mitos

Ada Mitos Presiden Indonesia Bakal Lengser Jika Berkunjung ke Tiga Kota di Jawa

Sejarah sejumlah kerajaan tua jadi landasan kepercayaan absurd itu. Mitos itu bahkan masih mengintai anak buah Jokowi saat mengatur kunjungan RI-1 ke daerah.
19 Februari 2020, 8:47am
Ada Mitos Kuno Presiden Jokowi Bakal Lengser Jika Berkunjung ke Tiga Kota di Jawa
Kolase oleh VICE. Ikon Kota Kediri Monumen Simpang Gumul via Pixabay/Domain Publik; Foto Presiden Joko Widodo saat lawatan ke Manila Filipina oleh Manan Vatsyasyana/AFP

Pernah dengar mitos bahwa presiden Indonesia bisa lengser kalau berkunjung ke Kediri, Bojonegoro, dan Pati?

Perbincangan soal mitos ini mengemuka gara-gara Sekretaris Kabinet Pramono Anung pergi ke Kediri bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono untuk meresmikan rusunawa di Ponpes Lirboyo, Sabtu (15/2) pekan lalu.

Saat peresmian, Pramono ngasih sambutan di depan para kiai sepuh ponpes dan bilang dengan setengah bercanda bahwa ia percaya mitos Kediri itu tempat terlarang untuk didatangi presiden karena bisa melengserkan jabatan.

"Ngapunten [mohon maaf], Kiai, saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden berkunjung di Kediri. Saya masih ingat karena percaya atau tidak percaya, Gus Dur setelah berkunjung ke Lirboyo tidak begitu lama gonjang-ganjing di Jakarta," kata Pramono dikutip Detik."Kalau wapres tidak apa-apa. Namun, kalau untuk Menteri, nanti kalau ada acara-acara Musyawarah Himpunan Santri Lirboyo keempat, nanti tinggal memilih siapa yang ingin didatangkan. Tinggal hubungi saya."

Pernyataan Pramono ini dimaksudkan menanggapi sambutan K.H. Kafabihi Mahrus sebelumnya yang bilang Kediri memang daerah wingit untuk Presiden. Tapi, Kiai Kafabihi bilang Presiden bisa kok mengunjungi Kediri tanpa khawatir lengser, asal tidak lupa mengunjungi makam Syekh Al-Wasil Syamsudin dan Mbah Wasil Setono Gedong.

Pernyataan Pramono langsung jadi perbincangan, masak iya pejabat negara percaya cerita takhayul macam ini?

Dikonfirmasi wartawan pada Senin (17/2), Pramono mengubah pernyataannya. Ia mengaku melarang Jokowi ke Kediri karena emang Presiden enggak diundang. Gesit banget berkelitnya, ini Seskab apa pengemudi ojol pas macet?

"Ini [larangan] kata-kata untuk tidak datang, ya karena beliau tidak diundang. Mana mau datang? Kita tahu Presiden tidak takut ke mana-mana. Mau ke mana saja, ke Afghanistan saya juga mendampingi. Apalagi hanya ke Kediri. Saya melihat berita sudah melenceng jauh dari substansi awal," ujar Pramono dilansir CNN Indonesia.

Pengamat Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Purnawan Basundoro mengatakan mitos tersebut memang dipercaya masyarakat Kediri sejak dulu. Salah satu literatur yang memuat kutukan tersebut adalah Babad Khadiri, manuskrip kuno yang menceritakan kejayaan Kerajaan Kediri karangan Mas Ngabei Purbawidjaja.

"Memang sebagian masyarakat itu kan masih percaya dengan hal semacam itu, dan itu memang kepercayaan yang berakar jauh pada tradisi kita. Saya belum pernah membacanya [Babad Khadiri_], seperti apa isinya terkait dengan kutukan itu. Tapi, memang setahu saya seperti misalnya ramalan tentang Jayabaya, kalau dalam kajian sejarah itu bersifat _post-factum, jadi setelah kejadian barulah orang cari referensi masa lalunya," kata Purnawan kepada CNN Indonesia.

Mitos ini pernah dipatahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengunjungi Kediri pada 2007. Bukannya lengser, SBY malah menjabat lagi di periode kedua plus bikin lima album musik. SBY kemudian mengulang datang ke Kediri tahun 2014.

Sedangkan Presiden B.J. Habibie, ia lengser dari kursi presiden setelah mengunjungi Kediri karena emang enggak mencalonkan diri kembali. Sementara Presiden Soeharto, meski memercayai mitos ini dengan enggak sekali pun ke Kediri, toh lengser juga. Dengan catatan: prosesnya makan waktu puluhan tahun dan tidak ada kaitannya dengan kegiatannya menghindari Kediri.

Selain Kediri, mitos mengunjungi kota bisa bikin presiden terjungkal juga dijumpai di Kota Bojonegoro, Jawa Timur. Keyakinan ini berawal dari cerita rakyat Bojonegoro pada masa-masa peperangan kerajaan. Intinya, ada kepercayaan siapa yang duluan menyeberangi Sungai Bengawan Solo di sana, kerajaannya bakal kalah perang.

"Tidak ada satu Presiden yang menginjakkan kakinya di sini. Tidak tahu kenapa. Itu [cerita Presiden lengser kalau ke Bojonegoro] hanya mitos. Kalau mau datang ya datang saja," ujar tokoh masyarakat Bojonegoro Gus Mul kepada Merdeka.

Mitos serupa juga ada di Pati, Jawa Tengah, sama-sama berasal dari cerita rakyat soal mantra yang dibuat Sunan Kudus untuk mencegah muridnya, Arya Penangsang, menjadi pemimpin yang brutal. Jadi, begitu Arya Penangsang lewat daerah Pati yang sudah diberi mantra, ia dikutuk enggak bisa jadi pemimpin.