Food

Alkohol yang Dibagikan Gratis Bisa Mempengaruhi Pemilu Amerika Serikat

Menggunakan minuman keras atau makanan demi mempengaruhi pemilu Amerika Serikat—entah tujuannya menyogok (dengan asumsi pemilih bersedia mengubah dukungannya demi imbalan sekecil itu) atau menekan suara (membuat pemilih terlalu mabuk sebelum berangkat...
9.11.16

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Dua belas bulan terakhir di Amerika Serikat penuh dengan badai patriotisme berlebihan dan kebencian dari para pendukung partai politik. Banyak aspirasi dan kehidupan warga AS dirusak selama masa kampanye kedua kandidat. Sayangnya, kita semua harus menerima bahwa figur semacam Rudy Giuliani—mantan walikota New York yang kini mendukung Donald Trump dan kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial—malah masih hidup dan berkeliaran. Jangan lupakan juga ubun-ubun bayi yang basah hasil dicium para politisi yang berusaha membuat pencitraan.

Iklan

Di saat-saat genting pemilu US, selalu muncul gosip adanya metode-metode licik dan absurd yang digunakan oleh para pendukung partai untuk memenangkan kandidat pilihan mereka. Menurut Politico, kaum nasionalis kulit putih dan neo-Nazi berusaha menekan suara kaum kulit hitam dengan cara membagikan alkohol dan ganja gratis di daerah-daerah "ghetto" pada hari H pemilu.

Rencana ini merupakan bagian dari pergerakan kaum sayap kanan alternatif untuk melawan "pemilu yang dicurangi," seperti yang diklaim Trump. Trump telah meminta semua pendukungnya untuk "mengawasi" proses pengambilan suara di seluruh penjuru AS karena takut kecurangan terjadi—sebuah tuduhan yang tidak berbasis fakta.

Taktik pemberian alkohol dan ganja gratis ke massa dipelopori oleh Andrew Anglin, seorang figur neo-Nazi terkemuka, pendiri situs The Daily Stormer, dan juru bicara situs sayap kanan alternatif yang populer bernama Right Stuff. Andrew dan kawan-kawannya berniat membuat banyak pemilih mabuk dan giting sampai mereka lupa ke TPU untuk memilih.

The Right Stuff membeberkan, "Kami…mengirim beberapa tim ke daerah ghetto di Philladelphia membawa alkohol dan ganja dan membagikannya ke penduduk lokal. Menurut kami ini akan membuat mereka tinggal di rumah."

Menggunakan minuman keras atau makanan untuk mempengaruhi pemilu—entah dengan menyogok (dengan asumsi pemilih bersedia melakukan ini hanya untuk imbalan kecil) atau dengan menekan suara (membuat pemilih terlalu mabuk untuk ke TPU)—bukanlah hal baru.

Iklan

Nyatanya, praktik ini dimulai sejak jaman presiden pertama AS, George Washington. Praktik ini dulu disebut sebagai "mencekoki pemilik perkebunan dengan bumbo"—bumbo adalah minuman sejenis rum. Kala itu, pemilik perkebunanlah yang memiliki hak pilih. Kini, ganti saja pemilik perkebunan dengan kaum minoritas, namun ide dasarnya tetap sama.

Di era George Washington, minum-minum dengan para pemilih—dan membayari mereka makanan dan alkohol—dianggap keren. Memberikan "hadiah" yang dibalas dengan pemberian suara memang tindakan ilegal (bahkan pada masa itu) namun membayari teman-teman anda alkohol di bar terdekat dianggap sah. Malah ini dianggap sebagai etika yang baik.

Kabarnya, Washington belajar strategi ini ketika dia sedang mencoba menjadi anggota House of Burgessess di Virginia pada tahun 1755. Waktu itu Washington masih "lurus". Dia mengeluh akan banyaknya masyarakat yang mabuk dan dia menolak untuk berkampanye di bar-bar setempat. Pada akhirnya dia kalah telak di pemilihan kala itu. Namun menurut buku Last Call: The Rise and Fall of Prohibition karya Daniel Okrent, Washington belajar dari pengalamannya dan menggunakan strategi alkohol ini di pemilu dia berikutnya. Dia menghabiskan sekitar setengah galon alkohol bagi setiap pemilih—sekitar 50 galon rum punch, 46 galon bir, 28 galon rum dan 34 galon anggur. Dia menang pemilu kali itu.

Pada tahun 1777, James Madison kalah di pemilu karena tidak menggunakan strategi ini. Perlu diingat bahwa alkohol bukanlah satu-satunya cara untuk memenangkan suara. Pada 1876, sebelum pemilu berlangsung, partai Republik di Brooklyn mengadakan acara BBQ dan memanggang dua ekor sapi guna menyajikan sandwich bagi 50 ribu orang. New York Times menyebut acara ini "salah satu peristiwa paling luar biasa yang pernah diselenggarakan di daerah tersebut." Partai demokrat melakukan hal yang sama pada 1870 ketika mereka memanggang seekor sapi, domba, sapi muda dan babbi jantan—namun saking banyaknya pemilih yang hadir, beberapa marah karena tidak kebagian makanan.

Iklan

Namun, semenjak 1948, praktik "pembelian" suara ini—entah dengan makanan, alkohol dan lainnya—benar-benar ilegal. Hal ini dipastikan ketika beberapa tahun yang lalu, sebuah bar bernama Capitol City Brewing Company dilarang membagikan mug bir ke setiap orang yang membawa stiker "I Voted".

Ini dijelaskan di Undang-undang Pidana Amerika Serikat Bab 18 Pasal 597 yang menyatakan "Siapapun yang mengeluarkan uang bagi pemilih, entah untuk mendapatkan atau menahan suara bagi diri sendiri atau kandidat lain; dan siapapun yang meminta atau menerima hadiah dalam bentuk apapun sebagai pertukaran atas hak pilihnya—akan didenda berdasarkan Bab ini atau masuk penjara selama setahun, atau keduanya; dan apabila pelanggaran ini disengaja, akan dikenakan denda berdasarkan Bab ini atau masuk penjara selama dua tahun, atau keduanya."

Makanan atau alkohol yang "ditukar" dengan hak pilih memang dilarang. Namun bisnis bisa menghindari perkara hukum ini dengan cara memberikan makanan atau alkohol ke publik umum—tidak hanya para pemilih. Pada tahun 2008, perusahaan Ben & Jerry's mengalami hal ini. Awalnya mereka menawarkan es krim gratis ke para pemilih, namun kemudian mereka ralat menjadi tawaran es krim gratis bagi semua orang.

Jangan pikir FBI tidak akan bertindak apabila kasus suap semacam ini terjadi. Pada tahun 2012, seorang senator Partai Demokrat bernama Hudson Hallum membagikan vodka ke para pemilihnya. Pembelaan dia: "Kirain…semua orang begitu." Pada akhirnya, dia bersama sembilan orang yang terlibat mengaku bersalah atas konspirasi korupsi pemilu.

Hukum memang melarang pertukaran hadiah dengan hak pilih, namun para kaum sayap kanan alternatif mempunyai cara baru untuk mempengaruhi hak pilih seseorang—dengan membuat mereka mabuk. Dulu pernah ada pelarangan sale alkohol di hari pemilu di beberapa negara bagian, namun pada 2014, South California menjadi negara bagian AS terakhir yang menghapus hukum tersebut.

Apakah skema ini hanya sebuah pertaruhan berdasarkan teori rasis bahwa kaum minoritas hanya ingin mabuk dan giting dan tidak peduli dengan hak mereka sebagai warga negara AS? Mudah-mudahan saja begitu.

Apapun hasilnya, orang akan selalu berusaha mempengaruhi pemilu menggunakan alkohol dan makanan hingga di masa depan.