Generasi Terakhir Kaum Trans Setengah Dewa Sulawesi
LGBTQ di Indonesia

Generasi Terakhir Kaum Trans Setengah Dewa Sulawesi

Di perbukitan Sulawesi Selatan hidup sekumpulan Bissu: kaum trans bergender non-biner mengabdi sebagai imam besar populasi Bugis setempat. VICE bercengkerama dengan generasi bangsawan trans terakhir Indonesia yang semakin terdesak keberadaannya.
1.3.17

Topik gender nonkonformitas memenuhi headline berita di berbagai negara. Banyak orang membela mereka yang hidup di luar gender biner laki-laki dan perempuan, sedangkan sisanya menganggap hal tersebut sebagai penghinaan terhadap norma sosial masyarakat. Dalam kebudayaan asli Indonesia, konsep gender ini sebetulnya sejak lama telah diterobos. Contohnya adalah perluasan spektrum gagasan gender yang diterapkan selama berabad-abad oleh orang Bugis Segeri. Sayangnya, baru-baru ini kelompok yang tidak terjebak batasan gender di sana sedang menghadapi intimidasi. Skala intimidasinya bahkan cukup serius, membuat mereka terancam punah selama-lamanya dari Indonesia. Segeri adalah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Pangkajene, Sulawesi Selatan, tempat tinggal Bissu selama berabad-abad. Di antara 300 kelompok etnis di Indonesia, Bugis merupakan salah satu yang terbesar. Bugis pula satu-satunya yang memiliki konsep unik terkait gender. Kebudayaan Bugis mengakui adanya lima gender, yakni Calabai (laki-laki feminin berpakaian sebagai perempuan), Calalai (perempuan maskulin berpakaian sebagai laki-laki), dan Bissu (pendeta sekaligus imam besar tanpa gender). Tiga gender ini melengkapi Makkunrai (perempuan) dan Oroané (laki-laki). Sejak abad ke-13, Bissu adalah perwakilan paling agung dari Kerajaan Bugis. Dulu, Bissu tinggal di istana kerajaan dan berperan sebagai abdi dalem bagi raja-raja Bugis. Bissu merupakan konsep yang berasal dari La Galigo. Kitab tertua kebudayaan Bugis itu menggarisbawahi peran penting Bissu untuk keberlangsungan kerajaan, terutama di era pra-Islam. Seorang Bissu dipandang sebagai percampuran manusia dan dewa. Mereka mempraktikkan ritual spiritual ataupun penyembuhan saat upacara pernikahan serta menjelang musim panen. Pandangan positif terhadap Bissu mulai berubah beberapa dekade lalu. Masuknya Islam dalam kebudayaan Bugis memicu pergeseran konsep Bissu sebagai manusia setengah dewa. Sekarang tak lagi banyak warga yang menghormati keberadaan para Bissu. "Biarlah waktu yang bicara. Tujuh belas tahun yang lalu para guru sudah memprediksi bahwa kami adalah generasi terakhir pewaris Bissu," ujar Bissu Eka. Selepas kemerdekaan Indonesia, kelompok Islamis sempat menguasai Sulawesi Selatan. Hal ini menimbulkan kebencian terhadap kaum Bugis atas kepercayaan multi-gender mereka. Para Bissu dituduh melakukan praktik musyrik. Di era 1960-an, Kahar Muzakar dari Pasukan Darul Islam yang berusaha memberontak dari Indonesia memimpin Operasi Toba. Operasi militer ini bertujuan membantai Bissu. Banyak Bissu terpaksa bersembunyi di goa-goa. "Hidup atau mati, apapun yang terjadi saya tetap Bissu. Meski nyawa jadi taruhannya, saya tetap Bissu. Saya engga mau dianggap pengecut. [Menjadi Bissu] sudah mendarah daging. Saya terlahir mengabdi. Hidup atau mati, pengabdian saya adalah berkomunikasi dengan roh leluhur," ujar Bissu Eka. Baru-baru ini, Kepolisian Sulawesi Selatan melarang kegiatan budaya dan olahraga transgender dan Bissu di Soppeng karena adanya laporan ormas Islam. Mereka terpaksa membatalkan pergelaran tersebut karena ormas mengklaim acara tersebut berlawanan dengan nilai-nilai agama. Rizky Rahadianto dan Arzia Tivany Wargadiredja dari VICE Indonesia berkunjung ke Soppeng selama seminggu akhir 2016 lalu, mendokumentasikan sisa-sisa "transkiarki" kuno Bissu Bugis. Kami menayangkan seri foto ini dalam rangka merayakan Hari Solidaritas LGBTIQ Nasional yang jatuh setiap 1 Maret.

Iklan

Semua foto oleh Rizky Rahadianto.

Maggiri adalah ritual seorang Bissu menusuk lehernya dengan keris. Ritual ini menunjukkan status Bissu sebagai manusia setengah dewa, karena keris tidak dapat melukai kulit mereka yang fana.

Puang Matoa Ecce dari Soppeng memilih hidup di istana yang kini kosong. Kepercayaan Bugis kuno memandang sisi androgini Bissu sebagai netralitas yang dapat mencegah "skandal percintaan" anggota kerajaan di masa lalu yang seringkali tak terhindarkan.

Pada dekade 60-an, militan Darul Islam menyiksa para Bissu secara sistematis dalam kegiatan yang disebut Operasi Toba. Kelompok radikal itu menggunduli para Bissu, sebagian dipenggal. Kepala para Bissu itu kemudian dipamerkan di tempat umum agar Bissu tunduk pada tuntutan mereka untuk berpakaian dan berperilaku seperti lelaki.

Bissu Matang, berusia 80, mengunjungi goa persembunyian mereka pada masa pembersihan. Bissu Matang tidak pernah melewatkan ziarah bulanannya demi mengenang dan mendoakan arwah Bissu yang dulu terasing.