Sushi Enak Akan Langka Pada 2050
Perubahan Iklim

Sushi Enak Akan Langka Pada 2050

Perubahan iklim dunia menyebabkan sushi berkualitas baik sangat mahal, sementara sushi murahan rasanya akan makin tak karuan.
4.2.17

Cerita ini adalah bagian dari seri artikel VICE menyoroti perubahan iklim Bumi hingga 2050. Simak tujuan program tersebut di tautan ini..

Tahun 2050, pengalaman anda makan sushi diprediksi bakal memburuk gara-gara perubahan iklim. Sushi akan menjadi sangat mahal harganya bagi anda yang tidak tajir banget—masalah besar tentunya bila anda penggemar tuna—atau mau tak mau anda harus makan buffet sushi all-you-can-eat yang entah terbuat dari ikan betulan atau tidak.

Iklan

Penurunan kualitas makanan mewah tidak akan mempengaruhi kehidupan anda sehari-hari—kecuali anda tipe selebriti brengsek suka buang-buang uang demi makan enak—namun hal ini tetap saja sangat menyebalkan. Sushi lezat betulan memang masuk kategori makanan mewah, tapi perlu diingat bahwa masa depan kita nantinya rupanya bukan hanya dipersulit bencana alam akibat naiknya ketinggian permukaan laut, tapi juga oleh jutaan hal remeh lain semacam kelangkaan mencari sushi enak  berharga miring.

William Cheung, profesor dan peneliti Unit Penelitian Perubahan Laut University of British Columbia melakukan perhitungan jumlah ikan di dunia melalui laporan yang terbit 2010 lalu. Dia meramal masa depan dunia hingga 2055 yang kesimpulannya seram. "Setelah merangkum semua data, saya sadar dalam beberapa dekade, sushi mau tidak mau akan dibuat menggunakan jenis ikan-ikan yang berbeda dari tradisi sekarang," ujarnya saat saya hubungi. "Beberapa jenis ikan yang sekarang mudah kita dapatkan di restoran sushi manapun akan menjadi ikan mewah di masa depan."

Cheung menyadari pola ketersediaan pasokan ikan selalu berubah dari waktu ke waktu. "Di Hong Kong, tempat saya tumbuh besar, ada berbagai jenis ikan yang dulu kita santap setiap harinya. Sekarang ikan-ikan ini sudah langka—misalnya Ikan Croaker Kuning yang dulu banyak sekali persediannya," ungkapnya. "Sekarang saking mahalnya ikan Croaker, restoran-restoran di Hong Kong jarang menyajikan menu ini."

Iklan

Cheung dan rekan-rekannya di Nippon Foundation-Nereus Program menciptakan panduan seputar pasar sushi di Jepang—ikan mana yang harus dibeli dan mana yang harus dijual. Biarpun video ini berbahasa Jepang, tapi intisarinya lumayan mudah untuk dimengerti. Cumi-cumi, ikan shad, tuna, kerang, udang dan salmon adalah nama-nama yang akan sulit didapat di masa depan.

Lah? Berarti hampir semua menu sushi jadi langka dong?

Air laut yang semakin hangat dan tingkat keasaman yang meningkat—keduanya indikator perubahan iklim, menurut Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat—akan mengganggu ekosistem binatang laut. Ditambah adanya pemancingan ikan berlebihan dan penghancuran habitat laut, sumber-sumber makanan favorit manusia semakin langka ke depannya.

Cuaca lebih panas adalah bukti perubahan iklim yang paling mudah dimengerti dan dirasakan orang awam. Namun sesungguhnya muatan karbon dalam atmosfir kitalah yang paling mempengaruhi kehidupan laut. "Sekarang, banyak dari muatan karbon ini diserap oleh laut," kata Prosanta Chakrabarty, ahli ikan dari Louisiana State University. Sama seperti anak kecil yang tidak mau melepas kaki orang tuanya di supermarket, untuk sementara laut menyimpan muatan emisi karbon manusia. "Masalahnya karbon membuat air laut semakin asam," jelas Chakrabarty.

Proses pengasaman merusak kehidupan laut, termasuk bebatuan karang. "Seiring pengasaman terjadi, batu karang menjadi pucat—mereka akan mati karena tidak bisa mempertahankan simbiosis mutualisme mereka dengan makhluk invertebrata," kata Chakrabarty ke saya. Batu karang sedang sekarat dan tidak lama lagi mereka akan punah. Kecuali anda sering menyelam, mungkin efek dari perubahan iklim ini tidak akan terlihat jelas di depan mata, namun proses pengasaman jelas akan mempengaruhi pengalaman makan sushi anda.

Iklan

Saat ini, penggemar sushi kebanyakan hanya menyantap tuna sirip biru—mereka mengincar toro roll yang berlemak—dan beberapa spesies makarel, dijual dalam bentuk "saba" yang rasanya asin dan masam. Menurut Chakrabarty, ikan-ikan jenis inilah yang kini terancam. "Karena mereka hidup di bagian teratas rantai makanan di laut, mereka sangat tergantung keberadaan terumbu karang," katanya.

Saya lantas menemui Daniel Pauly, peneliti utama Sea Around Us, sebuah kelompok penilitian di University of British Columbia. Pauly agak meragukan data turunnya populasi tuna sebagai masalah buat penyantap Sushi pada 2050. Alasannya, tuna termasuk spesies yang "oportunis." Belum lagi, tuna punya permintaan yang tinggi. Para nelayan akan tetap memburu tuna, di belahan samudra manapun. Artinya, Pauly meyakini tuna masih banyak jumlahnya di planet kita. Hanya lokasi tangkapannya saja yang berpindah-pindah.

Temuan terbaru menunjukkan optimisme Pauly agak berlebihan. Lautan yang bersifat asam diyakini ilmuwan akan berdampak pada proses reproduksi ikan seperti tuna. Ikan Cod—ikan yang tak pernah jadi bahan utama Sushi yang diisukan punah karena terlalu sering ditangkap nelayan—tahun lalu ternyata menurun populasinya gara-gara peningkatan keasaman air laut. Pauly menunjukkan bahwa "tak ada yang tahu dampak keasaman pada telur tuna," tapi dia mengakui "tak berani bertaruh bahwa populasi tuna masih tetap tinggi seperti sekarang di tahun 20150."

Iklan

Dibanding tuna, ramalan Pauly lebih pesimis menyangkut kerang-kerangan, yang juga menjadi bahan utama Sushi. Tiram dan Kerang Kipas bakal kesulitan memproduksi kalsium Karbonat yang dibutuhkan untuk membentuk tempurung. Pertanian Aquakultur di Samudra Pasifik—yang didesain untuk mengembangkan kerang sebanyak mungkin—menjadi saksi gagalnya tiram berkembang. Ini adalah salah satu bukti bahwa kerang-kerang muda kesusahan membentuk tempurung akibat perubahan iklim. "Masa yang berat bagi mereka adalah sekarang, bukan di masa depan." ujar Pauly. Artinya, harga yang anda bayar untuk menyantap Akagi dan sushi yang dipotong kecil-kecil bisa melambung dalam beberapa tahun ke depan.

Sepertinya, jika masih ada harapan bagi masa depan tradisi sushi, maka letaknya ada pada kreativitas manusia. "Bisa jadi nanti ada jenis baru Sushi yang menggunakan jenis ikan yang belum langka," kata Chueng.

Guna mengatasi menurunnya populasi spesies ikan bahan utama sushi yang populer, beberapa chef termahsyur seperti Bun Lai dari Restoran Mita di New Haven, Connecticut (coba lihat video Munchies di atas) mulai menyingkirkan ikan-ikan yang sepertinya tak akan bertahan lama di laut, misalnya seperti Salmon dan Tuna. Para chef turun tangan sendiri, keluar masuk pasar, mencari opsi-opsi bahan baku sushi yang lebih masuk akal yang ada di sekitar. Bagi Lai, pilihan paling masuk akal itu adalah menggunakan ikan Carp asia, kepiting lokal, serangga, dan tanaman lokal untuk vegan roll.

Iklan

Mereka yang tak mengikuti langkah Lai, bakal terkaget-kaget menyadari apa yang kelak terjadi pada bahan utama sushi. Menurut Chakrabarty, data dari beberapa pasar sushi yang dia teliti, tren yang kini muncul memang mencemaskan. Harga tuna sirip biru, misalnya, sudah mulai tak masuk nalar—satu ekor tuna sirip biru bisa dijual lebih dari US$600,000 atau setara Rp7 miliar!

Seiring meroketnya harga jual, para nelayan terpaksa menjala hingga laut dalam untuk mendapatkan ikan yang dulu bisa mereka panen dari wilayah dekat pesisir. Tak ayal, nelayan tak sengaja menangkap lebih banyak ikan-ikan yang tak populer atau bahkan ikan monster dari laut dalam seperti anglerfish. "Kalian bisa lihat, nelayan sekarang harus lebih dalam mengeruk laut. Inilah memang masa depan perikanan manusia."

Menurut perkiraan Chueng, opsi lainnya yang tersedia untuk memastikan masa depan sushi lebih cerah adalah "surimi." Dalam laporannya, Chueng mengimbau para chef segera mempopulerkan jenis sushi baru itu. Surimi dibuat dari ikan yang sebenarnya tak begitu lezat—namanya pollock. Chueng menyebutnya sebagai "produk sushi yang harganya murah sekali." Intinya surimi adalah versi hot dog dari seafood. Daging tapi bukan daging betulan berkualitas jempolan. Merujuk masa depan yang diramalkan Chueng, restoran all-you-can-eat akan makin kreatif, terutama untuk memasarkan surimi.

Menyitir guyonan kelam yang dulu dia dengar saat kuliah, Chakrabarty menutup ramalannya seakan-akan semua penjelasan tadi masih kurang pesimis: "Orang kaya dan hipster di masa depan cuma bisa makan ubur-ubur, karena ikan sudah tak ada lagi."

Mendengar akhir ramalan itu, nafsu saya menyantap seafood menghilang.

Follow Mike Pearl di Twitter .

Follow illustrator Corey Brickley di Instagram .