DJ Uninamise Menyebarkan Demam Flex Dance dari Brooklyn ke Seluruh Dunia
προφίλ

DJ Uninamise Menyebarkan Demam Flex Dance dari Brooklyn ke Seluruh Dunia

Alunan musik dancehall instrumental nan gelap itu punya sejarah panjang yang terus berlanjut sampai sekarang.
5.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di THUMP.

Musim panas, dalam sebuah ruang kecil di Boiler Room, Brooklyn, sebuah lingkaran berisi penari tiba-tiba membubarkan diri. Para penari kemudian saling mengadu kepiawaian sementara para penonton menonton dengan seksama. Beberapa penonton malah harus berdiri di atas tempat duduk yang menempel di dinding supaya bisa melihat dengan lebih kelas. Ini adalah kali pertama flex dance music, atau FDM disiarkan luas ke penonton internasional. Saat itu, Uninamise adalah salah satu DJ yang beraksi di belakang deck.

Iklan

Lahir dengan nama Willie Perkins, Uninamise adalah produser kelahiran Brooklyn yang cenderung pendiam di depan banyak orang. Kepang rambutnya kadang nongol dari balik topi om-om yang dia gunakan. Baginya—seperti DJ-DJ lainnya, keterarikannya pada musik berawal dari TV publik bernama Flex N Brooklyn. Stasiun TV ini pada mulanya adalah saluran yang menayangkan acara berisi tarian hip-hop dan reggae yang marak pada tahun 1992, tentu saja waktu itu Flexing belun sepenuh tercipta sebagai genre tarian. Flexing baru menjadi sebuah genre di akhir dekade 90. Dalam tayangan TV itu, para penari beraksi di atas panggung di depan para penonton. Pada gilirannya, mereka akan terjun menuju penonton dan menari di di antara mereka.

Para penari flex awal generasi awal menguasai gaya tari yang dikenal dengan nama
bruk up, yang berasal dari Jamaica. Namun, mereka menambahkan gaya mereka sendiri sampai akhirnya orang di jalanan Brooklyn memanggil mereka "flex dancer", merujuk pada nama acara TV yang menampilkan mereka. Flex dancing memiliki beberapa gerakan dasar seperti "gliding"—semacam versi tiga dimensi dari moonwalking—dan "Bonebreaking", serangkaian gerakan memilintir tangan yang dijamin bikin escape artist iri.

Jenis musik yang diasosiasikan dengan jenis tarian ini biasanya adalah musik elektronik dancehall instrumental yang kelam dan kental dengan sample chopped up dan riddims—ejaan Jamaika untuk kata Ryhthm. Di awal perkembangannya, para produser membuat musik flex dengan menumpuk riddim seperti "Volume" dan "Anger Management" sembari menambah sekelumit elemen baru sebagai sentuhan personel mereka. Akhirnya, para produser flex generasi awal membuat sendiri musik mereka. Kendati demikian, elemen-elemen di atas tetap dipertahan sebagai penanda musik flex.

Uninamise bersama pedansa flex Sheik (kiri) dan Jason "Erthquake" Cust (kanan)

Uninamise pertama kali tertarik pada kancah flex dance setelah mendengar teman SMP-nya mengoceh tentang pertunjukan flex yang dia datangi di Flatbush—titik pusat perkembangan budaya flexing."Aku menonton pertunjukan flex dance. Terus, aku juga sering lihat orang menari di taman, di dalam kereta serta di pesta-pesta jalanan," kata Uninamise mengenang momen itu saat saya wawancarai lewat telepon.

Tak lama kemudian, keluarga Uninamise memutuskan pindah rumah, pertama ke Coney Island kemudian ke Sheepshead Bay. Di sana, mereka hidup dalam satu rumah. Meski demikian, Flatbush selalu memakanya kembali. Akhirnya, Uninamise terjun ke kancah flexing sebagai seorang penari. Pada awalnya, dia memfokuskan diri untuk menguasai sebuah gaya yang disebut "connecting," salah satu elemen dalam flexing di mana setiap gerakan dimulai dari bagian tubuh yang disentuh penari (misalnya, tangan menyentuh sikut, sikut kemudian menyentuh kaki dan seterusnya). "Kami kadang bolos sekolah biar bisa main basket dan menari atau bahkan merekam lagu dengan kamera kecil," kenangnya. "Videonya diunggah ke Youtube."

Pada tahun 2006, menari adalah segala di Flatbush. Selain para flexer, beberapa penari masih mempraktekan gerakan bruk up. Ada pula penari Shotta, gaya menari lainnya yang diimpor dari Jamaica. (Tarian Shotta menggunakan gerakan asal Jamaika seperti "pon di river," di mana mengangkat kaki mereka dan menggoyang-goyangkannya seperti tengah mengetes suhu air). Pesta dansa ABG juga marak ditemui di ruang pegelaran lokal dan klub gaul seperti Sea Breeze, Elks lodges, dan Brooklyn Masons. Bahkan tempat ternama macam Empire Skate Rink sekalipun punya acara khusus ABG. Dalam gelaran seperti inilah, para flexer lazim berkeliaran.

"Ada beberapa party crew yang terus bikin acara," jelas Uninamise. "Kami sering pergi ke event yang DJ lebih sering main lagi dance. DJ bakal mondar-mandir. Kami bisa berjoget, grinding atau semacamnya. Kadang juga kami menari Shotta. Lalu musik flex dimainkankan; dan riddim segera memanggil kami."

Iklan

Sekitar tahun 2007 atau 2008, Uninamise sudah duduk di bangku SMA. Kancah musik dance sedang pancaroba. Empire Skating Rink sudah tutup dan Flex N Brooklyn tak lagi mengudara. Beberapa tahun kemudian, beberapa venue lainnya bernasib serupa. "Beberapa orang tewas." kenang Uninamise. "Ada baku tembak gila-gilaan. Ini yang bikin banyak party berhenti."

Lantaran party-party reguler menghilang, para flexer kini lebih doyan melakukan battle dalam berbagai gelaran, di antaranya Regg Roc's Flexhouse dan Kareem Baptise's Battlefest. Meski masih kerap turun gelanggang dalam battle, Uninamise mulai memproduksi beat-beat rap dan belajar menggunakan perangkat studio. Uninamise banyak mengasah kemampuan beatmakingnya di Crown Heights. Di tempat ini, dia mendapat banyak pelajaran dari beatmaker yang lebih serius, terutama dalam penggunaan Protools dan pilihan chord. Tak lama berselang, setelah lulus dari SMA, Uninamise mulai mangkal di Bad Boy Studio, milik Puff Daddy. Kebetulan salah satu A & R di studio itu mengenalnya dengan baik. "Beatku dicolong," katanya mengingat-ingat masa-maa di Bad Boy Studios. "Makanya, aku tak lagi pergi ke sana. Intinya, kalau kamu merekam beatmu di sana, mereka akan mengambil karyamu. Tapi bagiku itu pengalaman yang berharga. Lagian, aku baru lulus SMA. aku tak punya kegiatan lain."

Ketika usianya mencapai dua setengah dekade, Uninamise akhirnya mulai membuat musik flex. Pada tahun 2014, Uninamise merilis salah satu track pertamanya
"Murdera," yang memamerkan komposisi perkusi bertalu-talu hasil kolaborasi dengan Doc, seorang penari kenamaan yang lahir dengan nama Ares Fraizer. Tak mau membuang waktu, Uninamise kembali. Kali ini mixtape berjudul Kaviar Dreams, yang kental dengan vibe-vibe atmosferik yang Uninamise dapatkan saat mendalami genre di luar flex. Mixtape ini disambut meriah oleh para penari—"pas mixtapenya aku rilis, reaksinya luar biasa."

Iklan

Meski musik gubahannya disambut meriah,Willie Perkins memutuskan untuk tetap low profile, menari dengan nama "Will" sembari terus menggubah musik menggunakan moniker terbarunya, Uninamise. "Enggak ada yang tahu kalau itu aku, tapi semua orang suka kualitas soundnya," ujarnya. "Waktu itu, belum ada yang bikin musik flex dengan kualitas sound seperti itu."

Saat itu, Hitmakerchinx dan DJ Aaron adalah dua nama besar dalam genre ini. Di saat bersamaan nama Epic B mulai banyak dikenal orang. Bersama Uninamise, ketiganya kerap dianggap pionir FDM, meski DJ pendahulu mereka seperti DJ Blue dan Doc juga dianggap punya andil dalam meletakan sound dasar genre ini. Uninamise kerap berkolaborasi dengan DJ-DJ tesebut, menghasilkan musik dengan kualitas produksi yang baik sehingga gaya masing DJ bsa mencuat. "Fate Of Two Worlds"—kolaborasi dengan DJ Blue yang penuh dengan laser dan sample choral bernuansa akhir zaman—adalah salah satu contoh kerja bareng dua pionir FDM untuk memoles komposisi dari awal perkembangan genre ini agar terdengar lebih fokus dan jernih.

Sebagai seorang hulubalang FDM, Uninamise kini kerap dapat panggilan manggung di luar kancah dance yang melahir musik ini. Uninamise tercatat pernah menunjukkan kemampuannya di The Lot Radio dan secara mengejutkan pernah berasi di party yang digelar di Boiler Room. "Saat aku sedang bermain, aku selalu mengkombinasikan FDM dan dancehall," jelas Uninamise. "Beberapa orang mungkin kebingungan disuguhi ritme flex. Tapi setiap kali aku memadunya dengan dance, semua pengunjung menggila. Saban manggung, aku juga membawa penari dan mereka juga ikut menari barang sebentar."

Iklan

Hari-hari ini, Uninamise tak terlalu sering menari, kecuali ketika sedang menjadi DJ. Tapi tari masih punya andil besar dalam musik yang dia ciptakan. Uninamise sangat gemar menggubah musik dengan teman-temannya selagi mereka mencoba gerakan baru, menjajaki ide-ide baru dengan freestyle "Pokoknya, aku bikin apapun yang keluar dari speaker," ujarnya. "Teman-temanku bakal mendengar apa yang aku buat dan mulai mencoba beberapa ide gerakan yang aneh-aneh. Pokoknya kita tektokan saja. Aku yang menggali genre musiknya, kita lihat kisah macam apa yang bisa temanku buat."

Nama uninamise memang kian hari kian harum saja. Olehnya, momentum ini digunakan untuk menyebarkan FDM ke seluruh penjuru dunia. Akhir Mei ini, Uninamise berencana melepas tape berisi remix lagu the Weeknd yang diberi judul FDMBOY, yang kemungkinan besar bakal jadi karyanya yang paling gampang dinikmati oleh semua kalangan. Di satu sisi, mixtape ini menarik keluar tendensi melodik vokalis asal Kanada itu dan menggubahnya menjadi track dance dengan komposisi perkusi yang dtal dan rancak. Di sisi lain, album ini bakal jadi album perkenalan bagi mereka yang awam flex—setidaknya ada suara yang mereka kenal dalam komposisi flex yang kerap kelam. Di New Jersey, yang memiliki kancah flex kecil yang tengah berkembang, Uninamise membagi ilmunya dengan produser masa depan Mastermind. Sementara di Virginia, Uninamise menggalang kolaborasi dengan berbagai produser, mulai Yokai yang menggunakan sample soul atau mencuri beat-beat Wu Tang Clan era 90an dan mengubahnya menjadi track flex hingga Klasick, penari berlatar belakang krumping dan membaurkannya dengan musik flex.

Namun, sejauh apapun flex sound menyebar, pada akhirnya musik gubahannya tetap membawa Uninmiase kembali ke tanah kelahiran flex. "Tiap kali aku main di sebuah party yang baru aku datangi," ujarnya, "ada saja yang datang dan bilang, 'kedengarannya seperti di Brooklyn.'"