Kisah di Balik Gagalnya Upaya Merger Manchester United dan Manchester City

FYI.

This story is over 5 years old.

Sepakbola

Kisah di Balik Gagalnya Upaya Merger Manchester United dan Manchester City

Ada banyak cerita serupa di sepakbola Inggris masa lalu. Kami mencari tahu alasan penggabungan klub dilakukan, serta mengapa kebanyakan ide itu berakhir tragis.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports UK.

Merger, alias menggabungkan dua buah klub sepakbola, bukan sebuah keputusan yang populer. Anggapan ini sejak sebelum Perang Dunia tetap langgung hingga era sepakbola modern. Ikatan lokalitas sebuah tim dan fans membuat penggabungan dengan klub lawan lebih mirip pengkhianatan. Merger memang dari sononya—maksudnya dari awal perkembangan kompetisi sepakbola—punya stigma jelek. Langkah menggabungkan dua kesebelasan kadang direspons dengan semakin menguatnya komunitas lokal. Gerakan anti merger tumbuh dengan satu tujuan: memastikan klub kesayangan mereka tidak ditelan oleh klub yang kadang adalah rival mereka sendiri,

Iklan

Tentunya, kadang merger bisa benar-benar terlaksana. Tapi yang hampir pasti ditolak adalah ketika alasannya uang semata. Yang macam ini biasanya tak akan berhasil. Ada beberapa kendala praktis yang dihadapi, terutama ketika berusaha menyatukan dua klub yang berkompetisi di divisi yang berbeda. Malah kadang, kekuatan suporter kedua grup sudah bisa bikin rencana penggabungan dua klub berantakan,

Begitu memang kenyataannya. Dalam satu abad lampau, ada lusisan rencana merger yang sekadar berakhir sebagai wacana karena satu atau lain hal. Beberapa rencana merger gagal saat desas-desusnya bocor duluan ke ranah publik dari rapat-rapat pemilik klub. Yang lain, lebih ironis lagi: diurungkan tatkala menunggu persetujuan Football League Inggris. Salah satu contoh kasus yang pertama—yang ini melegenda sekali—adalah rencana penyatuan dua buah klub di sebuah kota di barat laut Inggris. Kota yang saya adalah Manchester dan dua klub yang hendak dilebur adalah Manchester United dan Manchester City.

Ide gila ini merebak pada tahun 1964. Sudah barang tentu, ide ini bakal langsung ditampik dan dianggap gila saat ini. Minimalnya, wacana ini bakal bikin perdebatan panas di acara talkSPORT. Maksimalnya, ide ini bisa menyulut tawuran massal antara kedua pendudung klub tersebut. Dan percayalah, tawuran yang terjadi bakal penuh darah. Namun di 1964, usulan ini terdengar masuk akal. Kala itu, kenangan akan Perang Dunia II masih segar dan rivalitas fans kedua kesebelasan belum seruncing sekarang. Barangkali, ini karena Inggris baru saja melewati dua konflik global yang melelahkan dan Margaret Thatcher belum jadi orang nomor satu di Inggris. Kini, hanya sedikit ingatan yang tersisanya tentang hubungan adem ayem antara fans Setan Merah dan penggemar loyal The Citizen. Tapi, adalah sebuah fakta bahwa waktu itu, para penggemar sepakbola muda menonton The Citizen minggu ini dan menyaksikan aksi Setan Merah minggu setelahnya. Jelas belaka, hal ini tak terjadi lagi saat ini.

Iklan

Rivalitas kedua kesebelasan asal Manchester makin ketat akhir-akhir ini, terutama setelah Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, konglomerat asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab mengucuri The Citizen dengan dana segar untuk membeli pemain-pemain mentereng. Alhasil, The Citizen mulai bisa mengimbangi Setan Merah di lapangan. Nah, kalau sudah begini, ide penggabungan kedua tim ini yang pernah nongol di 1964 kini terdengar seperti usulan seorang pandir.

Dalam buku Manchester – The City Years, sejarawan sepakbola Gary James menduga bahwa rencana peleburan ini tak lain dan tak bukan ditujukan untuk mengangkat moral pemain dan tentunya fans Manchester City. Dugaan ini diperoleh setelah James ngobrol dengan Eric Alexander. Albert—ayah Eric—duduk dalam dewan pengurus The Citizen selama dekade 1960an. Eric lantas menjelaskan bahwa Frank Johnson—ketua The Citizen saat itu—yang menggagas ide untuk meleburkan kedua kesebelasan. "Sebenarnya kalau ngomongin posisi City di klasemen liga saat itu, posisinya masih lumayan belum separah posisi tahun 1988/1999 (ketika The Citizen bertarung di Divisi 3]," ujar James, "Namun dalam hal moral secara umum, ini adalah masa-masa yang paling menyedihkan bagi The Citizen."

"Pada musim kompetisi 1964/65, [City] berlaga di divisi dua, jumlah suporter lotal tinggal 15.000 orang dan dukungan terhadap The Citizen juga ikut-ikutan menurun."

Keputusan Johnson untuk meleburkan City dengan rival abadi mereka barangkali terinspirasi oleh wejangan populer macam "kalau tak bisa mengalahkan mereka, bersatulah dengan mereka." Tahun itu Setan Merah meraih tropi liga paling prestigius di Inggris sementera The Citizeb terdampar di posisi 11 klasemen akhir di divisi 2. "Ide itu mati muda, dibunuh oleh kedua klub sebelum menyebar ke ranah publik," ungkap James.

Iklan

George Best saat membela Manchester United kontra City di 1967. Sumber foto: PA Images

Seandainya saja penggabungkan dua klub musuh bebuyutan di Manchester itu sampai menjadi kenyataan, barangkali masa sekarang kita bakal menyaksikan sebuah klub raksasa dari Manchester. Mari beralih ke kisah lain. Merger tak selalu melibatkan dua klub besar. Pada Januari 1999, beredar kabar tentang percakapan antara manajemen kesebelasan Bury dan Oldham Athletic untuk membentuk sebuah aliansi. Yang menarik, kedua klub juga bersiap-siap menyatukan kekuatan dengan satu klub lainnya, Rochdale.

Meski terdengar ganjil, gagasan ini didasari sebuah alasan. Ketiga klub tersebut hanya terpisah 16km dari satu sama lain. Namun seperti yang kita tahu, ada dua raksasa yang bercokol di Mancheste, alhasil ketiganya hanyalah remah peradaban semata. Presiden Oldham Ian Stott, yang pertama kali mengutarakan rencana peleburan ini, mengganggap merger sebagai satu-satunya cara agar ketiga klub ini bisa selamat. Rumor yang beredar waktu itu mengatakan bahwa klub hasil gabungan tiga kesebalasan semenjana ini bakal dinamai Manchester North End.

"Yang jelas sih, bakal banyak masalah yang harus dibereskan jika rencana merger ini benar-benar terjadi," ujar Stott pada awak pers. "Pasti banyak fans loyal ketiga grup ini yang bakal menentang mati-matian wacana ini."

Meski terang-terangan mengakui banyak rintangan yang bakal dihadapi, Stott berkukuh melaksanakan rencananya. Sayangnya, rintangan baru datang lagi: sebuah peraturan Football League menyatakan bahwa klub baru hasil merger harus bermain satu divisi lebih rendah dari divisi yang dihuni klub pembentuknya. Saat rencana merger tengah digodok, Bury bermain di divisi 2, Oldham di divisi 3 sementara Rochdale ada divisi 4. Akibatnya, bagi Shakers—sebutan untuk pendukung Bury—merger jelas bukan tawaran yang mengasikkan lantaran mereka harus turun kasta sebanyak dua divisi.

Iklan

Pada akhirnya, rencana threesome merger ini tak kunjung terjadi. Tekad yang diperlihatkan Stott sepertinya sia-sia. Selang hampir dua dekade lamanya setelah rencana fantastis ini digodok, ketiga klub toh masih tetap berjalan-jalan masing. Ketiganya kini sama-sama berlaga di divisi tiga inggis. Terlintas pertanyataan: memangnya kalau Merger terjadi, apakah Manchester North End bisa bersaing dengan Manchester Unitid di Premier League? Entahlah, mana kita tahu. Namun, yang pasti, di tahun 2013, Stott masuk dewan direktur Rochdale setelah mengundurkan diri dari Oldham enam bulan sebelumnya. Rupanya setelah rencana "threesome" gagal total, Stott memilih untuk tukar pasangan.

Masih di kawasan barat lalu Inggris, merger antara Leeds United dan Huddersfileld Town hampir terjadi, hampir satu abad lalu.

Pada bulan November 1919, tersiar kabar bawa Huddersfield tengah dipepet masalah finansial sampai-sampai sebuah surat kabar lokal menulis "The Huddersfield Town Association Football Club sejauh yang kita tahu sudah tamat."

Sebenarnya, permasalahan yang dihadapi Huddersfield baru muncul pasca Perang Dunia I. Setelah perang usai, kompetisi sepakbola kembali digelar. Sayangnya, bagi Huddersfield, mereka tak kunjung mendapatkan suporter yang loyal dan menghasilkan keuntungan. Sampai suatu hari, J. Hilton Crowther, ketua dan penyokong Huddersfield, punya ide cemerlang bahwa kesebelasannya harus meniru kesebelasan rugby dan bisa berdiri sendiri. Tampaknya, hal ini justru susah dilakukan di Huddersfield.

Iklan

Lalu datanglah, Leeds United. Klub ini terbentuk setelah Leeds City dibubarkan karena masalah finansial selama perang dunia pertama. Di kawasan Leeds, saat itu sepakbola adalah cabang olahraga yang populer dan pembentukan tim baru berjalan mulus. Crowther diam-diam mengawasi perkembangan Leeds United dan langsung kesengsem sampai-sampai dia berani mengatakan bahwa klubnya harus dilebur dengan Leeds United.

Dalam sebuah pertemuan pada bulan Desember 1919, nyatanya rencana Crowther disambut baik oleh anggota komite Leeds United Mark Barker, dan keputusan untuk menyatukan kedua kesebelasan disetujui secara mufakat. Tim hasil merger akan bermarkas di Elland Road. Semua pemain Huddersfield akan ditransfer ke sana. Satu-satunya yang tersisa hanyalah persetujuan dari Football League, sesuatu yang dianggap sebagai formalitas belaka.

Tapi penduduk Huddersfield, yang tiba-tiba terancam kehilangan tim yang hampir tak pernah sekalipun mereka tonton, menolak usulan itu. Sekitar 3.000 suporter menghadiri sebuah rapat raksasa yang digelar di sebuah tanah lapang untuk menolak keputsan merger. 500 orang di antaranya pernah menyaksikan Huddersfield mencukur Fullham 3-0 kosong dalam pertandingan divisi 2 sebulan sebelumnya.

Akhirnya, warga Huddersfield diberi jangka waktu sebulan untuk mengumpulkan dana yang telah dikucurkan oleh Crowther. Jika mereka bisa melakukannya, Crowther bakal angkat kaki dari klub kesayangan mereka. Jika sebaliknya, Huddersfield Town bakal dipindah ke Elland Road dan dilebur dengan klub debutan Leeds United.

Iklan

Para suporter akhirnya mengadakan acara penggalangan dana di stadion markas Huddersfield. Penduduk Huddersfield menyesaki stadion itu. Dana yang dibutuhkan untuk mendepak Crowther terkumpul juga. Pada akhirnya, baik Huddersfield dan Leeds United tetap mandiri dan menjalani takdir mereka masing-masing.

Setelah rencana peleburan dua klub ini, peruntungan Huddersfield berubah 180 derajat. Setelah mempekerjakan mantan bos Leeds City Herbert Chapman di 1921, Huddersfield menjadi klub Inggris pertama yang memenangkan piala liga tiga tahun berturut-turut antara tahun 1924 - 1926. Ini membuktikan bahwa warga Huddersfield memang butuh klub sepakbola. Mereka cuma perlu sedikit dorongan saja mewujudkannya.

Setelah urung dilebur dengan Leeds, Huddersfield menjadi salah satu kekuatan besar dalam sejarah Liga Inggris. Sumber foto: PA Images

Walau sekarang dikenal sebagai salah satu tim yang rutin berlaga di Premier League beberapa tahun kebelakang, Stoke City pernah jadi klub antah berantah awal dekade 2000-an. Namun, sesemenjana apapun raihan prestasi The Potters, klub ini adalah kesebelasan terbesar di Stoke-on-Trent. Sementara Port Vale FC, saingan mereka di kota itu, harus berjuang mati-matian untuk menjaga eksistensinya. Siapa menduga, 14 tahun lalu, pernah ada asa untuk menggabungkan keduanya.

Saat itu Vale sedang dirundung masalah finansial. Pemilik Stoke mengusulkan agar kedua klub digabung. Presiden Stoke Gunnar Gislason bahkan berpendapat bahwa merger kedua klub setidaknya masuk akal dari "sisi finansial."

Namun, pendapat ini tak langsung diamini pendukung Vale. Bagi mereka, merger bisa diterjemahkan sebagai akuisisi. Banyak yang percaya ujung-ujungnya Stoke akan menjul Vale Park dan dananya akan digunakan untuk keuntungan The Potters. Merger ini juga ditengarai sebagai akal bulus Stoke untuk memonopoli sepakbola di Stone-on-Trent. Saat rencana merger ini beredar, Stoke-on-Trent adalah kota terkecil di Inggris yang memiliki dua klub sepakbola. Seorang juru bicara Port Vale suporters' Trust menyebut agenda penyatuan kedua klub sebagai "sebagai rencana rapih untuk menjadikan Stoke satunya klub di kota ini dan mendepak Port Vale dari persepakbolaan Inggris."

Iklan

Lagi-lagi, rencana ini abadi tak berbuah apapun—dan ini bukan yang pertama kali. Di tahun 1926, bos-bos Vale sepakat untuk bergabung dengan Stoke demi mengatasi luka-luka finansial yang mereka derita. Pendukung Vale memprotes keras usulan ini. Mereka mengancam bakal membentuk phoenix club aatu parent company baru. Beruntung, rencana merger ini gagal setelah Stoke City terdepak ke divisi 2. Melihat frekuensi munculnya proposal untuk menyatukan kedua klub, kita bisa menduga kalau proposal serupa bakal muncul pada tahun kompetisi 2080/81.

Okay sekarang mari kita bahas sisi-sisi merger yang lebih gelap. Mendiang Robert Maxwell kerap dianggap sebagai "press baron" atau "Media Mogul." tapi ada yang barangkali berang dengan sebutan ini. Di antaranya adalah para pekerja Maxwell. Mereka—yang dana pensiunnya digelapkan Maxwell untuk memperkaya perusahaannya—mungkin diam-diam menyebutnya dengan sebutan yang lebih kotor, menyebalkan dan singkat. Bangsat, bajingan, maling mungkin beberapa opsinya.

Selain dijuluki sebagai "si gembrot idiot" ( The Guardian), Maxwell dikenal terobsesi untuk menggabungkan banyak kesebelasan. Pada 1982, Maxwell menjadi pemilik dan presiden Oxford United. Tak lama kemudian, dia juga membeli 19 persen saham rival Oxford United, Reading. Maxwell kala itu tengah bermimpi membangun sebuah stadion baru di Oxford. Sayangnya, si media mogul tak kunjung menemukan lokasi yang pas.

Iklan

Maka, pada April 1983, ketika Reading dan Oxford sama-sama berjibaku di divisi 3, Maxwell mengumumkan bahwa dia hampir mendapatkan rekan yang sama-sama berminat menyatukan kedua tim di Reading.

"Bila orang Thames Valles ingin mempunyai sebuah klub yang bertanding di liga yang lebh tinggi, pilihannya cuma satu. Kita harus menyatukan Reading dan Oxford," sesumbar Maxwell. "Apapun yang ada di Bumi ini yang tak bisa membiayai dirinya sendiri harus dimerger menjadi sebuah unit yang lebih kuat." Nyatanya, para manajer kedua skuad tak segendang sepenarian dengan Maxwell lantaran rencananya ingin mempertahankan bos Oxford Jim Smith sebagai pelatih klub baru hasil merger, alih-alih memberikan kedudukan itu pada Maurice Evans yang kala itu sedang menukangi Reading.

Jika rencana Maxwell berjalan mulus, maka kedua klub akan tetap bermain sebagai dua klub berbeda sepanjang sisa musim kompetisi 1982/83 dan baru bertanding sebagai Thames Valley Royals di musim berikutnya. Maxwell juga sudah memikirkan markas bagi klub baru ini. Sebuah stadion baru akan dibangun di antara kota Reading dan Oxford. Sampai stadion itu rampung, Stadion Manor Ground milik Oxford dan Elm Park milik Reading akan digunakan bergantian sebagai stadion sementara.

Rencana ini ditanggapi dengan geram oleh suporter kedua klub. Di mata pendukung lokal Oxford, usulan ini dinilai sebagai "sesuatu yang gila dan tak akan pernah beres berjalan" sementara ketua suporter Reading mengatakan "Fans Reading tak tahan duduk bareng fans Oxford. Saya tak bisa membayangkan mereka mau pergi ke Oxford untuk melihat tim baru hasil merger." Reaksi negatif juga kentara di kalangan pers kedua kota.

Iklan

Terlepas dari semua nada sumbang ini, dewan pengurus Oxford secaa mufakat menyetujui proposal Maxwell. Sementara Football League memuji rencana Maxwell sebagai sebuah usulan yang "berani dan imajinatif."

Pendukung Oxford dan Reading menggalang serangkaian demonstrasi menentang rencana merger Maxwell. Dalam sebuah pertandingan kandang Oxford, Maxwell dirisak dan bahkan diludahi. Maxwell berkukuh dengan rencananya.

Maxwell (kanan) dan Presiden Reading Frank Waller bersulang untuk rencana merger mereka yang gagal total. Sumber foto: PA Images

Tatkala merger hampir menjadi kenyataan, sebuah keputusan Pengadilan Tinggi Inggris secara temporer membuat Maxwell tak bisa membeli saham Reading, sebuah syarat yang harus ditempuh agar merger bisa dilakukan. Pada tanggal 2 Mei 1983, kedua tim bertemu di lapangan hijau. Pertandingan itu diwarnai dengan protes besar-besaran. Keputusan Pengadilan Tinggi terus berlaku dan rekan Maxwell di Reading mengundurkan diri dari jabatannya tak lama setelah itu. Dalam sebuah voting untuk memilih antara proposal Maxwell dan proposal tandingan yang memungkinkan Reading tetap independen, proposal kedua menang tipis dan mimpi Maxwell pun bubar.

Maxwell akhirnya mengurungkan rencananya, meski tetap mempertahankan 19 persen sahamnya di Reading. Kendati suporter Oxford merundung rencana merger Maxwell, mereka sebenarnya menikmati masa-masa jaya klub di era Maxwell. The U's—salah satu julukan Oxford United—menikmati promosi ke liga tertinggi di Inggris pada musim kompetisi 1985/86 dan bahkan memenangkan Piala Liga 1986. Maxwell membeli Derby County pada 1987. Di tahun yang sama, dia meletakkan jabatannya sebagai presiden Oxford. Posisinya digantikan putranya. Maxwell tetap menjadi pemilik resmi klub itu sampai dia ditemukan tenggelam di Samudra Atlantik pada 1991. Diperkirakan jatuh dari kapal pesiarnya.

Iklan

Rencana merger juga tak akan menjadi kenyataan jika keluar dari mulut pengembang properti. Lagipula, tak ada hal yang bagus bakal terjadi jika pengembang properti mulai melirik klub sepakbola. Alasannya jelas. Satu hal yang diinginkan pengembang properti adalah mendapatkan tanah lapang untuk bangunan dan mengeruk untung sebanyak-banyaknya. Ini jelas berlawanan dengan keinginan mereka yang duduk di dewan pengurus klub. Inilah yang terjadi di tengah dekade 80an ketika dua kesebelasan dari London Barat dibeli oleh sebuah developer yang kemudian memaksa kedua klub melebur jadi satu. Dua klub itu adalah Fulham dan Queens Park Rangers. Dan nama developer yang tak tahu diri itu adalah Marler Estates yang diketuai oleh David Bulstrode.

Di tahun 1987 Marler memiliki kendali penuh atas kedua klub, namun mata Marler tertuju pada Craven Cottage. Cottage rancangan Archibald Leitch ini adalah salah satu yang tertua dan paling indah di Inggris, dengan bagian depannya yang dibuat dari bata merah dan lokasinya yang tetap berada di sisi Sungai Thames. Tapi, justru lokasi inilah yang jadi pisau bermata dua. Tak terhitung berapa developer yang menganggapnya sebagai lahan ideal untuk perumahan mewah yang tak boleh dibuang-buang untuk kepentingan sepakbola. Bulstrode adalah salah satunya.

Setelah menambahkan QPR dalam portfolio dengan bantuan Jim Gregory— seorang "makelar otodidak garang dan nyaris buta huruf" ( The Evening Standard) – Bulstrode mulai menggagas rencananya. Dalam benaknya, Fulham akan dipindahkan dari stadion yang sudah mereka tempati dari tahun 1896 dan digabungkan dengan seterunya QPR. Tim baru ini bakal diberi nama—Bulstrode memang tak becus dalam mencari nama—Fullham Park Rangers. Markas mereka akan berada Loftus Road dan tentu saja—ini yang penting—Craven Cottage akan jadi perumahan mewah.

Iklan

Sudah barang tentu, rencana ini tak disetujui fans kedua klub. Salah satunya adalah Jimmu Hill, seorang sosok persepakbolaan setempat yang sangat dihormati dan telah menonton 300 pertandingan The Cottagers. Hill berhasil mengumpulkan dana untuk membeli Queens Park Rangers tapi tidak cukup untuk mendapatkan lahan yang dimiliki oleh Marler.

Dalam sebuah pertemuan dengan komite manajemen Football League, diputuskan bahwa rencana merger harus dibatalkan. Pada Maret 1987, Bulstrode terpaksa mengurungkan niatnya meski tetap keukeuh membangun ulang kawasan Craven Cottage. Pria itu meninggal dunia 18 bulan setelah rencana mergernya gagal ("dalam pelukan perempuan berambut pirang," menurut sebuah koran kuning). Bulstrode lebih dikenang dengan menyenangkan oleh fans QPR tinimbang oleh fans Fullham. Namun, kalau sudah menyinggung rencana mergernya, kedua suporter sepertinya tak akan rela jika rencana itu benar-benar jadi kenyataan.

Nyatanya, ini bukan kali pertama QPR hendak dimerger. Mundur 20 tahun sebelumnya, tepatnya pada 1967, pernah muncul sebuah usulan untuk melebur the Cottagers dengan Brentford. Sementara di 2001, QPR pernah juga ada gagasan untuk menggabungkan QPR dengan Wimbledon.

Namun, apa yang terjadi pada Dons—julukan Wimbledon—justru lebih tragis: klub itu direlokasi ke Milton Keynes di 2003. Perpindahan ini punya akar jauh di 1979 ketika pemilik Wimbledon saat itu Ron Noades membeli Milton Keynes City FC seharga £1 dan mengangkat beberapa direktur Dons untuk posisi yang sama di Milton. Noades kemudian mengaku bahwa dia sempat bicara dengan beberapa anggota Milton Keynes Development Corporation tentang peleburan kedua klub. Rencananya, Dons akan dipindah ke Buckinghamshire, bakal seterusnya menggunakan nama Milton Keynes namun bertanding di divisi yang ditempati Wimbledon. Rencana ini gagal total di asa Noades. Alhasil, Noades melego Milton setahun kemudian. Tak lama, Noades juga meninggalkan Wimbledon, menjual sahamnya di Wimbledon ke Sam Hammam di 1981. Noades lantas membeli Crystal Palace.

Mimpi merger bagi Noades sudah menguap. Namun, pada 1987, Noades dan rekanan bisnis lamanya Hammam duduk bareng untuk membicarakan peleburan Palace dan Wimbledon. "Sebenarnya Wimbledon, Palace dan Charlton sudah bicara tentang rencana merger," Noades mengingat apa yang terjadi saat itu. "Tapi, tak terjadi apa-apa."

Ron Noades, yang menggagas perpindah Wimbledon ke Milton Keynes dalam sebuah rencana merger di 1979. Sumber foto: PA Images

Dilihat dari sisi manapun, rencana-rencana merger yang sudah kami ulas panjang lebar sebelumnya memang susah terwujud. Fans klub-klub yang hendak digabung sebagian tak rela klubnya dilebur. Alasan ini gampang sekali dipahami apalagi jika mengingat beberapa suporter sudah mendedikasikan hidupnya bagi klub. Jelas, mereka tak mau identitas klubnya—dan dalam beberapa kasus sudah menjadi identitas diri mereka—hilang begitu saja karena merger. Lebih dari itu, merger biasanya digagas oleh dua tim dalam satu kota—Town dengan Rovers, City dengan United—tapi sejarah mencatat bahwa perseteruan paling keras kadang terjadi antara dua tim sekota. Menyatukan dua tim seperti ini sama saja dengan memusnahkan kesempatan fans menyaksikan pertandingan paling penting dalam hidup mereka.

Yang juga kerap terlihat dalam rencana merger dua tim sepakbola adalah keputuan merger diambil bukan untuk memajukan sepakbola. Mengusir Fulham dari Craven Cottage dan meleburkannya dengan QPR tidak didasari dengan niat luhung memajukan kedua klub. Niat aslinya adalah untuk mendapatkan sepetak tanah di tepi sungai Thames yang bakal menghasilkan keuntungan bagi pengembang properti.

Tapi sebenarnya selalu ada proposal merger yang tak sepenuhnya konyol. Menggabungkan tiga klub medioker menjadi Manchester North End jelas akan mendatangkan banyak masalah, tapi apakah klub hasil merger ini bakal banyak bicara di persepakbolaan Inggris? Bisa jadi, tapi klub baru ini bakal banyak ditinggalkan fans. Jelas, ini harga yang terlalu mahal yang harus dibayar ketiga klub.

Namun, ada catatan menarik dalam sejarah usulan merger dalam sepakbola Inggris. Dua pebisnis yang pernah dengan cemerlang mengusulkan pembentukan "Fulham Park Rangers" dan "Thames Valley Royals" mati mengenaskan hanya beberapa tahun setelah rencananya gagal. Barangkali ada nasihat yang bisa kita ambil dari sini—terutama bagi para pengusaha kemaruk: jangan sekali-kali main lebur dua grup seenaknya atau karir anda berakhir tragis seperti Bultrode dan Maxwell.

Follow dan simak celoteh penulis artikel ini tentang sepakbola di akun @Jim_Weeks