Sains

Budaya Patriarki Kemungkinan Muncul Akibat Kebiasaan Makan Daging

Kesimpulan ini diperoleh arkeolog setelah meneliti kecenderungan manusia purba lelaki mengonsumsi daging, sementara perempuannya makan sayur dan biji-bijian.
14.5.17
Foto oleh Kirsty Begg via Stocksy.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Setahun belakangan, istilah diet paleo mulai ngetren dan banyak muncul di situs-situs gaya hidup perempuan. Termasuk di situs ini. Diet paleo berarti makan daging, buah-buahan, sayuran, dan bertujuan untuk menciptakan ulang perilaku makan seperti nenek moyang kita di zaman batu. Sebuah penelitian baru-baru ini dibahas dalam Scientific American menyingkirkan segala diet-diet lainnya, dan menemukan kaitan antara kebiasaan makan peradaban kuno dengan kuasa laki-laki atas perempuan. Penelitian ini mulanya diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences USA bulan Januari. Profesor arkeologi CUNY Kate Pechenkina memulai penelitiannya menganalisis bagaimana makanan tertentu diperkenalkan di CIna. Dia fokus pada akhir Periode Neolitik( kira-kira 2000 SM) dan permulaan dari Zaman Perunggu ( sekitar 1700 SM). Lewat telepon, dia menjabarkan temuannya sebagai "tak terduga." Gender tidak terpikirkan olehnya. "Saya mengira [semua] pola makan biasanya berbasis gandum," ujarnya.
Berita soal gender ini muncul ketika Pechenkina dan kolega-koleganya menganalisis tulang belulang orang Cina yang hidup sekitar 10,000 tahun lalu. Menurut Scientific American, jaringan tulangnya mengandung ciri nitrogen yang menandakan ketergantungan pada daging, dan ciri karbon yang berhubungan dengan pola makan berbasis gandum. Temuan awalnya sesuai dengan hipotesis Pechenkina—laki-laki dan perempuan bergantung pada gandum pada Periode Neolitik—namun tulang belulang mulai menunjukkan perubahan signifikan pada awalan Zaman Perunggu. "Tak diduga-duga, kami menemukan bahwa pola makan perempuan sangat dipengaruhi gandum dan barley, namun pola makan laki-laki tidak berubah—produk hewani dalam porsi tinggi," ujar Pechenkina. Dengan kata lain, mereka menyimpulkan bahwa kebiasaan makan yang macho itulah yang menetapkan maskulinitas mereka hingga hari ini, sementara perempuan sejawat mereka terus mengonsumsi makanan berbasis gandum. "Hal ini amat mengejutkan bagi kami," ujar Pechenkina. "Kita mulai menilik sumber historis dan kesetaraan agar bisa menyimpulkan temuan-temuan kita." Tidak ada yang pernah mengasosiasikan produk gandum dengan perkembangan otot, apalagi kuasa, dan Scientific American mengutarakan perubahan ini dalam konteks kehidupan perempuan memasuki Zaman Perunggu. Orang-orang mengubur jenazah perempuan dengan harta benda lebih sedikit dibandingkan jenazah laki-laki di Cina pada permulaan zaman itu; dan perubahan itu, kebiasaan makan yang baru, dan kesimpulan Zaman Perunggu sesuai dengan era "Negara-negara yang Berperang." Dinasti-dinasti saat itu menggunakan peperangan untuk membangun pemerintahan mereka, dan perang pun pecah di seluruh negeri. Dalam sistem ekonomi Cina, laki-laki memperjuangkan hak mereka atas hadiah logam, itulah sebabnya disebut Zaman Perunggu. Perkelahian dan dominasi laki-laki adalah ciri era itu, dan menurut Scientific American, masyarakat saat itu mengidolakan pejuang laki-laki karena atribut mereka yang macho abis.

Tanpa lorong waktu atau temuan atas catatan tertulis, para peneliti tidak bisa memastikan mengapa laki-laki memiliki pola makan lebih rumit pada akhir Periode Neolitik dan awalan Zaman Perunggu. Tidak ada yang bisa melacak permulaan sesungguhnya laki-laki menguasai perempuan. Meski begitu, jelas bahwa perempuan hanya bisa mengonsumsi gandum-ganduman bersamaan dengan hilangnya kapabilitas bermasyarakatan mereka, dan bahwa mereka bisa banget ikutan diet paleo.