Gardika Gigih Menemukan Cahaya Melawan Gelapnya Depresi Lewat Album Perdana

Komponis asal Yogya ini merilis 'Nyala' serta menggelar konser tunggal dadakan di Jakarta. Kini Gigih siap menetapkan target baru buat karya selanjutnya.
12.12.17
Semua foto oleh Rizzardi Badudu.

Saat saya temui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Gardika Gigih Pradipta menyenandungkan komposisi “Goldberg Variations” karya Johann Sebastian Bach. Saat itu, tak ada sama sekali kegugupan dari sosok komponis asal Yogyakarta tersebut.

Namun kepercayaan diri tersebut sekilas tak nampak sewaktu ia tampil di Institut Français D’Indonesie, Jakarta, 2 Desember 2017. Malam itu momen konser solo perdananya. Beberapa kali ia bangkit dari kursi, terbata-bata menyelesaikan ramah tamah, bahkan secara terbuka mengaku gugup pada penonton. Barulah ketika ia duduk kembali, kegugupan itu serasa cair; piano sudah mengambil alih jemarinya. Kegugupan yang dia alami wajar sebenarnya. Konser perdana Gigih latihannya cuma sempat dilakukan sehari sebelum pergelaran.

Nyaris sebulan sebelum konser, Gigih merilis album Nyala dirilis label Sorge Records. Ada alasannya mengapa album itu diberi nama Nyala: album ini penggambaran cahaya, harapan baru bagi Gigih. Alumnus Institut Seni Indonesia ini ternyata sempat menderita depresi akut tahun lalu. Sound di album tersebut penuh komposisi yang sinematik, sekilas mengingatkan kita pada karya Ghibli atau gubahan Makoto Nomura.

Mewakili VICE Indonesia, saya menghampiri Gigih satu hari sebelum ia kembali ke Yogyakarta, membicarakan pengerjaan album Nyala, persiapan konsernya, dan rencana selanjutnya bagi musisi berusia 27 tahun itu yang dikenal publik kerap menghasilkan komposisi melodi melankolis.

VICE: Mengapa hanya sehari latihan untuk konser perdana kemarin?
Gardika Gigih: Iya, karena sejujurnya panggung tuh tempat yang baru buatku ya. Karena basically aku komposer, studinya dulu komposer. Sebenernya dari dulu cita-citanya pengen bikin karya aja, terus nanti dimainkan orkestra atau ensemble, di-conduct orang lain juga. Jadi kayak mau fokus bikin karya. Tapi perjalanan waktu membawa pertemuan dengan panggung. Belakangan aku tertarik sama improvisasi. Karena dulu aku belajar hal-hal yang konstruktif, terus belakangan kebiasaan improvisasi waktu awal-awal studi itu terus sekarang kebawa lagi. Dan itu pengin dimanifestasikan di panggung.

Kenapa [latihan cuma] sehari kemarin sebenarnya insidentil. Konser ini berawal dari telepon [dari] mas Remedy Waloni [The Trees & The Wild]. Dulu kenalnya via Instagram gitu, menawarkan untuk remix "Zaman, Zaman" terus setelah itu aku remix terus ternyata mas Remedy suka, antusias dengan hasilnya. Pada akhir September, mas Remedy telepon ngabarin ada program Supersonic di IFI yang sebenernya itu slot untuk The Trees and the Wild, tapi mas Remed bilang tahun kemarin sudah konser di situ juga, terus akhirnya, "mau gak kalau dibikinin acara?" Akhirnya dibikinin acara 2 Desember itu.

Karena passionmu komposisi, andai yang megang piano itu orang lain memainkan lagu-lagu di Nyala berarti tak masalah ya?
Kalau mainin lagu-lagunya Nyala, sejujurnya aku gak tau ya. Cuman ada part-part yang aku kalau main piano enggak pernah sama. Jadi aku ragu-ragu apakah ada orang yang mau seperti itu dan bisa nyampe spiritnya. Kalau khusus untuk piano ya, tapi kalo misalnya untuk strings dan semuanya, itu memang bener-bener struktur komposisi.

Sheet music masih disimpan semua?
Nyimpen, nyimpen.

Jadi kalau dikasih ke orang lain terus bilang, "nih elo pentasin Nyala," bisa dong?
Sejujurnya, aku merasa chemistry itu enggak bisa [diduplikasi]. Misalnya, Suta Pangekshi — yang kemarin main biola — kita udah lama banget kenal. Jadi chemistry, untuk nyambung itu sulit sih. Khusus untuk Nyala, kayak drummernya juga, mas Wasis Tanata, dia sangat detail gitu approach-nya. Kenapa aku milih teman-teman karena aku merasa warna mereka kuat banget. Terus udah ngebayangin gitu, "ini harus dia yang main."

Pas Konser kamu mengaku gugup banget. Dirimu juga mengaku introvert. Sebenarnya masih mau menggelar pentas di masa mendatang?
Ini sudah ada planning ke Surabaya dan ke Malang. Tapi dengan format yang kecil dan lebih intimate. Rencana juga akan kolaborasi dengan Flukeminimix di Bandung, akhir tahun. Terakhirnya baru Jogja sih tahun depan—Maret mungkin, masih lama. Setelah itu sejujurnya, enggak tahu ya. Aku pribadi mungkin akan istirahat dulu.

Setelah kemarin dua kali show di Jakarta, kamu merasa puas?
Yang show pertama, aku merasa sebenarnya bisa memberikan hal yang lebih, tapi itu risiko di stage, risiko momentum. Ada hal-hal yang kita expect, tapi ternyata gak terjadi. Kayak, kita udah bayangin pengen engage di titik ini, kita pengen ngerasain suasana macam ini. Tapi itu ternyata berubah total, malah sebaliknya: Bisa sangat dingin. Jadi show yang pertama benar-benar banyak trial-error nya ya, apalagi bagian improvisasi pertama tuh, itu sangat risky.

Dirimu sering melakukan improvisasi untuk pentas maupun rekaman. Apa alasannya?
Karena ada hal-hal dalam improvisasi tuh seni momentum. Belakangan, orang harus memaksa diri untuk hal-hal yang tertata dan rapih dan dikemas gitu. Kenapa sih harus seperti itu? Bisa gak kita buat satu peristiwa yang tiba-tiba terjadi? Hal-hal yang mengalir tuh menjadi bagian [pentas] loh, jadi satu peristiwa yang kita nikmati bareng.

Apa perasaanmu setelah melihat konser perdanamu kemarin sold out di Jakarta?
Seneng banget perasaanya. Dari awal album ini, aku merasa sebenarnya ibaratnya apapun yang terjadi reaksinya, ya sudahlah. Karena banyak banget eksperimen di Nyala: Abstrak, panjang-panjang dan sangat capek, menguras emosi gitu, butuh konsentrasi. Kalau mau engage, saya seneng banget, tapi kalaupun penonton enggak suka ya gapapa.

Mari masuk ke album perdanamu. Apa tema besar album Nyala?
Cahaya. Abstrak ya? Tapi beneran. Waktu pertama ditawarin [merilis album] sama Sorge tahun 2014, aku baru di dunia album gitu, karena basically aku lebih banyak compose musik klasik, chamber music dan sebagainya. Tiba-tiba kenal Ananda Badudu, kenal Rara Sekar [ex-Banda Neira], jadi bersentuhan dengan folk music, terus kolaborasi. Bersentuhan dengan banyak warna yang baru, terus aku merasa 2014 itu kayak anak-anak yang baru ditawari kesempatan baru. Jadi sangat excited tapi juga naif.

Konsep awalnya tuh tentang rumah sih. Akhirnya bikin sketch materi, itu enggak jadi. Buntu. Pas peristiwa itu, pas momen itu juga, aku mengalami krisis kepercayaan diri. Karena sesuatu lah, karena satu hal gitu yang ngebuat aku krisis dan sangat insecure terhadap karya, terhadap musik juga. Aku sempat mau stop, mau berhenti dulu sejenak. Terus ibaratnya, sempat masa-masa depressed ya. Makanya, album ini intinya cuman ngomongin satu sih: harapan.

Pemicu depresimu eksternal?
Iya, eksternal akhirnya berdampak ke internal. Karena sebagai seniman ada sesuatu yang aku overthinking.

Gimana caranya dirimu menghadapi depresi tadi?
Tiap orang pasti punya krisis kayak quarter-life crisis apapun krisis itu. Kayak gelap banget pikiran kita. Kita kehilangan semangat ngapa-ngapain. Terus kehilangan arah juga, enggak percaya banyak hal. Di titik itu, aku merasa kepikiran sesuatu, aku mulai suka sama cahaya ya. Agak aneh sih, itu cahaya tapi cahaya yang membuat kita hidup gitu loh. Terus aku observe. Setiap seniman pasti punya cara masing-masing untuk berkarya. Aku sering memperhatikan cahaya matahari, cahaya lampu dan sebagainya. Makanya percaya kalau cahaya melambangkan suatu spirit bahwa kita bisa maju. Di saat yang itu, ya Ananda [Badudu] yang paling banyak nemenin. Nanda yang paling banyak support moral.

Dari segi teknis, apa yang paling susah saat mengerjakan Nyala ?
Paling susah tuh malah ketemu energi awal dari setiap komposisi. Ibaratnya kan seniman kayak memanifestasikan semua pengalaman hidup yang dia dapat. Proses kreatif yang paling berat itu merangkum. Semacam Beethoven, kita dengarkan karyanya aja gejolaknya bisa semeledak itu. Kita bisa bayangkan di dalam dirinya kayak gimana ya. Kehidupan yang [Beethoven] jalani memang extraordinary sih, dia tuli, itu kan juga sempat membuat dia ingin mundur [dari musik] juga. Pada akhirnya dia struggle. Dia terkenal karena struggle-nya.

Pada akhirnya, kita bisa bilang kalau itu hal yang paling berat dalam proses berkarya. Setelah itu baru turun ke struktur, ke teknik. Tapi kalau tingkatan teknis yang paling bikin deg-degan sebenarnya menyatukan semua sound. Karena ini udah kebayang tapi tatarannya imajinatif, bayangan. Tapi sound actual nya kan belum ada. Nah itu yang harus di-direct, dimasak dalam latihan.

Rekaman album perdanamu ini live?
Jadi kita latihan 4 kali di rumah, itu waktu bulan puasa kemarin. Latihan cuma 4 kali untuk semua komposisi itu sebenarnya agak serem ya. Banyak hal yang menantang, "apa ini bisa terjadi atau nggak?" Ternyata bisa. Musisinya emang jago banget. Aku beruntung semua dari delapan musisi yang terlibat pembuatan album, langsung bisa match terus tiba-tiba ledakan itu terjadi. Akhirnya, kita bisa rekaman dua hari live gitu [di Universitas Sanata Dharma]. Lega sih.

Merasa khawatir enggak ketika tahu durasi album perdanamu satu jam lebih?
Sejujurnya awalnya khawatir, terus kita mikir urutan tensinya harus dirancang banget. Sekuens per lagunya itu benar-benar butuh waktu panjang untuk berpikir soal sekuens. Bahkan ada track "Lucent" yang silent doang. Itu karena [pendengar] kayak udah capek. Teman-teman terdekat kayak Pepi [Febriann Mohammad, gitaris di album Nyala] atau Gata [Mahardhika, pembuat artwork album Nyala] bilang, "capek ya." Album ini kayak dilempar, jatuh lagi, lempar lagi, jatuh lagi.

Apakah dirimu sudah merasa lebih optimis dan percaya diri sebagai seniman sekarang?
Sebenarnya, kalau masa-masa aku benar-benar merasa lost, gelap, itu sudah berlalu sih. Itu hubungannya sama musik juga sih, tapi terus ada optimisme ke depan. Sekarang aku malah dalam fase yang sedang mempertanyakan juga akhirnya. Sebenarnya habis ini, bisa bikin apa ya buat orang lain? Ketika kita buat sesuatu seperti Nyala yang sebenarnya sangat personal dan akhirnya, yang ngedengerin terus merasa semangat, itu satu bentuk berbagi. Aku merasa next ingin belajar lebih banyak untuk connecting to humans. Tapi tidak mengubah pribadi menjadi extrovert ya; enggak harus menjadi orang lain.

Aku sangat mengagumi sosok mas Wukir Suryadi (Senyawa). Karena menurutku, ibarat lingkaran Zen dia tuh sudah penuh. Dia udah mengalami proses pencarian. Dia bisa enteng banget gitu loh, cuek banget kan orangnya? Kayak sufi ya tatarannya. Dia sudah selesai dengan dirinya. Ya itu sih, [aku] pengin selesai dengan diri sendiri.