersama, demi mewujudkan kesuksesan platform ini," begitu yang tertera dalam proposal tersebut, diperoleh dari berkas SEC Filing. "Dengan nihilnya tekanan jangka pendek dari pasar saham, kita bisa mewujudkan nilai potensial Twitter, yang selama beberapa tahun berusaha dicapai oleh model bisnis yang digunakan saat ini." Masalah utama yang dihadapi Twitter sesungguhnya bukan pada ketidakmampuan Twitter menambah pengguna secara konsisten atau menjual iklan pada para penggunanya dengan kecepatan yang sama seperti rivalnya. Namun, jika dibanding dengan Facebook, Instagram, and Snapchat empat tahun ke belakang, pertumbuhan pengguna Twitter cenderung stagnan. Dalam laporan empat bulanan terakhir, Twitter membeberkan bahwa keuntungan yang diperoleh Twitter menurun hingga 8 persen. Contoh perusahaan milik bersama yang paling tenar di Amerika Serikat adalah klub sepakbola Amerika Green Packers. Contoh lainnya adalah perusahaan retailer baju outdorr REI dan credit unions. Model kepemilikan bersama lebih populer di Eropa. Sampai saat ini, ada 250.000 perusahaan milik bersama yang dimiliki oleh 163 juta penduduk Eropa yang tersebar di 28 negara. Argumen yang melandasi kepemilikan bersama Twitter oleh penggunanya adalah bahwa Twitter sejatinya merupakan fasilitas publik, buktinya Trump bisa leluasa mengeluarkan unek-uneknya kapanpun dia mau. Lebih dari itu menurut Jim Mc Ritchie, seorang advokat bagi para pemilik saham (dan seorang pemilik saham Twitter) yang mendukung proposal ini, model kepemilikan adalah keputusan bisnis yang masuk akal. "Saat costumer menjadi pemilik, kebanyakan perusahaan akan lebih mengenal kebutuhan mereka. Ketika pekerja menjadi pemilik, mereka akan bersemangat menyumbang bekerja sama dan menyumbangkan ide-ide segar," ujar McRitchie, mengutip hasil penelitian dari konsultan manajemen global, McKinsey. Sayangnya, proposal nyentrik ini kemungkinan besar takan akan mendapatkan suara mayoritas pemilik saham. Investor Instutional, seperti lembaga hedge funds lewat para wakilnya akan menyatukan suara. Pun, data SEC menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki presentasi kecil atas mayoritas pemegang saham. Belum lagi, petinggi Twitter menunjukkan ketidaksetujuan mereka atas usulan ini, mengatakan bahwa penyelidikan apakah ide ini bisa dijalankan hanya akan buang-buang waktu dan uang. "Kami percaya usaha untuk mempersiapkan laporan tentang kemungkinan menjual "platform" hanya pada "pada penggunanya" cuma membuang-buang sumber daya dan mengalihkan fokus dewan direksi dan manajemen—sumber daya dan waktu malah bisa dimanfaatkan untuk membangun nilai jangka panjang Twitter," ujar Twitter seperti yang tertera dalam berkas SEC filing mereka.

McRitchie dan para pendukung proposal lainya tak muluk-muluk memburu 51 persen suara. Mereka hanya memerlukan angka 3 persen saja. Jika mereka berhasil memancing ketertarikan investor retail Twitter—maksudnya, orang awam yang kebetulan memiliki saham twitter—dan jumlahnya mencapai 3 persen dari seluruh pemilik saham, mereka punya kesempatan untuk mengajukan proposal yang sama tahun depan. Namun, di Silicon Valley, tempat ide-ide nyeleneh tumbuh subur, hilang dan muncul kembali, Twitter menjadi sebuah koperasi besar mungkin akan bertahan lebih lama dari yang kita dugaan.

Pembaruan. Senin, 22 Mei 2017, pukul 2:36 waktu setempat
Hasil awal menunjukan bahwa proposal tersebut ditolak forum, namun berhasil memperoleh dukungan dari 4 persen pemilik saham. Menurut Jim McRitchie, artinya proposal yang sama bisa kembali diusulkan pada rapat pemegang saham tahun depan. McRitchie menambahkan bahwa dia telah bicara dengan Jack Dorsey selaku CEO Twitter dan anggota relasi investor Twitter. Mereka terlibat dalam pembicaraan produktif tentang pengelolaan twitter di masa mendatang.