Bagaimana Rasanya Jadi Seorang Model Instagram
Fashion

Bagaimana Rasanya Jadi Seorang Model Instagram

Bagi banyak perempuan muda, ini adalah cara untuk jadi kreatif—masalahnya, berapa banyak dari perempuan itu yang bisa hidup dari foto berhashtag
7.8.16

Artikel ini pertama kali terbit VICE UK.

Pada suatu pagi rabu, bulan Juli lalu, saya mengamati seorang perempuan yang relatif tidak terkenal bersiap-siap menjalani sesi pemotretan di apartemennya di wilayah timur laut London. Tak ada backdrop. Tak ada tim hair dan make up. Di samping kamera, tak ada perkakas tambahan apalagi seorang asisten. Yang juga tidak saya lihat adalah klien dan media yang memesan foto sang perempuan.

Iklan

"Kamu harus pakai lipstick yang kamu pakai di postinganmu," Ujar fotografer yang hendak memotret sang model berumur 22 tahun, Emma Breschi.

"Oh, yang Kylie Lip Kit ya?" Emma segera bertanya. "Yang itu susah dipakainya, tapi okay deh."

Emma menyebut dirinya seorang model Instagram—jangan samakan Emma dengan seorang model biasa di instagram seperti Gigi Hadis dan Kendall Jenners yang menggunakan instagram untuk mempromosikan karir modeling tradisional mereka. Sementara Emma bilang ia menggunakan platform Instagram sebagai kendaraan untuk perluasan karir, ekspresi kreatif dan alat mengumpulkan pundi-pundi uang. Bagaimana semua ini bekerja—dan untuk tujuan apa—adalah bagian dari instagram modelling yang masih tidak jelas

Seturut kata-kata Emma sendiri, ia tak memiliki postur tubuh yang pas untuk melakoni baik itu modeling konvensional atau plus size modelling. Ia memiliki seorang agen komersial, namun juga memanfaatkan sosial media untuk mendapatkan perhatian penyewa yang biasanya tidak bekerja dengan model berpostur seperti Emma. Ia mempost caption tentang "Body-confident" yang penuh hastag di Instagramnya—"Pesan untuk diriku di umur 13: Emmerz, santai saja ini cuma bikini. JADI PAKAI SAJA, SAYANG!"—caption ini membuat Emma kebanjiran pujian dari followernya dan tawaran kerja serta busana gratis dari merk yang ingin menunggangi pesan itu.

"Jika ada orang yang menawarimu banyak uang untuk membuat foto, kamu bakal ambil apa nggak?" Emma menodongkan pertanyaan ini pada saya. "Tergantung merknya sih, tapi aku akan melakukannya bila merk itu punya kaitan dengan apa yang saya percayai. Saya gak butuh uang buat beli barang mahal, aku cuma butuh untuk hidup. Kalau sebulan beberapa tawaran kerja bisa aku dapatkan setidaknya sewa apartemen sudah aman."

Iklan

Hari ini, ia sedang menjalani "test shoot" dengan Simone Steenberg, seorang fotografer fashion & potrait dari Denmark. Mereka pertama kali berkomunikasi lewat fitur DM di Instagram. Tak satu pun dari mereka akan dibayar untuk pekerjaan ini. Namun, nanti ketika mereka mempost hasilnya, mereka akan mentag satu sama lain di Instragram. Mereka lebih memilih untuk meluaskan "pengaruh" daripada menambah kocek mereka.

Jika semua pekerjaan Emma tak berbayar seperti test shoot, jelas Emma tak akan punya penghasilan. Tapi nyatanya tidak. Emma juga membuat foto untuk merk-merk seperti House of Sunny, NOE Garments, dan Ukulele Fashion—ia bahkan pernah jadi model untuk beberapa merk itu.

Kalau lagi beruntung, dalam sebulan, Emma bisa mengumpulkan beberapa puluh juta rupiah dari fotografi dan modeling. Pendapatannya toh memang belum stabil. Walhasil, untuk menyambung hidup, Emma bekerja di pub dekat apartemennya. Pemilik pub mengenali Emma dari foto-fotonya yang agak "ehm, mengundang."

Sejatinya, Emma tak pernah berniat jadi model. "Semua orang yang aku follow biasanya wanita keren yang gak peduli orang mau ngomong apa. Ini membuatku berpikir Mungkin, aku bisa nyoba hal yang sama," Jelas Emma. "Gak ada rencana jadi model. Aku memandang diri saya sebagai pencipta-image. Apa yang aku lakukan di depan kamera pada akhirnya bikin aku orang yang lebih baik di belakang kamera."

Ada banyak "kalimat kreatif" yang samar seperti ketika saya ngobrol dengan Emma, sesuatu yang bikin kaget ketika pertama kali masuk dunianya. Saya sebelumnya berpikir semua perempuan yang menyebut dirinya model Instagram sebenarnya mencari dan memanfaatkan ketertarikan lawan jenisnya untuk mencapai kepopuleran. Nyatanya ini tidak terbukti. Para model instagram menggunakan platform ini sekedar sebagai alat mencapai tujuan.

Hal yang sama saya temui ketika berjumpa model instagram berumur 19 tahun Daisy, atau @PinkandTonic. Daisy, seorang mahasiswi Oxford University, sadar ia tak punya postur tubuh proporsional untuk menjadi model konvensional, namun ia melihat modeling sebagai batu lompatan menuju kerja kreatif lainnya—mendesain busana atau jadi pengarah gaya. "Jika aku sudah punya banyak follower, apapun yang aku lakukan, aku tahu kemana aku harus memasarkannya."

Iklan

"Saya tak tertarik dengan komentar cowo," lanjutnya. "Bukan semata karena mereka cowo, ini masalah komentar yang mereka buat. Komentar dari cewek biasanya gini 'OMG, wah lucunya. Saya suka bajunya, kamu keliatan keren deh. Sementara komentar cowo paling ya emoji nyengir dan api. Pokoknya bedanya jauh."

Keduanya mungkin berbeda, namun dunia fotografi model Instagram masih berkutat pada laki-laki menikmati tubuh perempuan, sembari memotretnya. Konsep ini sudah mengakar dari tahun 2000an ketika pacar seorang fashion blogger mulai bertugas memotret kekasihnya dalam berbagai busaha—sila lihat kasus—see Rumi Neely, Aimee Song, dan Chiara Ferragni.

Salah satu foto dari Test Shoot Simone Steenberg.

Saat ini, seorang "Model Instagram" dipandang sebagai perempuan di umur 20an yang manyun saat difoto dan kerap mengandalkan fotografer pria yang sudah punya nama untuk meroketkan karirnya. Di beberapa kasus, ini bisa jadi biang masalah: Bleebluu, fotografer kenamaaan asal Amerika, dituduh telah memaksa model remaja untuk melakukan pemotretan telanjang di ruang publik tahun lalu dalam sebuah postingan Tumblr (Bleeblu telah membantah tuduhan ini). "Waktu itu, saya gadis 19 tahun yang gamang dan naif," tulis sang model, "dan ia fotografer terkenal berumur 27 tahun yang berpengalaman. Ini membuat saya gampang terbujuk, meski ketakutan."

"Saya pikir beberapa [Fotografer] melakukan eksploitasi hanya gara-gara mereka punya kamera dan follower yang banyak," kata Dean Martindale, seorang fotografer yang memulai karirnya di Instagram. Ia telah memfoto Emma beberapa kali dan kini tengah bekerja untuk beberapa merk komersial. "Ada gadis-gadis yang mau dipotret oleh orang yang jumlah followernya 200.000 bukan kerena portofolionya tapi karena mereka tahu mereka juga akan kecipratan follower. Namun karena Ini industri yang amat kecil, beritanya ya tersebar juga."

Iklan

Merujuk standar kepopuleran di Instagram, baik Emma dan Daisy punya follower yang tidak terlalu besar, 4.400 dan 2.400, secara berurutan. Demi mendapatkan cerita dari seorang dengan follower yang lebih besar, saya menghubungi Charlie Barker, seorang model berumur 20 tahun dari Nottingham. Followernya kini sudah mencapai angka 600,000. Ia ditemukan di Instagram dan dikontrak agensi modelling, Select, di 2014.

Alih-alih menghubungi Barker via fitur DM, saya mengkontak Charlie lewat agennya—sebuah pertanda bahwa ia tak lagi model kelas instagram. Meski demikian, lewat sebuah email, Charlie membeberkan bahwa saat ini seorang model bisa hidup dengan mengandalkan instagram semata, asal mereka mau menerima semua tawaran produk yang mereka terima—"sering promosi teh detox—daripada terlalu pilih-pilih produk. Namun, bila perwakilan agensi menghampiri, seperti dalam kasus Charlie, fanbase yang besar bisa berarti kekuatan tawar dan kemampuan kreatif yang dimiliki seorang model bisa jadi lebih besar dari model biasa.

"Ketika pertama kali dikontrak, modeling and kegiatan instagram saya sangat terpisah," katanya. "Meski saya menjaganya terpisah, klien saya melihat kreativitas di laman instagram saya dan ingin lebih dari sekadar model."

Meski followernya tak mencapai level Charlie Barker, sekali anda bicara dengan Daisy and Emma, anda bisa beroleh impresi bahwa popularitas bukan segalanya. Foto yang mereka post toh bukan foto haus perhatian, dengan bokong di arah ke arah kamera ponsel, guna dapat tiket masuk Lovebox Festival. Foto-foto mereka diunggah dengan rencana karir cerdas yang dibangun di atas raikan "like." Daisy menikmati modelling "seperti saya menikmati belanja—itu bukan berarti itu satu-satunya yang ingin saya lakukan di dalam hidup."

"Instagram sudah jadi bagian besar dari—saya nggak mau bilang kehidupan saya tapi bisa juga sih—apa yang hendak saya capai," ujar Emma. "Tapi, saya tak sekadar seorang model."

Follow Rosie dan Jake di Twitter.