Travel

Seperti Ini Pengalamanku Ikut Program Terbang 'Tanpa Tujuan' di Brunei

Menyiasati larangan bepergian, sejumlah maskapai menawarkan wisata terbang tanpa tujuan. VICE News berbincang dengan seorang penumpang yang jalan-jalan keliling Brunei naik pesawat.
22.9.20
Vlogger Willy Kong dan tunangannya Lily Gleefully memamerkan tiket pesawat Royal Brunei pada 20 September 2020. Foto milik Willy Kong.
Vlogger Willy Kong dan tunangannya Lily Gleefully memamerkan tiket pesawat Royal Brunei pada 20 September 2020. Foto milik Willy Kong.

Sudah sembilan bulan lebih dunia bergelut dengan COVID-19. Itu artinya hampir setahun pula kita tidak bisa pergi ke mana-mana karena dilarang bepergian. Rencana liburan banyak orang pun pupus, yang pada akhirnya menyebabkan kerugian cukup besar bagi sektor pariwisata — khususnya industri transportasi udara.

Seiring dengan dilonggarkannya pembatasan, sejumlah maskapai penerbangan mulai beroperasi kembali meski belum bisa normal seperti biasanya. Beberapa sampai menyediakan layanan terbang tanpa tujuan supaya tetap mendapat penumpang di tengah pandemi.

Anehnya, tak sedikit yang bersedia merogoh kocek untuk membeli tiket, walaupun mereka sudah tahu perjalanannya dari dan ke bandara yang sama. Konsep wisata ini tetap diminati, bahkan setelah dikritik aktivis lingkungan.

Royal Brunei Airlines, misalnya, mulai menawarkan paket “Dine & Fly” dalam sebulan terakhir. Penumpang diajak berkeliling selama 85 menit untuk menikmati keindahan Brunei Darussalam dan negara tetangga Malaysia dari atas langit. Vlogger Willy Kong yang tinggal di Brunei menceritakan pengalamannya terbang tanpa tujuan kepada VICE News.

Iklan

VICE News: Apa yang membuatmu tertarik mencoba paket wisata RBA?
Willy Kong: Royal Brunei (RB) menawarkan “Dine & Fly” sejak pertengahan Agustus. Mereka gencar mengiklankannya di akun Instagram dan Facebook Royal Brunei. Saat melihat pesawat akan terbang 20 September ini, saya langsung memesan dua tiket karena berbarengan dengan tanggal ulang tahun tunanganku Lily. Saya memesan Kelas Ekonomi, yang satu tiketnya seharga 149 Dolar Brunei (Rp1,6 juta). Maskapai sebenarnya juga menjual Kelas Bisnis dengan harga 199 Dolar Brunei (Rp2,1 juta), tapi tiketnya ludes sebelum September.

Bagaimana reaksi awal kamu saat mengetahui paket wisata ini?
Sebagai vlogger dan orang yang suka terbang, saya senang sekali mendengar kabar ini. Kebanyakan orang mungkin naik pesawat karena ingin menuju suatu tempat, sedangkan bagiku itu adalah bagian menariknya. Aku terakhir naik pesawat Februari lalu, ketika menghadiri pesta pernikahan teman di Kuala Lumpur. Keinginan untuk bepergian muncul lagi begitu tiket penerbangan 85 menit “Dine & Fly” mulai dijual akhir Agustus. Saya tetap tertarik, meski cuma berkeliling “tanpa tujuan”.

Seperti apa perasaanmu tidak bisa naik pesawat selama hampir setengah tahun?
Saya dulu berjanji pada diri sendiri akan mengajak keluarga liburan ke luar negeri—setidaknya satu kali dalam setahun—begitu sudah mapan. Rasanya sedih sekali ketika Brunei melaporkan kasus Covid-19 pertama pada Maret 2020, dan pemerintah memperketat aturan bepergiannya. Saya khawatir tidak bisa naik pesawat untuk waktu yang lama. Saya cuma bisa memandang langit setiap ada pesawat yang lewat di atas langit, berharap suatu saat bisa terbang lagi — tidak masalah kalau cuma di sekitar Brunei saja.

RBA cockpit.jpg

Willy dan tunangannya Lily diizinkan main ke kokpit. Foto milik Willy Kong.

Ada rencana liburan yang gagal gara-gara pandemi?
Saya dan tunangan seharusnya foto pre-wedding di luar negeri tahun ini, tapi batal karena pandemi. Sekarang kami mengundurkan semua rencana sampai aman bepergian lagi.

Seperti apa perjalanannya?
Sangat menyenangkan! Suatu kehormatan bagi saya bisa merasakan langsung pelayanan luar biasa dari awak kabin RB Dine & Fly.

Iklan

Saya awalnya tidak mau berharap banyak supaya tidak kecewa, tapi berubah pikiran begitu menginjakkan kaki di Bandara Internasional Brunei setelah tujuh bulan tidak ke sana.

Memang agak berbeda dari biasanya karena sekarang menerapkan protokol social distancing, tapi pengalamannya tetap meriah. Kami disambut petugas bandara saat check-in, dan mereka mengecek paspor layaknya penerbangan biasa. Mereka juga mencetak dua tiket untuk kami. Prosesnya cepat dan efisien karena tidak bawa apa-apa.

willy food.jpg

Hidangan makan siang Royal Brunei Airlines. Foto milik Willy Kong.

Setelah itu, kami menuju boarding gate dan menunjukkan paspor beserta tiket ke petugas. Kami disuruh memindai tiketnya sendiri. Saya tersadar sebentar lagi akan naik pesawat ketika menatap Airbus A320 dari jendela.

Setelah menaiki pesawat, awak kabin menyambut dan membimbing kami sampai tempat duduk. Suara pilot kemudian terdengar dari pengeras suara. Dia menyambut penumpang, dan menjelaskan peraturan keselamatan selama mengudara.

Pesawat lepas landas dan meninggalkan bandara pukul 10 pagi. Perjalanan 85 menit “Dine & Fly” pun dimulai. Kami mencapai ketinggian 3.352 meter, dan disajikan menu “khas Brunei” yaitu nasi lemak dan ayam goreng untuk makan siang. Kami juga dikasih cokelat sebagai pencuci mulut.

Pilot kembali bersuara, membimbing kami saat melintasi hutan hujan Brunei yang masih asli, Miri, Mulu, Kota Kinabalu, Pulau Muara Besar, dan Jembatan Sultan Omar Ali Saifuddien—jembatan terpanjang di Asia Tenggara—pada ketinggian 609 meter sebelum kembali ke bandara.

Iklan

Banyak pengalaman menarik yang terjadi selama 85 menit melayang di udara. 10 menit setelah makan siang disajikan, lagu Selamat Ulang Tahun terdengar dari pengeras suara kabin. Pilot menyebut nama tunanganku, dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tunangan juga menerima hadiah dari seorang awak kabin.

Lebih mengejutkannya lagi, 20 menit sebelum mendarat, seorang awak kabin memberikan dua kartu pos yang sudah ditandatangani oleh dua pilot. Kartu posnya berisi ucapan selamat ulang tahun!

Sambutan “welcome home” berkumandang dari pengeras suara begitu pesawat mendarat. Pilot mengatakan para penumpang hari itu sangat beruntung karena cuacanya sedang bagus.

RBA card.jpg

Lily menerima kartu pos berisi ucapan selamat ulang tahun yang sudah ditandatangani pilot. Dia diberi hadiah itu setelah dinyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Foto milik Willy Kong.

Ketika penumpang lain mulai turun dari pesawat, saya dan tunangan diizinkan mengunjungi kokpit. Saya melihat mata tunangan berbinar-binar karena ini pertama kalinya dia masuk kokpit. Saya sangat berterima kasih kepada kru RB yang sudah memberikan kesempatan luar biasa ini kepada kami.

Sebagian orang mengira penerbangan tanpa tujuan adalah ide konyol. Apa tanggapanmu soal ini?
Setiap orang punya pendapat yang berbeda-beda dan sekarang kita tengah menghadapi pandemi, jadi saya maklum jika mereka berpikiran seperti itu. Tapi saya ingin menekankan bahwa kita wajib menjaga keselamatan dan mematuhi peraturan di manapun kita berada. Selama perjalanan, awak kabin dan penumpang sama-sama menerapkan protokol kesehatan.

Paket wisata “Dine & Fly” mungkin terdengar konyol karena kita cuma keliling negeri sambil naik pesawat. Saya yakin orang-orang akan berubah pikiran jika sudah merasakannya langsung. Paket wisata ini memungkinkan kita untuk mengamati tempat tinggal kita sendiri dengan cara berbeda.

Orang biasanya naik pesawat untuk menuju suatu tempat, jadi tidak tahu pasti sedang berada di mana. Pengalaman ini luar biasa karena pilot “membimbing” kita saat menjelajahi negeri sendiri dan Malaysia.

Wawancara di atas sudah kami sunting agar ringkas dan lebih enak dibaca.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News