FYI.

This story is over 5 years old.

How Scared Should I Be?

Prediksi Rinci Membahas Alasan Kita Perlu Khawatir Menyongsong 2017

Apakah 2016 hanya puncak dari rentetan cerita horor, atau malah semua yang terjadi tahun lalu baru babak awal? Kami menghubungi para pakar.
Photo via Wikimedia Commons user Anthony Quintano

Selamat datang di kolom "How Scared Should I Be?". Ini adalah kolom yang mengkuantifikasi semua hal yang menakutkan di planet ini. Kolom ini menyediakan analisis bagi kalian semua agar bijak menggunakan salah satu sumber daya alam berpengaruh bagi manusia: rasa takut.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Banyak hal terjadi sepanjang 2016, yang membuat banyak orang terkejut, frustrasi, atau pada intinya: sedih. Contohnya kematian musisi legendaris seperti David Bowie dan Prince, horor yang muncul dari pemilihan presiden Amerika Serikat, sajian horor yang lebih mengerikan dari ruwetnya situasi dunia (ehm, Dubes Rusia ditembak mati dan Brexit cukup seram kan?), dirilisnya film Star Wars yang biasa-biasa saja, serta tragedi kemanusiaan berlarut-larut di Suriah yang terkesan tak akan pernah berakhir. Atas berbagai faktor itu, kami dari VICE serta banyak media massa lainnya, berusaha memposisikan 2016 sebagai musuh bersama yang merusak momen-momen kebahagiaan umat manusia. Seandainya memang tahun itu mahluk hidup dan bisa kita jadikan musuh, pasti hidup akan lebih mudah dijalani. Setidaknya usia tahun hanya 365 hari. Ketika tahun itu berganti, kita dapat berharap tahun selanjutnya lebih ramah pada manusia.

Iklan

Kini, kita telah memasuki 2017, tahun baru menanti kita dengan segala peristiwanya. Kalaupun 2017 ternyata tetap sosok penjahat, apakah sifatnya masih agak baik seperti Walter White di serial Breaking Bad? Jangan-jangan malah dia sepenuhnya brengsek dan keji seperti Voldermort?

Untuk itu, saya perlu memberi kabar buruk terlebih dulu: sepanjang 2017, selebritas dan seniman legendaris yang akan meninggal diperkirakan sama banyak—atau malah lebih banyak—dibanding 2016.

Alasannya bukan karena ada wabah khusus menjangkiti pesohor kesukaan kalian. Berdasarkan media yang rutin mengkaji kehidupan selebritis, yakni Telegraphthe Sun, dan Mirror, muncul beberapa penjelasan menarik mengenai peningkatan jumlah pesohor yang mati. Faktor pertama, tidak ada keanehan apapun. Jika banyak yang mengira 2016 adalah musimnya pesohor mati, itu semua tak lebih dari sekadar statistik yang terlalu acak. Memang ada analisis, bahwa jumlah selebritis kondang yang berusia lanjut semakin banyak.

Tapi, mari kita gunakan hipotesis ini (yang sebenarnya juga mustahil diukur): kita merasa semakin banyak pesohor mati, karena di era sekarang, lebih mudah bagi seseorang menjadi terkenal. Christina Grimmie, penyanyi yang terbunuh tahun lalu, sebetulnya mencuat pertama kali sebagai Youtuber. Jika artis Youtube, produsen podcast, serta selebtwit kalian ikut kategorikan pesohor, maka jangan berharap 2017 akan lebih ramah pada hidup orang-orang 'terkenal'.

Iklan

Kabar yang lebih sedih sebetulnya muncul dari ranah politik, daripada gegap gembita selebritas. Saya menghubungi sejarawan dan pengamat politik untuk memahami, apakah kita perlu khawatir melihat Donald Trump–sosok politikus tempramental yang berulang kali terbukti berbohong dan mendukung otoritarianisme—terpilih sebagai presiden negara adi kuasa. Tak hanya itu, Partai Republik menguasai mayoritas legislatif dan senat.

"Kita sepatutnya sangat khawatir menghadapi 2017, terutama karena ini masa-masa yang lebih rawan dibanding era manapun sepanjang Abad 20," kata Robin Kelley, sejarawan dari University of California Los Angeles. Di masa lalu, politikus konservatif seperti Trump dan gerombolan Partai Republik masih bisa ditekan oleh agenda-agenda progresif. "Misalnya saja dengan menuntut penerapan sistem negara kesejahteraan atau demokrasi sosial oleh demonstrasi warga," ujarnya. Di masa kepemimpinan Dwight J. Eisenhower, sosok presiden berpandangan sangat konservatif, masih muncul banyak layanan sosial. Sementara saat ini, menurut Kelley, mayoritas warga menganggap agenda pemerataan pembangunan dan keadilan sosial, "sebagai masalah. Terutama oleh mayoritas kulit putih di AS."

Semua pakar sejarah dan politik yang saya hubungi merasa pesimis melihat perkembangan politik AS dan global pada 2017. Terutama karena Trump dengan pandangan-pandangan kontroversialnya diyakini akan mengabaikan tatanan dunia untuk fokus pada kebijakan-kebijakan domestik yang disukainya. "Ya, kita harus merasa takut memang," kata Premilla Nadasen, guru besar sejarah di Barnard College.

Iklan

Kelompok nasionalis kulit putih, Alt-Right, sedang bangkit di AS. Menurut Nadasen, yang paling terdampak dari bangkitnya pandangan rasis serta nasionalis di Negeri Paman Sam adalah komunitas etnis minoritas dan perempuan. "Alt-Right yang paling mengkhawatirkan, karena sebagian dari mereka sungguh-sungguh menyebarkan gagasan kebencian bahkan seruan melakukan genosida," ujarnya.

Miguel Abram La Serna, guru besar di University of North Carolina Chapel Hill menyampaikan pandangan serupa. Sepanjang 2017, AS akan menjadi "ladang persemaian para bigot."

La Serna mengklaim jarang terjadi hal-hal baik ketika kelompok ultra-nasionalis menguasai pemerintahan. Dan kita tahu, bangkitnya kaum sayap kanan terjadi di AS, Inggris, banyak negara Eropa, serta Asia (termasuk sentimen anti-asing yang muncul di Indonesia). "Kita sedang menyaksikan perulangan sejarah, ketika nasionalisme ekstrem menjadi alasan manusia saling curiga pada sesamanya."

Grafis data peperangan. Semua data oleh Steven Pinker.

Pandangan berbeda setidaknya disampaikan oleh Dan Gardner, peneliti media. Dia menyatakan bahwa sangat wajar jika kita merasa masa depan lebih menakutkan dibanding masa sekarang. "Itu semua cuma ilusi optik," ujarnya. Gardner menyebutnya bias peristiwa, yaitu kecenderungan manusia membandingkan persoalan kekinian dengan masa lalu yang terasa lebih sempurna. Padahal, tidak ada hal sempurna dalam hidup, dulu maupun sekarang. "Di tahun berapapun, kita harus merasa bersyukur karena masih mengalami hal-hal baik," kata Gardner.

Iklan

Grafis perkembangan demokrasi

Saya pun menemui ilmuwan psikologi kognitif Steven Pinker. Dia memberi penjelasan senada seperti Gardner. "Grafik-grafik yang saya punya seharusnya menenangkan kita semua," ujarnya. Data yang dimaksud bisa kalian lihat di tulisan ini. Grafik pertama yang kalian lihat menunjukkan semakin sedikit manusia mati akibat peperangan, kendati konflik di Suriah tampaknya sudah sangat mengerikan. Artinya dunia secara obyektif sebetulnya lebih damai. Grafik berikutnya, persis di atas paragraf ini menunjukkan demokrasi menjadi sistem politik paling dominan di Planet Bumi, jauh melampaui pengaruh otokrasi.

Grafis sebaran wilayah terdampak terorisme

Hanya saja, grafik di atas ini, yang juga berasal dari data Pinker, memaksa siapapun tetap waspada. Aksi terorisme secara umum menurun di seluruh dunia. Namun, Pinker mengakui bahwa terorisme akan selalu bersifat acak, bisa terjadi di manapun, membuat banyak orang panik dan politikus terdorong lebih agresif meresponnya.

Pendek kata, jika terorisme yang acak menyasar warga sipil masih akan mewarnai pemberitaan dunia di masa mendatang, maka 2017 tetap punya peluang membuatmu sedih atau depresi.

Itu sebabnya, Gardner menyatakan tidak bisa sepenuhnya santai menghadapi tahun baru ini. "Pastinya tetap ada hal-hal yang terasa tidak pasti dan menakutkan, dipicu faktor berbeda-beda untuk setiap individu," ujarnya. "Tapi jangan sampai lupa, kita ini sebetulnya generasi umat manusia yang paling sehat dan punya harapan hidup paling tinggi sepanjang sejarah, walaupun akhirnya Donald Trump memimpin negara paling berkuasa di dunia."

Kesimpulan Akhir: Seberapa Perlu Kita Khawatir Menghadapi 2017?

3/5: Ya, waspada sajalah.

Follow Mike Pearl di Twitter .