Melawan Intimidasi, Kolektif Feminis di Balik 'Lady Fast' Kembali Lagi

Tahun lalu, festival seni dan musik digalang Kolektif Betina diserang oleh ormas Islam di Yogyakarta. Panitia kini mengaku lebih siap saat menggelar acara serupa di Bandung.
27.4.17

Perempuan di Indonesia sering dianggap lambat saat melakukan segala sesuatu. Karena itulah sekelompok feminis dalam payung Kolektif Betina menggelar acara seni dan aktivisme bertajuk 'Lady Fast' tahun lalu di Yogyakarta; tujuannya membuktikan stigma perempuan tak bisa sigap dan cekatan salah besar. Respons dari pihak-pihak yang tak suka pada kegiatan pemberdayaan perempuan ternyata tak kalah cepat. Tiga puluh menit sebelum acara berakhir, gerombolan ormas Islam merangsek ke lokasi acara, didukung oleh petugas kepolisian. Satu panitia sempat ditahan. Kepolisian memaksa Lady Fast 2016 berakhir dengan alasan tidak memiliki izin. Tudingan polisi itu tentu saja dianggap panitia mengada-ada.

Bagi kalangan Islamis yang terlibat pembubaran Lady Fast, para perempuan yang terlibat di acara itu mereka tuding sebagai "komunis". Apa bukti jika para feminis itu berideologi kiri? Satu buah buku soal hak-hak kalangan LGBT. Insiden itu menambah noda bagi Yogyakarta, sebuah kota yang selama ini dikenal bisa mengayomi pemikir liberal serta berbagai jenis kesenian tanpa tekanan.

Insiden di Yogya ternyata sama sekali tak menimbulkan trauma bagi para penyelenggara Lady Fast. Mereka justru merasa semakin siap menggelar acara serupa. Pada 29-30 April 2017, acara Lady Fast Vol.2 diadakan di Gudang Spasial, Bandung, mengusung konsep yang tak jauh beda dari kegiatan tahun lalu. Ada gabungan diskusi, lokakarya, pemutaran film, pentas musik, serta pameran kerajinan dan kesenian.

VICE Indonesia ngobrol bersama Hera Mary, salah satu anggota panitia Lady Fast Vol.2 dan juga vokalis band hardcore, Oath. Hera dan band-nya akan menjadi salah satu penampil di acara tersebut. Kami membicarakan kekhawatiran seputar keamanan acara Lady Fast, pendekatan panitia yang berusaha agar acara lebih terbuka bagi semua kalangan, serta masa depan keseteraan gender di Indonesia.

Setelah insiden yang menimpa acara sebelumnya, kenapa repot-repot kembali menggelar Lady Fast Vol.2?
Lady Fast akan terus berjalan tak peduli ada tidaknya penggerebekan karena ini adalah agenda tahunan Kolektif Betina untuk saling bertemu. Kita pengen relasi antar teman-teman Kolektif Betina erat. Sayang kalau semuanya hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jadi Lady Fast penting banget karena mewakili ide-ide kami semua. Ide-ide yang kami punya bisa didokumentasikan dan dibagikan dengan teman-teman di luar kolektif.

Kenapa memilih Bandung sebagai lokasi Lady Fast Vol.2?
Karena setiap Lady Fast tentatif berubah-ubah tempat acaranya. Sempet ada ide [untuk bikin] di Jakarta, Jambi, atau Bali, tapi kebetulan suara yang paling banyak kali ini di Bandung. Dan teman-teman di Bandung juga nyanggupin, jadi bikin di Bandung deh.

Apa ada kekhawatiran insiden yang menimpa Lady Fast Vol.1 bisa terulang?
Kekhawatiran sebetulnya masih ada. Tapi, kami siap-siap aja menghadapinya, karena kami sudah punya pegangan sendiri apa yang mau disampaikan apabila gangguan semacam itu terjadi lagi. Cuman terlepas dari itu, kami percaya bahwa semangat yang kami bawa untuk Lady Fast ada sisi edukatifnya, sisi hiburannya. Jadi kami percaya Lady Fast akan berjalan lancar. Itulah juga kenapa Spasial dipilih [sebagai lokasi acara-red]. Pihak Spasial sudah menjamin bahwa izin mereka berjalan dengan baik.

Jadi pemilihan Spasial itu bentuk tindakan preventif ya?
Jadi di Lady Fast Vol.1, memang pihak pemilik space, Survive Garage tidak mempunyai izin dengan polisi, karena pas di awalnya kita mikirnya itu hanya gathering untuk teman-teman kolektif Betina aja, gak seperti Lady Fast Vol.2 yang terbuka untuk umum. Dengan adanya kejadian di Lady Fast Vol.1, kami sadar bahwa kami butuh tempat yang benar-benar aman, jauh dari gangguan-gangguan.

Apakah persiapan Lady Fast Vol.2 lebih rumit berbenah dari insiden yang mengakhiri Lady Fast perdana?
Untuk Lady Fast Vol.2, kita fokusinnya ke workshop sama exhibition. Jadi sekarang lebih terbuka untuk teman-teman di luar kolektif. Fokusnya gimana ngebuat yang dateng, baik dari Kolektif Betina ataupun di luar itu ngerasa event itu worth didatengin gitu. Kita semua bisa saling ketemu lagi, dan kenalan sama teman-teman baru. Detil-detil acara juga lebih diperhatiin. Kayak tempat nginep anggota Kolektif Betinanya, dan ide-ide apa yang ingin disampaikan di Lady Fast kali ini.

Kenapa Lady Fast Vol.2 dibikin lebih terbuka untuk umum? Apa pesan yang ingin kalian sebarkan?
Jadi awalnya Lady Fast itu dibikin sebagai ajang gathering dan belajar bareng teman-teman Kolektif Betina karena tinggalnya pada jauh-jauhan. Nah untuk Lady Fast Vol.2 kami ngajak teman-teman dari kolektif lain untuk belajar bersama. Tagline kami masih sama seperti sebelumnya, yaitu 'Empowering Each Other'. Mungkin banyak teman-teman pengen tau bikin kolektif itu gimana. Atau mau bikin event semacam Lady Fast itu gimana. Atau bahkan sebetulnya Lady Fast itu apa sih? Nah di pergelaran kali ini semua pertanyaan ini mungkin akan terjawab karena memang dibuka untuk umum. Jadi golnya sederhana, kita ingin empower sesama teman-teman perempuan karena selama ini event-event perempuan atau performer perempuan itu jarang banget ada.

Ada yang nanya, kenapa sih Lady Fast isinya cewek-cewek semua? Kenapa band yang tampil harus ada cewenya? Ya memang ini acara untuk perempuan. Acara perempuan yang bisa didatengi oleh laki-laki juga, anak-anak juga. Jadi kita memang ingin berbaur di Lady Fast Vol.2 ini dan khususnya untuk teman-teman perempuan, yuk saling dukung bareng, saling belajar bareng.

Apa program yang ditawarkan Lady Fast Vol.2 tahun ini?
Agenda acaranya ada musik, exhibition, workshop, sharing session, dan live sablon. Kalau dulu Lady Fast Vol.1 kita belajar tentang self-defense dan tubuh wanita, kalau sekarang kita lebih banyak ke sharing session. Kali ini ada sharing 'Tubuhku Otoritasku' dari Kartika Djahja, sama ada Syaldi Sahude dari aliansi Laki-Laki Baru yang akan sharing tentang Maskulinitas. Yang mengejutkan banyak teman laki-laki yang ikut mendaftar sharing session, jadi kita agak-agak seneng karena byk teman laki-laki yang terlibat. Dari pengerjaan flyer, ngebantuin dokumentasi. Jadi Lady Fast ini semacem hari perayaan ekualitas gender gitu yah.

Apa pendapatmu tentang perkembangan 'female empowerment' di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir?
Mungkin aku ngomongin di lingkup pribadi aja yah, atau paling enggak di lingkungan teman-teman sekitaran aku. Yang aku rasain empowerment itu penting banget dan akhir-akhir ini jadi nyata karena beberapa tahun kebelakang aku sendiri gak ngerasain hal itu. saat aku join dengan Kolektif Betina, aku belajar banyak tentang empowerment ini. Gimana ya cara ngejelasinnya? Aku jadi terbuka sama teman-teman perempuan. Yang lalu-lalu, aku mau ngomong sama orang pun ah malu ah, ah takut. Jadi semangat dari teman-teman perempuan sendiri itu ngebangun rasa percaya diri yang gede. Itu hebat banget efeknya empowerment buat diri aku. Aku sampai sekarang juga masih belajar banyak tentang empowerment dan bagaimana mempraktekkannya.

Kira-kira hambatan pemberdayaan perempuan di Indonesia apa sih?
Menurut aku pribadi, ini kayak efek dari relasi yang saling membenci di antara perempuan. Saling irilah. Mungkin karena kita terbiasa berkompetisi. Dulu kayaknya sulit ngakuin kalo sesama temen perempuan itu lebih keren dari gue. Sistem patriarki ini yang ngebuat semua perempuan jauh dari merasa bangga atas dirinya sendiri. Budaya-budaya patriarkis dan misoginis juga mungkin yang ngebuat female empowerment tersendat. Dan mungkin sekarang sudah banyak teman-teman perempuan dimanapun yang sudah muak, selalu merasa menjadi kesalahan hanya karena terlahir sebagai perempuan. Di Kolektif inilah, saya mendapat rasa benci dan iri ini diubah menjadi dukungan dan rasa kekaguman.

Bagaimana membawa kesadaran ini ke ranah yang lebih luas?
Hmm saya masih belum yakin cara yang pas sejujurnya. Tapi yang pasti kesadaran gender harus dimulai dari lingkungan sendiri.