Musik

Jangan Samakan EDM Dengan Musik Elektronik, Mulai Dari Sekarang!

Please, jangan bikin malu deh.
26.10.16

Hei, sudah dengar musik EDM sudah mati? Ya M.A.T.I. Tapi bukan berarti musik elektronik ikut-ikutan masuk liang kubur. Tidak seperti ditulis jurnalis yang bermaksud baik namun kurang gaul, EDM dan musik elektronik bukan dua hal serupa.

Minggu lalu, The Spectator, majalah sayap kanan inggris yang punya sejarah membenci pesta rave menurunkan berita matinya Electronic Dance Music. Ada beberapa alasan yang bisa diamini dalam artikel ini, salah satunya mengklaim EDM dalam bahaya karena SFX Entertainment—salah satu perusahaan yang menguasai festival EDM kelas kakap dan mekanisme distribusi EDM—baru saja gulung tikar. Untuk yang satu ini, saya akui liputan The Spectator sangat akurat.

Iklan

Sayangnya, artikel itu lantas masuk jebakan batman yang susah dihindari media kolot ketika menyigi budaya anak muda yang tak pernah mereka pahami sepenuhnya—mereka mencampuradukkan semua genre elektronik dengan industri lifestyle mewah yang kerap dikenal dengan nama EDM. Lantas, karena mereka tak mau repot-repot membuat reportase yang bagus, mereka lantas dengan enteng bilang EDM sudah sekarat. Laptop dan synthesizer pada suatu masa akan hilang karena seperti batu akik atau tren-tren sesaat lainnya.

Sebenarnya saya malas menulis soal ini, namun EDM dan segepok genre musik elektronik lain yang dibuat dengan instrumen khas elektronik tidak setali tiga uang. Etimologi "EDM" pun masih gelap, meski menurut kritikus musik Joshua Glazer (yang juga kontributor THUMP) dalam tulisannya di Cuepoint, "EDM adalah istilah yang digunakan korporasi menjejalkan pelbagai macam bunyi dalam satu bungkus agar mudah dijual." Istilah ini pertama kali muncul pada 1985 di Amerika Serikat dan mulai dikenal luas akhir dekade 2000an.

Waktu itu, EDM, dalam arti sebuah pengelompokan musik, dijadikan nama untuk menyebut dance music ditandai big drop dan nilai produksi yang gila-gilaan dan kerap dimainkan di arena luas; EDM dipopulerkan misalnya oleh Skrillex, deadmau5, Sebastian Ingrosso, dan Axwell. Musisi-musisi itu baru beken sekitar 2010-an, sementara musik klub sudah ada dari dekade 1970-an ketika demam disko melanda New York.

Iklan

Seperti sudah diketahui pembaca THUMP, EDM cuma mewakili secuil dari seluruh ranah musik elektronik yang luas. Techno, house, dan dubstep—atau bahkan subgenre ajaib macam nightcore, witch house, dan schranz—terdengar berbeda satu sama lain, punya penggemarnya sendiri, dan lahir di pojokan bumi yang berbeda. Saya masih tak percaya saya harus menulis kalimat barusan. Entah apa alasannya, konsep ini masih belum dipahami jurnalis yang doyan menulis opini berbau kiamat di koran-koran arus utama.

Tulisan malas semacam itu adalah contoh jurnalisme seni parasut dalam bentuk yang paling bodoh. Menulis sebuah scene bermodal sedikit fakta scene ini sukses beberapa orang jadi super tajir (dengan kekayaan sebanyak Rp. 860 triliun, Calvin Harris adalah satu-satunya DJ yang masuk daftar musisi terkaya Forbes tahun lalu)—atau karena fans musik elektronik sekarat setelah overdosis di berbagai festival (sesuatu yang dianggap oleh ahli kesehatan sebagai istilah yang kurang tepat)—tak akan bisa menghasilkan reportase bagus.

Salah satu alasan paling kentara kenapa EDM disamakan dengan Dance Music ya mungkin karena namanya saja bikin bingung, Electronic Dance Music. Dibaca sekilas, istilah ini sepertinya cocok mendeskripsikan seluruh subgenre musik eletronik. Lagi pula, kita sedang bicara tentang musik elektronik yang didesain sebagai dance music. Jadi, pada dasarnya istilah EDM bisa dimaafkan walau tetap saja kurang tepat. Tentunya, bagi mereka yang mafhum musik elektronik, membariskan electronic bersama dance music bisa bikin kita terlihat bego. Ya kira-kira mirip kalau ayah anda menelepon terus bilang "Halo, ayah nih." Ya iyalah Yah, aku tahu siapa yang nelepon, wong ponsel pintar masa kini pasti punya layar digital yang munculin nomor penelepon, hellloo!

Yang paling bikin kesel dari artikel ini adalah pengaruhnya pada mereka yang tak tahu banyak tentang dance music. Karena mereka yang paham betul dance music, pasti tertawa terbahak-bahak saat membaca liputan kacrut seperti ini. Di luar lingkaran ini, misinformasi menyebar dan mitos mulai muncul. Sejarah dance musik terancam ditulis ulang! Akhirnya, kita bisa saja Cuma melihat varian komersil versi kulit putih dari dance music sementara asal-muasalnya dari komunitas kulit berwarna diabaikan. Cuma gara-gara musisi dance music membuat musik dengan piranti elektronik, bukan berarti mereka juga harus punya ambisi korporat atau akhirnya bikin beberapa orang meregang nyawa di festival-festival. Kalau begini, kita akan kehilangan semua produser muda yang menggunakan piranti modern untuk mengekspresikan diri.

Pada akhirnya, saya pikir pangkal masalahnya adalah technophobia — ketakutan akan komputer, akan musik yang terdengar aneh karena berbeda dan didengarkan oleh segerombolan orang yang berbaju aneh. Pendekatan serampangan macam ini tak bisa anda gunakan saat meliput komunitas lain atau suatu fenomena budaya. Saat seseorang — mau elit media atau siapa pun itu — tak memahami sesuatu, lebih gampang baginya untuk mengacuhkan atau mencemoohnya alih-alih berusaha memahaminya. Yang ingin saya garis bawahi adalah kita memang sebaiknya membiasakan diri menggali sesuatu yang tak kita pahami, alih-alih mencacinya tanpa juntrungan yang jelas.

Anna Codrea-Rado adalah News Editor THUMP. Ia aktif di Twitter.