Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.Berita abal-abal, media-media yang kelewat sensasional atau menyebar berita palsu sangat populer sepanjang 2016. Facebook—salah satu ladang subur penyebaran hoax—telah mengambil ancang-ancang lebih giat lagi memerangi penyebaran Hoax di sosial media. Facebook tak sendirian. Jauh sebelum Facebook menyatakan perang pada penyebaran Hoax, sekelompok akademisi dan jurnalis telah bahu membahu mencari solusi atas penyebaran hoax yang makin menjadi-jadi. Mereka berusaha membantu pengguna sosmed menjadi konsumen berita yang lebih awas serta menciptakan ekstensi khusus yang bisa digunakan untuk mengenali berita bodong.
Iklan
Ikhtiar paling mutakhir dan mungkin yang paling berbasis visual memerangi hoax adalah Hoaxy. Situs ini digagas oleh Filippo Menczer, profesor di Observatory on Social Media, Indiana University. Sejak tujuh tahun silam, Menczer mulai menjalankan proyek memerangi penyebaran hoax, mempelahari mekanisme jaringan sosial mengenali spam."Kadangkala kita masih terkaget-kaget melihat berita bohog tersebar luas. Viralitasnya sudah melampui prediksi awal saya," kata Menczer saat diwawancarai melalui surel. "Awalnya, saya berpikir berita yang kredibel bakal bisa lebih gampang dikenali daripada hoax. Nyatanya data terbaru menunjukkan kasusnya tak selalu seperti itu. Untuk memahami data ini, kami membuat sebuah model mengamati persaingan antar meme di media sosial. Model ini memprediksi ketika informasi begitu berlimpah, sementara perhatian yang bisa diberikan sangat terbatas, informasi berkualitas tinggi tak lebih mudah dikenali daripada informasi berkualitas rendah."
Hoaxy melacak cara sebuah berita abal-abal menyebar utamanya di sosial media. Segera setelah anda mentik sebuah istilah, Hoaxy segera menunjukkan beragam tautan yang membuat klaim tentang istilah itu (link yang muncul berdasarkan web-web yang sudah terdaftar) serta artikel yang telah melakukan pengecekan fakta terhadap klaim tersebut. Hoaxy juga menujukkan berapa kali sebuah klaim dan artikel yang sudah dicek kebenarannya dibagikan di Facebook dan Twitter. Semua data ini disajian dalam grafik ataupun diagram pohon khusus di Twitter."Sebelum membagi sesuatu, kita harus membacanya terlebih dahulu dan bertanya pada diri kita: apa saya yakin beritanya benar?"
Iklan
Menczer dan anggota timnya memisahkan berita abal-abal, hoax, rumor, teori konspirasi, satir atau bahkan reportase yang sahih. Mekanisme kerja mereka juga cukup berbeda dari organisasi independen pemeriksa fakta seperti snopes.com, politifact.com, dan factcheck.org. Anda bisa melihat bedanya pada contoh berikut "Media Mainstream Kebakaran Jenggot! Mereka Mati-Matian Membela Pemilik Comet Ping Pong Owner!" (klaim) dan "Bagaimana Pizzagate Berubah dari Berita Abal-Abal Menjadi Sebuah Masalah yang Nyata" (fakta).Jika anda Mengetik "Comet Ping Pong and child trafficking" di Hoaxy, anda akan memeroleh campuran antara artikel yang sudah dicek kebenarannya serta beragam klaim. Namun, jika anda hanya memasukkan #pizzagate, hasil yang keluar akan jauh berbeda: ada lebih banyak klaim daripada fakta yang sudah dikonfirmasi kebenarannya.
"Kalau kita memeng benar-benar ingin menghapus pengaruh berita abal-abal dalam masyarakat kita, yang pertama harus kita adalah memahami cara berita-berita menyesatkan ini menyebar," ujar Menczer dalam sebuah penyataan resmi Indiana University. "Perangkat seperti Hoaxy penting sekali dalam proses ini"Menczer dengan sangat hati-hati menjelaskan bahwa hoaxy tidak dirancang untuk menentukan mana berita yang benar dan mana yang abal-abal. Hoaxy hanya menyediakan kanal untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak. Bagi pembaca berita awam yang ingin meningkatkan asupan berita, Menczer mewanti-wanti bahwa bahwa bahkan opini mereka sendiri bisa dimanipulasi. "Agar tak menjadi pelaku atau bahkan korban penyebaran hoax, pengguna Internet harus terlebih dahulu paham bahwa informasi yang mereka terima mengandung bias dan dibuat sesuai dengan preferensi dan kepercayaan mereka," Ujarnya. "Makanya, untuk menghindari efek ruang pantul dalam penyebaran informasi, sebaiknya tidak men-unfollow cuma gara-gara mereka berbeda pendapat."Menczer juga memberikan sebuah saran lain, tapi, sepertinya sudah kenyang mendengarnya: pikir-pikir dulu sebelum membagi sebuah informasi di media sosial."Pembaca berita juga harus berhati-hati ketika membagi sebuah berita. Sebelum membagi sesuatu, kita harus membacanya terlebih dahulu dan bertanya pada diri kita: apa saya yakin beritanya benar?"
