Cara Gila Memaksimalkan Layanan All-You-Can-Eat di KFC Jepang
Semua foto oleh Aimee Gibson.
Travel

Cara Gila Memaksimalkan Layanan All-You-Can-Eat di KFC Jepang

Kalau ga kekenyangan makan murah di KFC pas lagi ke Jepang, berarti cara makanmu salah. Nih, kami contohin trik mbungkus ((segalanya)) di resto cepat saji itu sampai mau gila.
20.8.17

Ada dua sisi bertolak belakang yang selalu kita alami pas jalan-jalan dan masih muda. Yang pertama adalah gue bisa gila-gilaan. Yang kedua, gue kere mampus, yang artinya gue harus menginap di hostel paling ancur se-Jepang, makan ramen instan, atau enggak makan sama sekali. Ya, asyik-asyik aja sih, meski kadang ngenes. Gue mencoba mengambil hikmahnya: boleh aja gue tinggal di hostel bobrok di Jepang, yang penting ada KFC all-you-can-eat sekitaran situ. Resto cepat saji itu adalah solusi dari status gue yang kere. Layanan prasmanan di KFC Jepang menyediakan makanan berjumlah tak terhingga. Artinya mereka punya persediaan makanan lebih banyak dari supermarket. Berarti tempat ini bisa jadi lahan kebahagiaan kalau gue jago ngakalin dan mbungkus makanannya sebanyak mungkin buat bekal makan di luar.

Iklan

Gue demen banget memanfaatkan keadaan dan makan KFC, jadi pas banget lah. Gue bisa menyelesaikan persoalan finansial gue, dan sekalian mengeksploitasi prasmanan. Jadi gue sepik-sepik ke pacar, bilangnya mau ngajak dia makan malam romantis. Berangkatlah kita ke… KFC all-you-can-eat.

Hari Pertama

Kemarin gue puasa seharian biar hari ini semakin afdol. Emang gitu, kan, semestinya—puasa sebelum menyerbu prasmanan? Gue enggak sabar pas staf restoran menerangkan peraturannya, udah keburu laper. Dia akhirnya mengantar gue dan si pacar ke meja kosong. Gue bahkan enggak sempet duduk, langsung ke prasmanan.

Gue enggak bisa menyangka ada tempat yang sesuai banget dengan visi gue. Croissant, lasagna, spaghetti, ESKRIM DENGAN DELAPAN RASA dan setumpuk salad yang gue enggak penah bayangin ada di KFC sebelumnya. Ini semua menunggu disantap orang maruk kayak gue.

Siapa sih orang gila yang makan salad di prasmanan KFC?

Full disclosure: kualitas makanannya enggak OK. Pastanya lengket. Kentangnya hambar dan dingin, sedangkan ayam gorengnya kadang enak kadang bikin eneg. Tapi ya mau gimana, gue kan ga punya banyak pilihan makan murah.

Ransel gue isinya penuh kantong plastik dapet dari Pokémon Center. Gue mulai memasukkan makanan ke kantong itu. Satu per satu, pelan-pelan, dan pas enggak diawasi. Sewaktu kami keluar dari restoran dengan perut penuh, tas kami bau ayam.

Masalahnya, bau ini bikin kami mau muntah. Kami begah banget—lagian ngapain coba bungkus sebanyak ini? Jadi gue mulai menawarkan ayam-ayam ini ke penumpang lain di jalanan Osaka. Anehnya enggak ada yang mau ayam KFC yang kami bawa.

Mungkin pendekatan gue salah. Bahasa Jepang gue terbatas, jadi mungkin butuh bantuan teknologi. Gue ngetik "Hai, mau ayam goreng dari tas gue enggak?" di Google Translate dan menunjukkan layar ponsel gue ke orang-orang. Ternyata tetap enggak ada yang tertarik. Gue terpaksa membawa ayam-ayam laknat itu balik ke hostel.

Hari Kedua

Keesokan harinya kami terbangun dengan perut keroncongan dan memakan ayam-ayam ini dalam keadaan dingin. Tapi ternyata ayamnya kurang banyak. Tapi kami enggak mampu ke restoran itu dua hari berturut-turut, jadi gue mulai mikir: ngorek-ngorek tong sampah KFC?

Gue lupa bahwa segalanya di Jepang terurus dengan baik. Ya kali deh, mereka bakal meninggalkan tong sampah besar berisi ayam-ayam goreng di tempat terbuka. Semua sisa makanan mereka dipindahkan ke belakang pintu-pintu metal misterius oleh pejabat pemerintah rahasia, atau bahkan oleh pegawai di sini.

Dikunci dong. Ah elah.

Satu-satunya pilihan ngorek tong sampah adalah tong sampah kecil di depan gedung yang digunakan pelanggan untuk ngambil takeaway. Gue ngorek-ngorek sampai dasar tong tapi enggak nemu apa-apa yang berharga. Setiap ayam digerogoti bersih meninggalkan hanya tulang.

Akhirnya gue menemukan sedikit banget sisa daging ayam di tulang ayam seorang warga Jepang. Ngapain sih gue sampai kayak gini? Ga tahu juga. Tapi awal tahun ini gue nulis artikel tentang White Australian Ibis, yang umumnya digunakan untuk menyebut ayam-ayam di tong sampah. Mungkin memang takdir, gue akhirnya menjadi makhluk yang sejak lama gue coba pahami. Gue sekarang menjadi ayam tong sampah.

Hari Ketiga

Gue duduk di ruang tunggu hostel pada pagi hari, nontonin sesama backpacker menyesap kopi murah. Gue laper banget. Kami semua laper banget, dan gue mikir, "Gue akan melakukan sesuatu yang seharusnya gue lakuin sejak dua hari lalu."

Berkat bantuan pacar, gue membuat kostum Robin Hood buat mengambil (makanan) dari orang kaya, memberikannya ke orang miskin.

Ngomong-ngomong, gue merasa ini waktu buruk untuk ngasih tau kalian bahwa KFC all-you-can-eat itu termasuk bir sepuasnya seharga Rp127 ribu. Anjir lah ini penipuan. Tapi berita buruknya, alkohol bikin gue ngerasa kepedan dan gue hampir ketauan masukin ayam goreng ke tas. Atau gue mungkin gue cuma paranoid. Atau mungkin gue mulai diawasin karena pakai kostum Robin Hood. Enggak tau juga deh.

Di titik ini gue udah eneg banget sama ayam goreng. Gue ingat cuma makan tiga ayam, sisanya masuk ke tas. Gue juga masukin kari-karian. Enak banget karinya, aseli.

Beberapa jam setelah keluar dari KFC, gue masuk ke hostel dengan senyum lebar banget. Gue bakal ngumpulin orang-orang miskin: gue bawa satu tas ayam goreng yang udah anyep. Kita semua bisa makmur.

Enggak usah berterima kasih kawan. Senyum kalian aja udah cukup membayar kerja kerasku kok.

Follow petualangan gila David di Twitter atau Instagram