Alasan Sugar Daddy Rela Habiskan Jutaan Rupiah Demi BIGO
Ilustrasi oleh Ilham Kurniawan.
media sosial

Alasan Sugar Daddy Rela Habiskan Jutaan Rupiah Demi BIGO

Popularitas aplikasi media sosial satu ini di Indonesia membingungkan kalangan awam. Jika tak ada lagi pornoaksi, kenapa banyak orang masih tertarik menggunakannya?
16.3.17

Video Blogging belakangan tak lagi didominasi kalangan tertentu. Bahkan, Presiden Jokowi sudah kecanduan membuat vlog. Jadi rasanya sah-sah jika kita mengatakan bahwa Video Blogging tengah mencapai puncak popularitasnya di Indonesia. Tapi ada demam lain yang tak terus bertahan walau sempat ada ancaman pemblokiran pemerintah. Demam yang membuat banyak orang rela menghabiskan uang menyaksikan orang lain melakukan kegiatan sekilas tak penting: makan, ngobrol, tertawa sambil berguling-guling di kasur tanpa alasan.

Iklan

Demam BIGO Live, aplikasi streaming yang sudah didownload oleh 70 juta orang, melanda Indonesia setahun terakhir. Saat ini, nilai aplikasi itu ditaksir mencapai angka $400 juta (setara Rp5 triliun).

BIGO LIVE punya fungsi serupa aplikasi live streaming lainnya seperti Periscope atau Faceboook Live. Pengguna BIGO bisa menyiarkan apa yang mereka lakukan—entah itu makan siang atau jalan-jalan sampai tengah malam—secara live. Yang membedakan aplikasi ini dari produk sejenis adalah pengguna bisa mengirimkan hadiah—bentuknya Diamond atau Bean—kepada penyiar BIGO. Nah, hadiah ini nantinya bisa benar-benar dimonetisasi oleh para penyiar.

Bagi beberapa pengguna BIGO, aplikasi itu menjadi candu tersendiri. Hampir 30 juta pengguna BIGO setidaknya menghabiskan 40 menit sehari memoloti para penyiar BIGO. Tak sedikit pengguna rela begadang memelototi penyiar BIGO menyiarkan aktivitas sehari-hari mereka. Diperkirakan 15 persen dari seluruh pengguna BIGO sedunia berasal dari Indonesia. Popularitas BIGO yang memuncak diduga sebagai memicu munculnya generasi "om-om senang" alias Sugar Daddy yang terobsesi pada aplikasi ini.

"Saya sampai pernah pinjam uang ke teman saya buat bayar cicilan motor. Habis itu, saya berusaha menjauhi BIGO. Saya takut bangkrut," ujar seorang pengguna yang minta identitasnya dirahasiakan.

Lelaki ini mengaku pernah menghabiskan sepertiga pendapatan perbulannya hanya untuk BIGO. Hidupnya hampir berantakan gara-gara BIGO. Dia merantau ke Jakarta guna menghidupi keluarganya yang hidup di Jawa tengah. Tapi dia justru terjebak BIGO. "Gaji saya sebulan Rp3 juta. Satu juta saya kirim ke kampung untuk anak dan istri. Sisanya, saya pakai buat hidup d Jakarta. Satu juta rupiah buat makan dan rokok. Saya engga perlu keluar uang buat ngekos, saya kan tinggal di kantor. Sisa satu jutanya lagi buat hal-hal yang saya sukai, entah buat bayar cicilan motor atau yang lainya, termasuk buat jajan di BIGO. Pernah sekali, saya hampir habis satu juta rupiah beli kredit di BIGO."

BIGO mempunya sistem "mata uang" yang bisa digunakan penggunanya. Bentuknya berupa Bean dan Diamond. Nilai keduanya secara berurutan Rp100 dan Rp300. Meski ongkos untuk menggunakan BIGO terbilang murah, beberapa penyiar BIGO berhasil mengeruk kantong pengguna dari seluruh dunia dan mengumpulkan uang yang tak sedikit. Sejak aktif siaran pada bulan September 2016, penyiar BIGO asal Vietnam Thao Duyen Tran berhasil mengumpulkan bean sebanyak 11.152.317 atau setara Rp710 juta. Sementara itu Beyla, salah satu bintang BIGO lokal, berhasil mengantongui 2,279.188 bean atau setara Rp145 juta.

Callista Lawrence mulai terjun ke BIGO pada 2016. "Aku mulai siaran di BIGO karena dapat uangnya gampang," ujar Callista. "Saya kalau siaran paling sering cuma ngomong dan ngobrol sama orang lain. Tapi sekarang, saya berusaha menjauhi BIGO karena banyak konten-konten tidak senonoh." Sejauh ini Callista bisa menghasilkan $1 juta berkat aktif tampil di BIGO.

Iklan

Mirip seperti pendahulunya Omegle, awalnya BIGO dikenal lewat catatan yang muram: menjadi sarang video-video bermuatan pornografis. Banyak kecaman yang dilontarkan pada aplikasi ini lantaran penyiar BIGO kerap menyuguhkan konten menyerempet pornoaksi. Di awal kemunculan BIGO, para penyiar BIGO kerap melakukan aktivitas seksual seperti striptease, flashing, sampai masturbasi. Sisa-sisa "masa gelap" BIGO ini masih berceceran di Youtube. Ketik saja 'unch unch"—istilah yang populer di kalangan pengguna BIGO untuk meminta penyiar BIGO perempuan menunjukan payudaranya. Sepersekian detik, anda akan menemukan video-video saru semacam itu.

"Aku lihat iklannya dan mencoba sebentar. Eh aku ketagihan penyiar yang buka-bukaan."

Callista cukup sering menerima permintaan "unch unch". Dia berusaha tak menanggapinya serius. "Untuk menjadi penyiar resmi BIGO, kita harus melamar ke BIGO Live dan ikut audisi. Kalau terpilih, kita akan dapat kontrak yang mengikat. Sekali kita melanggar isinya, mereka akan memutuskan kita secara sepihak. Sekarang orang lebih berhati-hati siaran karena ada konsekuensi tertentu."

Status BIGO sebagai sarang pornoaksi segera diendus pemerintah Indonesia. Awal Desember 2016, Komenterian Komunikasi dan Informatika memblokir sepuluh DNS yang digunakan oleh BIGO Live. Tentu saja, pemblokiran sepuluh DNS tak akan terlalu mempengaruhi operasi BIGO Live. Menurut Kominfo, tindakan ini sekadar dimaksudkan sebagai peringatan. Kominfo mengancam akan melarang BIGO LIVE selamanya di Indonesia jika aplikasi tersebut tak menaati aturan tentang pornografi pemerintah.

Iklan

Mulai Maret 2017, baik pengguna maupun penyiar BIGO bisa kembali mengakses BIGO Live karena Kominfo sepenuhnya menghentikan pemblokiran terhadap DNS BIGO.

Keputusan diambil setelah BIGO Live membuka kantor cabang di Jakarta. Dalam beberapa pernyataan ke media, Kominfo menganggap pembukaan kantor cabang Jakarta  sebagai sebuah itikad baik dari BIGO Live. Ini akan mempermudah BIGO Live untuk mengawasi konten-konten yang tidak sesuai peraturan dalam aplikasi mereka. Di sisi lain pihak BIGO juga menjamin bahwa konten pornografi tak akan leluasa beredar karena mereka telah menerapkan beberapa lapis sensor.

Cepatnya BIGO Live meraih popularitas di Asia Tenggara memancing sebuah pertanyaan: apakah popularits BIGO bakal bertahan lama serta apa yang membedakan BIGO dari aplikasi serupa? Tak lama setelah BIGO Live beredar, beberapa orang menuding aplikasi livestreaming ini sebetulnya tak membawa inovasi baru ke pasar aplikasi Asia Tenggara.

"Aplikasi ini hanya 'mengupgrade' produk yang sudah ada di pasaran, alih-alih misalnya menciptakan sesuatu yang baru dari nol. Ini kan sama saja dengan buang-buang tenaga," ujar Tito Pratikto, salah satu pengusaha rintisan. "Memang benar, semua bisnis tentu berusaha cari untung. Tapi kita lupa, fungsi dasar perusahaan rintisan ialah untuk mendobrak dan memberikan pemecahan masalah."

Lantas, apa alasan konsumen aplikasi di pasar Asia Tenggara lebih memilih BIGO daripada aplikasi sejenis lainya? Ketika pertanyaan ini dilontarkan, Bowi Artgita, pengguna BIGO Live fanatik menjawab pada dasarnya mereka memilih BIGO dibanding aplikasi serupa karena kesengsem sebuah iklan di Facebook. "Aku lihat iklannya dan mencoba sebentar. Eh aku ketagihan penyiar yang buka-bukaan."

Artinya, tanpa hal-hal menyerempet lucah itu, bagi para sugar daddy, BIGO sebetulnya sama sekali tak menarik.

"Aku engga pernah pakai aplikasi streaming lainnya seperti Facebook, Youtube atau Instagram. Aku sudah habis banyak di BIGO juga. Walau aku tak pernah menghabiskan uang untuk mengirim gift. Tapi kalau dijumlah paket data yang aku habiskan menonton siaran-siaran di BIGO, hasilnya lumayan juga," imbuh Bowi.

Bowi masih beruntung. Hobinya main BIGO tak sampai merecoki hidup atau membuatnya bokek. "Ini kan mirip kaya ngecek timeline di sosial media. Dulu sih, aku sampai begadang tiap weekend. Sekarang, aku paling ngabisin engga sampai sepuluh menit buat scroll feed BIGO, apalagi kalau lagi engga ada penyiar-penyiar yang cantik. Ngapain juga lama-lama ya kan? Penyiar yang suka telanjang masih ada. Biasanya dari Vietnam atau Thailand. Aku kan engga harus ngerti bahasa asing buat lihat wajah-wajah cantik kayak mereka."