Perang Nuklir

Seandainya Korut Tiba-Tiba Nekat Menembakkan Bom Nuklir ke AS

Kemungkinannya kecil banget kok. Cuma kita pengen aja bikin skenarionya biar bisa siap-siap.
16.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Kalau kamu tidak mengamati Korea Utara selama tahun 2016—tahun di mana negara dengan kekuatan nuklir seperti Rusia, AS, Britania Raya, dan Cina berkompetisi untuk merebut panggung geopolitis dengan cara-cara gila—mudah sekali untuk melupakan bahwa negeri pertapa ini terus-menerus mengancam akan meledakkan musuh-musuhnya.
Saking seringnya kita mendengar ancaman itu, efeknya kini sekadar pepesan kosong. Namun Korea Utara juga bekerja keras pada tahun 2016 untuk menciptakan dan menguji teknologi terkait yang membuktikan bahwa ancaman-ancaman tersebut nyata dan kredibel, terutama rudal balistik interkontinental Kwangmyongsong yang mengagumkan. Sebuah rudal yang, pada bulan Februari, diketahui mampu meledakkan Los Angeles. Analisa terbaru menyiratkan bahwa di tahun 2020, Korea Utara akan memiliki rudal nuklir "yang dapat diandalkan" yang dapat menyerang daratan AS. Namun, menurut Rodger Baker, analis utama Korea Utara di Austin, firma intelijen militer di Texas bernama Startfor, pertanyaannya bukan soal kapan rudal tersebut dapat diandalkan. "Saat ini mungkin mereka bisa-bisa saja menyerang Amerika Serikat," ujarnya, dan menambahkan bahwa para analis di militer AS kini "beroperasi dengan asumsi bahwa Korea Utara memiliki kemampuan [meluncurkan senjata nuklir], meski hal tersebut belum ditunjukkan."

Dengan kata lain, Korea Utara siap untuk perang nuklir sebagaimana seorang kawan yang memaksa kita mendengarkan mixtapenya siap tampil di VMA: Kita lumayan yakin dia engga akan berhasil, tapi siapa tahu aja kan ya?

Permulaan tahun ini, tim Baker di Startfor menulis analisa merinci mengenai bagaimana AS mungkin berupaya memusnahkan gudang senjata Korea Utara dan strategi retaliasi Pyongyang. "Ini adalah skenario penting yang bisa dimainkan," ujar Baker pada saya.

Iklan

Dalam hal itu, Baker membantu saya menjabarkan apa yang akan terjadi di hari pertama Korea Utara menyerang—dari situasi yang memanas hingga pecahnya perang. Beberapa bagian dari prediksinya amat mengejutkan bagi saya. Baker berkata jika kita mengira AS akan asal main pencet tombol merah untuk meluncurkan senjata nuklir, dan menjadikan Korea Utara sebagai kawah raksasa, itu artinya kita payah dalam membuat strategi militer.

Permulaan tahun ini, tim Baker di Startfor menulis analisa merinci mengenai bagaimana AS mungkin berupaya memusnahkan gudang senjata Korea Utara dan strategi retaliasi Pyongyang. "Ini adalah skenario penting yang bisa dimainkan," ujar Baker pada saya.
Dalam hal itu, Baker membantu saya menjabarkan apa yang akan terjadi di hari pertama Korea Utara menyerang—dari situasi yang memanas hingga pecahnya perang. Beberapa bagian dari prediksinya amat mengejutkan bagi saya. Baker berkata jika kita mengira AS akan asal main pencet tombol merah untuk meluncurkan senjata nuklir, dan menjadikan Korea Utara sebagai kawah raksasa, itu artinya kita payah dalam membuat strategi militer.

Langkah 1: AS mungkin menyadari serangan sebelum terjadi

Karena kita sudah tahu teknologi macam apa yang dimiliki Korea Utara, kita tahu bahwa rudal bersenjata nuklir tidak akan tiba-tiba muncul dari bawah tanah. Korea Utara memiliki sejumlah metode peluncuran potensial, namun yang paling terpercaya adalah menara peluncuran yang terbilang kuno. Namun Baker berkata pada saya bahwa pilihan tersebut sesungguhnya yang terburuk karena aparat intelijen di negara musuh bisa punya waktu untuk menciptakan hambatan. "Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk mempersiapkan rudalnya," ujarnya.
Korea Utara telah berhasil menguji rudal yang diluncurkan dari bawah laut pada bulan Desember, namun rudal seperti itu hanya mengizinkan Korea Utara untuk menyerang dari jarak ratusan kilometer dari pesisir, dan kapal selam rongsok mereka akan kesulitan menembakkan rudal dari jarak sebegitu jauh.

Pilihan yang lebih baik adalah meluncurkan dari TEL (transporter erector launcer). "Kamu pasti sudah pernah lihat di TV dan film, sebuah truk besar dengan trailer," dia bilang ke saya. "Itulah waktu perjamnya, untuk memindahkan rudal dari goa, menyetelnya dan meluncurkan." Dan untuk catatan, Korea Utara sepertinya punya beberapa TEL, yang dari Cina tahun 2012, dan memamerkan rudal di sekitar Pyongyang.

Namun Baker terlihat yakin bahwa hanya dengan persiapan statu jam, dunia akan menyadari rudal Korut akan segera diluncurkan, dengan pengawasan ketat jaringan internasional, satelit, dan perlengkapan yang ada. "Seketika setelah Korut melakukan sejumlah tes, ada pernyataan dari AS dan Jepang soal apakah tes tersebut sukses atau tidak, dan hal tersebut disebabkan karena mereka memonitor segalanya, bahkan ketika Korut melakukan ujian dadakan dengan sistem jarak jauh," ujar Baker. Intinya, dia bilang, serangan tersebut tidak akan mengejutkan. "Pertama-tama, sistem pertahanan rudal akan diatur dalam alert tinggi," ujar Baker. Setelah itu, dia menjelaskan bahwa kapal-kapal pertahanan rudal Jepang akan dimanuver ke satu titik lokasi.
Jago banget lah, pertahanan rudal.

Langkah 2: AS dan Jepang akan menimbang-nimbang serangan penunda

Karena, tentu saja, pertahanan terbaik adalah serangan yang baik. Menurut analis kebijakan luar negeri di George Washington University Law School, jika para mata-mata yakin bahwa Korea Utara mempersenjatai rudal bersenjata nuklir dan mengarahkannya ke AS, AS dapat meluncurkan serangan awal dan bisa membuat justifikasi serangan tersebut ke PBB sebagai tanggapan terhadap "serangan senjata dalam waktu dekat." Keputusan tersebut bahkan boleh jadi tidak memerlukan telepon dari Presiden Trump, menurut Baker. "Saya rasa pada akhirnya [serangan] adalah keputusan militer," ujarnya. Dia juga menjelaskan bahwa militer gemar melakukan serangan awal. Menanti serangan dan berharap serangan tersebut berbelok berisiko tinggi. Di sisi lain, kalau kita meluncurkan serangan awal, "kita bisa punya 100 persen kesempatan menghancurkannya, dan itulah preferensinya."
Namun menjustifikasi serangan awal lewat udara adalah perkara pelik, dan serangan tersebut dapat memicu respon keras dari Cina, Rusia, dan bahkan Korut. "Dari perspektif politik," ujar Baker, "jadi mungkin lebih baik untuk membiarkan Korut meluncurkan serangan, lalu menembak rudal tersebut, alih-alih menyerang saat rudal belum diluncurkan."

Jadi jelas—meski hampir tidak mungkin—bahwa AS akan membiarkan rudal Korut lepas landas.

Iklan

Namun Baker terlihat yakin bahwa hanya dengan persiapan statu jam, dunia akan menyadari rudal Korut akan segera diluncurkan, dengan pengawasan ketat jaringan internasional, satelit, dan perlengkapan yang ada. "Seketika setelah Korut melakukan sejumlah tes, ada pernyataan dari AS dan Jepang soal apakah tes tersebut sukses atau tidak, dan hal tersebut disebabkan karena mereka memonitor segalanya, bahkan ketika Korut melakukan ujian dadakan dengan sistem jarak jauh," ujar Baker. Intinya, dia bilang, serangan tersebut tidak akan mengejutkan. "Pertama-tama, sistem pertahanan rudal akan diatur dalam alert tinggi," ujar Baker. Setelah itu, dia menjelaskan bahwa kapal-kapal pertahanan rudal Jepang akan dimanuver ke satu titik lokasi.
Jago banget lah, pertahanan rudal.

Langkah 2: AS dan Jepang akan menimbang-nimbang serangan penunda

Karena, tentu saja, pertahanan terbaik adalah serangan yang baik. Menurut analis kebijakan luar negeri di George Washington University Law School, jika para mata-mata yakin bahwa Korea Utara mempersenjatai rudal bersenjata nuklir dan mengarahkannya ke AS, AS dapat meluncurkan serangan awal dan bisa membuat justifikasi serangan tersebut ke PBB sebagai tanggapan terhadap "serangan senjata dalam waktu dekat."
Keputusan tersebut bahkan boleh jadi tidak memerlukan telepon dari Presiden Trump, menurut Baker. "Saya rasa pada akhirnya [serangan] adalah keputusan militer," ujarnya. Dia juga menjelaskan bahwa militer gemar melakukan serangan awal. Menanti serangan dan berharap serangan tersebut berbelok berisiko tinggi. Di sisi lain, kalau kita meluncurkan serangan awal, "kita bisa punya 100 persen kesempatan menghancurkannya, dan itulah preferensinya."
Namun menjustifikasi serangan awal lewat udara adalah perkara pelik, dan serangan tersebut dapat memicu respon keras dari Cina, Rusia, dan bahkan Korut. "Dari perspektif politik," ujar Baker, "jadi mungkin lebih baik untuk membiarkan Korut meluncurkan serangan, lalu menembak rudal tersebut, alih-alih menyerang saat rudal belum diluncurkan."
Jadi jelas—meski hampir tidak mungkin—bahwa AS akan membiarkan rudal Korut lepas landas.

Langkah 3: Rudal diluncurkan

Bahkan jika peluncuran rudal lancar, belum tentu rudal Korut bisa mendekati daratan AS. Rudal balistik interkontinental adalah pesawat bunuh diri yang memulai perjalanan mereka dengan meninggalkan atmosfer Bumi. "Para Korea Utara kini mendemonstrasikan bahwa mereka bisa, setidaknya dalam satu ujian, menjatuhkan bagian depan rudal yang kelihatannya keluar atmosfer lalu jatuh lagi," ujar Baker. Namun bagian jatuh kembali tidak cukup jika bom pada rudal rusak dalam prosesnya. "Mereka telah melakukan sejumlah ujian di daratan untuk menunjukkan bahwa hulu ledak mereka berpotensi bertahan dalam fase re-entry," ujarnya.
Lalu, ada pertanyaan terbuka soal ke mana rudal hipotetis ini akan diarahkan. Baker berkata bahwa tidak ada kepastian soal bagian AS mana yang ingin diserang Korut, dan bukan hanya lokas-lokasi seperti Hawaii dan Los Angeles yang pernah diancam Kim Jong-un. "Kami ingat pemetaan yang mereka terbitkan beberapa tahun lalu di mana ada garis-garis kecil yang boleh jadi menuju ke Austin," ujarnya.

Langkah 4: AS dan Jepang mencoba menembak rudal sebelum sampai ke daratan

"Ada sistem radar yang berbasis daratan yang mengamati, dan juga sistem satelit yang dapat mengawasi bahkan panas khas peluncuran rudal," ujar Baker. Di dalam Korut, AS telah merencanakan untuk memasang sistem pertahanan rudal disebut THAAD, namun karena kondisi politik Korut yang tidak stabil beberapa minggu belakangan, belum ada kepastian apakah sistem THAAD akan dipasang. Jika THAAD ada pada saat peluncuran dan rudal dapat melanju, rudal tersebut belum tentu dapat melampaui Jepang. Kapal-kapal angkatan laut Aegis akan bersiap di laut untuk menembakkan rudal pertahanan mereka sendiri. Jika rudal tersebut berhasil melewati Samudra Pasifik, tanggung jawab untuk menghancurkan rudal tersebut berada pada sistem pertahanan rudal AS di Alaska. Meski demikian, sistem tersebut memiliki kekurangan. "Tidak sempurna, dan tidak akan jadi sempurna," ujar Baker.
Jika Korut amat beruntung, boleh jadi ada awan jamur di atas sebuah kota AS.

Namun tetap saja, dalam pendapat profesional Baker, "jika Korut hanya bisa meluncurkan satu atau dua rudal, rudal-rudal tersebut memiliki kemungkinan amat kecil untuk mencapai target mereka." Namun dalam segala kemungkinan yang ada, Korut akan memiliki kemampuan lebih baik dalam waktu singkat. Baker menjelaskan, rudal dengan banyak hulu ledak—beberapa di antaranya adalah senjata menyeramkan amat canggih—sebagai teknik mengelak sistem pertahanan rudal AS. "Kamu bisa memiliki hulu ledak beragam dalam satu rudal yang bisa meluncur ke arah berbeda, dan kamu bisa mengarahkan mereka ketika mereka akan mendarat, dan kamu bisa memasukkan dummies di dalamnya," ujar Baker. Ketika Korut menguasai teknologi—dan ini hanya perkara waktu—mereka akan punya klaim kredibel bahwa mereka bisa menyerang AS dengan senjata nuklir.

Langkah 5: Respon Cina

Inilah alasan bagus agar Trump mau santai sedikit dengan Cina: menurut Baker, amat mungkin jika Korut menetapkan serangan tak berlandaskan provokasi, Cina boleh jadi berpindah untuk mencegah Perang Korea kedua. "Cina mengisyaratkan bahwa jika Korea Utara memicu konflik militer, bahwa Cina bisa saja mengintervensi di Pyongyang, dan mengklaim komponen Utara dari Korut, dan tidak memberikan dukungan militer ekstra kepada rezim Korut," ujar Baker. "Saya rasa Cina tidak punya ekspektasi bahwa mereka bersanding dengan AS, kalau memang konfrontasi tipe begini ada." Tapi tidak semua analis merasa Cina akan mengkhianati sekutunya, Korut. Joel S. Wit dari U.S-Korea Institute di John Hopkins School of Advanced International Studies menulis di The New York Times, bahwa meski Cina telah menekan Korut untuk denuklirisasi, Korut tak kunjung mengubah sikapnya. "Korea yang bersatu dan bersekutu dengan Washington di perbatasan Cina akan menjadi kabar buruk bagi Beijing, mengingat perseteruan berlanjut dengan AS di Asia," tulisnya.

Langkah 6: AS retaliasi, namun mungkin tidak meluncurkan serangan nuklir ke Korut

Trump telah memberikan sinyal bahwa dia mungkin mau menggunakan senjata nuklir untuk melawan ISIS, jadi ada alasan bahwa dia bisa saja meluncurkan serangan nuklir ke Korut, kan? Tapi tidak begitu menurut Baker. "Saya rasa amat tidak mungkin karena jumlah senjata yang dimiliki Korut amat terbatas, dan ukuran Korean Peninsula amat kecil, dan implikasi menjatuhkan bom nuklir di Korean Peninsula amat besar untuk rekonstruksi jangka panjang dan usaha paling minimum, tapi juga untuk Korut." Alih-alih, Baker mengantisipasi "rudal bawah laut, diikuti dengan serangan udara melawan garda depan pasukan Korut." Ide tersebut, menurut dia, mampu melumpuhkan pasukan bersenjata Korut di barisan depan, bersamaan dengan sistem rudal jarak jauhnya. Itu bisa melakukan semua itu sambil "memindahkan aset tambahan ke dalam daerah," ujarnya.

Langkah 7: Peperangan yang kemungkinan besar tidak dimenangkan Korea Utara

Kini kedua kubu telah menggunakan senjata, dan hanya perkara waktu siapa yang memulainya, dan laporan awal Startfor pada pecahnya konflik antara Korea Utara dan tim AS-Korea Selatan, menjadi amat informatif. Intinya, "beberapa jam pertama konflik tersebut amat esensial yang mana Korut mesti memanfaatkan setiap alat yang memungkinkan yang dia punya," ujar Baker. Dia berpikir Korea Utara akan kembali ke "alat-alat tradisional" termasuk senjata biologis atau kimiawi, dalam upaya memperlambat aksi darat oleh AS, dan merusak bagian selatan Korut untuk waktu untuk beberapa saat. Setelah itu, peperangan pecah, dan Baker tidak memprediksi kesempatan yang baik untuk Korut.

Kecuali ada perpindahan politik tiba-tiba seperti Korea Selatan tiba-tiba cinta dengan Kim Jong-un, Baker berkata, "kita bisa bilang bahwa dalam sebuah konflik terkait AS—dan mungkin bahkan konflik antara dua Korea—akan amat sulit bagi Korea Utara untuk menang."