Rusia dan Amerika Serikat Berkolaborasi Demi Misi Ambisius Mencapai Venus
Misi Venera-D. Sumber gambar: NASA/JPL-Caltech

FYI.

This story is over 5 years old.

Misi Luar Angkasa

Rusia dan Amerika Serikat Berkolaborasi Demi Misi Ambisius Mencapai Venus

Proyek Venera-D diharapkan bisa mengirimkan pesawat luar angkasa ke orbit Venus.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Venus adalah planet yang terdekat dengan bumi, baik secara harfiah—karena lokasinya yang paling dekat—dan dalam perihal ukuran dan massa. Oleh sebab itulah Venus kerap dijuluki "Kembaran planet Bumi."

Tapi mengingat Venus memiliki suhu rata-rata 462 derajat celsius yang mematikan, tekanan 90-bar dan awan karbon dioksida yang bercampur dengan hujan asam sulfat yang mecekam, tidak heran apabila Venus tidak sepopuler Mars sebagai planet tujuan eksplorasi. Memang benar bahwa beberapa misi ke Venus sempat dibatalkan demi misi ke planet lain, asteroid dan tempat-tempat yang lebih 'ramah'.

Iklan

Kini, NASA dan Space Research Institute (IKI) milik Russian Academy of Sciences tengah bekerja sama dalam sebuah proyek disebut Venera-D. Proyek tersebut berusaha membuktikan bahwa Venus layak menjadi target eksplorasi karena planet tersebut memiliki efek gas rumah kaca yang menyebabkan kondisi planet tersebut 'tidak ramah' dan diharapkan bisa memberi jawaban atas masalah serupa yang dialami planet Bumi.

Saya mengunjungi IKI di Moscow tanggal 1 Maret untuk mempelajari proyek Venera-D lebih lanjut dan misi-misi lainnya. Biarpun kini IKI tengah sibuk mencoba mendarat di Mars, menggunakan rover ExoMars 2020, jauh sebelum Venera-D akan diproyeksikan mendarat di Venus, tetap saja banyak antusiasme mengenai misi untuk menyambangi planet kembaran Bumi tersebut.

Penulis artikel ini saat mengunjungi Fasilitas Penelitian IKI.

Dua minggu setelah kedatangan saya, juru bicara NASA, IKI, dan badan luar angkasa Rusia Roscosmos mengadakan pertemuan membahas lebih jauh kolaborasi mereka dalam Venera-D, proyek yang awalnya diajukan oleh ilmuwan keplanetan Rusia, Vasily Moroz di 2003.

Kerjasama Rusia/AS tersebut dimulai di 2015 dan dinamakan Venera-D Joint Science Definition Team (JSDT). Di Januari 2017, JDST merilis laporan detail tentang tujuan mereka mencapai Venus, termasuk observasi jangka panjang permukaan planet tersebut, pengukuran komposisi dan aerosol atmosfer planet, dan solusi akan misteri rotasi atmosfir Venus, fenomena dimana kecepatan angin di Venus melebihi kecepatan rotasi planet sebanyak faktor 60.

Iklan

"Saat ini, [Venera-D] masih berada di fase konseptualisasi," kata ilmuwan Jet Propulsion Laboratory NASA, David Senske, salah satu ketua Venera-D JSDT AS, lewat sebuah wawancara telepon dengan Motherboard. "Ini belum misi resmi. Kami masih menelaah konsepnya."
"Fase berikutnya akan berfokus di penyempurnaan sainsnya, bagaimana kita bisa menangkap elemen sainsnya dalam hal instrumen, dan pihak Rusia akan lebih berfokus mengerjakan konsep misinya," katanya.

Ilmuwan keplanetan IKI Ludmila Zasova, ketua JSDT Rusia mengatakan pertemuan bulan Maret tersebut "sangat sukses."

"Keputusan untuk mensponsori proyek ini selama dua tahun ke depan (2017-18) diambil oleh NASA dan Roscosmos," kata Zasova lewat email. "Upaya kami sangat dihargai saat itu, jadi kami harap kami selangkah lebih dekat merealisasikan misi ini."

Zasova menyatakan tanggal potensi peluncuran terdekat adalah 2026.

Venera-D akan melanjutkan program Soviet Venera yang berlangsung dari 1961 hingga 1984, dan masih menjadi satu-satunya seri penerbangan luar angkasa yang berhasil mengirimkan foto dan informasi dari permukaan Venus.

Permukaan Venus difoto oleh Venera 13. Sumber: Russian Federation/National Space Science Data Center/NASA

Venera-D juga akan melanjutkan misi Soviet Vega kembar dari pertengahan 1980an, yang mencakup balon atmosfir dan komponen landers. Sejarah Rusia yang penuh dengan eksplorasi Venus diwujudkan menjadi nyata lewat mockup landers dan balon yang digunakan di misi terdahulu di museum IKI.

Inkarnasi terbaru misi ini didesain untuk melampaui misi-misi sebelumnya dengan cara menggabungkan teknologi tercanggih kedalam platform pesawat luar angkasa yang dapat bertahan selama beberapa bulan, atau bahkan tahun di dalam orbit, atmosfir maupun permukaan Venus. "D" dalam Venera-D merupakan kependekan dari "Dolgozhivuschaya," yang artinya "berumur panjang."

Iklan

Misi dasarnya adalah orbiter dan lander, tapi elemen tambahan bisa mencakup "sebuah platform udara dengan batere tenaga surya yang terbang di awan, stasiun kecil berumur panjang (bertahan beberapa bulan) di permukaan Venus, dan sebuah sub-satelit di orbit," jelas Zasova.

Platform udara ini disebut Venus Atmospheric Maneuverable Platform (VAMP) dan kini tengah dikembangkan oleh perusahaan dirgantara Northrop Grumman. VAMP diproyeksikan dapat menghabiskan setahun terbang di atas Venus di ketinggian 50 hingga 70 kilometer dengan kondisi yang ternyata mirip dengan Bumi, kontras dengan kondisi neraka di planet tersebut.

Ini merupakan kemajuan untuk proyek Venera-D yang telah beberapa kali diundur dalam satu dekade terakhir. Catatan misi mengatakan bahwa misi telah terhambat akibat sulitnya pengadaan perangkat elektronik bertemperatur tinggi yang bisa bertahan melalui kondisi planet Venus yang tida kramah. Perangkat-perangkat ini tengah dikembangkan di periode Soviet, tapi produksi di Rusia anjlok ketika Venera-D diajukan ke Russian Academy of Sciences di awal 2000an.

"Misi ke Venus itu sulit sekali," kata Senske. "Lebih mudah menciptakan teknologi yang bisa bertahan di keadaan dingin ekstrem, seperti untuk Mars, tapi menciptakan perangkat yang sanggup melalui suhu panas ekstrem itu sangat sulit." Mendesain rover seperti Opportunity atau Curiousity yang sanggup bertahan beberapa tahun di bawah cuaca Mars yang sangat dingin jauh lebih mudah daripada membangun sebuah robot yang bisa bertahan melawan temperatur panas Venus yang sanggup melelehkan timah.

Iklan

Tibor Kremic, seorang insinyur listrik di Glenn Research Center NASA tengah berusaha mencari jalan keluar masalah tersebut. Sebagai kepala ilmuwan di proyek lander Long Life Station Venera-D, Kremic berusaha menemukan sistem elektronik anti-panas yang bisa bertahan di permukaan Venus paling tidak selama dua bulan—biarpun secara teori, stasiun ini mestinya sanggup beroperasi selamanya.

"Gol kami untuk Venera D adalah untuk menciptakan perangkat yang sanggup bertahan paling tidak selama 60 hari sehingga kami bisa mengobservasi transisi siang-ke-malam-hari dan melihat bagaimana kondisinya berubah nanti," jelas Kremic lewat telepon. "Orbiternya dimaksudnya untuk bertahan selama tiga tahun, kalau kami berhasil, hasilnya akan luar biasa."

"Mungkingkah efek rumah kaca yang tidak terkontrol akan membuat permukaan bumi menyerupai venus di masa depan?"

"Apapun yang bisa bertahan lebih dari beberapa jam adalah sebuah kemajuan," tambahnya, merujuk kepada rekor yang dibuat Venera 13 yang mendarat di Venus di 1982, mengirimkan imej dan data Venus kembali ke Bumi selama 127 menit sebelum akhirnya hancur akibat serangan panas, tekanan dan racun planet tersebut.

Konsep Long-Life Station mengandalkan silikon karbida yang kuat sebagai "tulang punggung perangkat elektroniknya," kata Kremic, berbeda dengan sistem silikon yang terpasang di lander sebelumnya. Versi awal modul ini telah dites di simulator Venus di Glenn dan hasilnya memuaskan.

Iklan

"Elemen dasarnya bisa bertahan selama beberapa ribu jam dan kami tengah mencoba mengembangkan perangkat yang lebih rumit, dimana anda bisa melakukan mengukuran, memproses data dan mengirimkannya kembali," kata Kremic.

Simulasi kawasan Maat mons di Venus. Gambar oleh: NASA.

Perangkat yang bisa bertahan lama di Venus akan berpotensi menjawab banyak pertanyaan sains umat manusia. Sebagian besar misteri terbesar di luar angkasa tersembunyi di balik tebalnya atmosfir planet. Contohnya? Identitas "penyerap ultraviolet misterius" yang memakan sinar UV di atmosfir, atau mekanisme yang mengatur efek rotasi planet Venus. Periode satu hari yang lama di Venus—setara dengan 243 hari di Bumi—juga membutuhkan modul yang sanggup bertahan lama untuk bisa diobservasi.

Tim Venera-D juga berharap bisa memahami masa lalu planet Venus yang misterius, termasuk kemungkinan bahwa Venus penuh dengan air di masa pembentukannya. Ada spekulasi bahwa Venus mungkin saja planet pertama yang menjadi rumah organisme kehidupan di tata surya dan tentunya bisa menjadi kunci jawaban bagi kelangsungan masa depan planet Bumi, menurut Zasova.

"Planet kembar, Bumi dan Venus, memiliki komposisi material planet yang mirip di periode pembentukannya," jelasnya, "tapi tetap saja mereka memiliki atmosfir dan permukaan yang berbeda sekarang. Memang Bumi memiliki iklim yang nyaman sementara Venus 'tidak ramah huni'. Tapi pertanyaanya, apakah efek rumah kaca yang tidak terkontrol bisa mengubah iklim Bumi seperti Venus kelak?"

Senske juga tertarik menjadikan Venus sebagai analog Bumi. "Kenapa Venus tidak seperti Bumi?" tanyanya. "Untuk bisa mengerti bagaimana tata surya terbentuk dan berevolusi—dan apa yang membuat sebuah daerah layak ditinggali dalam tata surya—Venus adalah kunci dari teka-teki tersebut.

Setelah bertahun-tahun ditangguhkan demi misi Mars dan lainnya, "Venus kini menjadi prioritas," kata Senske.