Burgermu Tak Seperti dalam Iklan? Sayalah Biang Keroknya
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Food

Burgermu Tak Seperti dalam Iklan? Sayalah Biang Keroknya

Ketika anda memotret sepotong ayam, sejatinya dagingnya belum dimasak, cuma dipoles dengan semir sepatu.
23.10.16

Artikel ini pertama kali dimuat dalam bahasa Prancis di MUNCHIES FR.

Selamat datang kembali ke Restaurant Confessional, tempat kita bicara dengan suara-suara yang selama ini tak pernah terdengar di industri restoran, dari lini paling depan sampai paling bontot restoran tentang kejadian di belakang dapur tempat-tempat makan favorit anda. Di episode kali ini, seorang perempuan muda membeberkan karir uniknya dalam dunia gastronomi: seorang culinary stylist alias penata visual makanan.

Iklan

Saya seorang food stylist—atau bolehlah anda sebut "culinary stylist". Biasanya jika saya menyebut nama profesi saya, tak satupun paham apa yang saya maksud. Mestinya seiring makin ramainya tayangan kuliner di TV, orang paham bahwa pekerjaan saya benar-benar ada.

Dulu, food styling tak lebih dari sekadar ilusi optik belaka, sampai sekarang pun demikian. Misalnya, ketika anda memotret sepotong ayam, sejatinya dagingnya belum dimasak, cuma dipoles dengan semir sepatu. Kasusnya sama dengan burger yang digeser, dibolak-balik agar terlihat lebih besar, lalu biji wijen yang ada di permukaan roti sesungguhnya diletakkan satu persatu dengan capit agar kelihatan lebih menarik. Tak cuma itu, sendokan es krim yang bikin ngiler itu, seperti juga busa kopi, sejatinya palsu.

Kerap kali, makanan ini tak dibuat dengan bahan asli; semua sintetik. Saya sih secara pribadi jarang menggunakan trik-trik ini. Alasannya? Bagi saya ini perkara masak-memasak bukan kelas kimia dasar.

Saya bisa berlama-lama di supermarket. Tak jarang, saya mendapat tatapan aneh dari pengunjung karena membandingkan 2 buah tomat selama satu jam. Percayalah, saya hanya mencoba mendapatkan tomat dengan bentuk yang sempurna.

Kadang, anda harus sedikit curang. Alasannya sederhana saja: produk yang ada susah dihias. Beberapa waktu lalu, saya harus memasak seekor ikan yang terlalu besar untuk semua peralatan masak yang ada. Demi mengakalinya, akhirnya saya harus memoles ikan tersebut. Meski terpaksa curang, saya toh tetap merendamnya dengan kaldu sapi muda. Jadi, saya jelas tidak menggunakan trik tipu-tipu kuno. Saya akui, saya kadang menggunakan vaporiser guna membuat makanan terlihat lebih mengkilap dan segar. Alat yang sama saya gunakan meniru tetesan uap dalam segelas jus. Saya juga memasak sayuran dengan sparkling water agar warnanya tak pudar. Meski kerap curang, ada satu prinsip yang selalu saya hormati: saya tak akan menjual makanan yang saya sendiri tidak bersedia memakannya.

Food Styling bukan sekadar masalah mengatur makanan di atas piring. Satu foto saja bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Kadang, saya harus turun tangan mengurus semuanya sebelum sebuah sajian akhirnya dipotret. Saya harus menemukan kain meja yang tepat, alat makan yang pas dan bunga yang sesuai dengan komposisi yang saya inginkan.

Iklan

Jika beberapa studio foto mengkhususkan diri pada fotografi makanan dan punya bermacam-macam properti, saya sebaliknya kerap harus mulai dari nol dan melakukan segalanya sendiri. Percayalah, IKEA tak akan semudah itu meminjamkan empat mangkuk untuk keperluan foto anda. Belum lagi, belanja bahan baku makanan saja sudah bisa menghabiskan waktu seharian. Alhasil, saya kerap berlama-lama di supermarket dan mendapat tatapan aneh dari para pengunjung lainnya karena terlalu lama membandingkan dua buah tomat memilih tomat yang paling sempurna bentuknya. Jadi anda bisa bayangkan, sebagai culinary stylist, menulis daftar belanjaan adalah sebuah proses yang sangat krusial. Saya tak bisa lagi santai saat mencorat-coret daftar belanjaan saya.

Foto yang saya kerjakan kebanyakan muncul di majalah, kampanye iklan dan pariwara di TV—ya sebangsa itu lah. Saya juga mengerjakan proyek-proyek yang tak begitu komersil. Tapi agar dapur saya tetap ngebul, saya harus tetap menjaga hubungan baik dengan merk-merk besar. Jika anda tidak terlibat dalam bisnis makanan, wajar jika anda berpikir bahwa food styling hanyalah kegiatan pendukung saja. Tapi nyatanya, ini adalah sebuah dunia yang keras. Malah, kadang saya menerima pesanan dan tuntutan dari mereka yang bahkan ke dapur saja tak pernah. Orang tak akan pernah paham bahwa kadang butuh 3 jam untuk sekadar menaruh sepotong pisang di atas piring.

Orang susah memahami bahwa kadang butuh 3 jam untuk sekadar menaruh sepotong pisang dalam sebuah piring.

Suatu hari, dalam sebuah pengambilan gambar untuk iklan TV, sang manajer produksi (gampangnya orang yang menjaga proses pengambilan gambar sesuai dengan rencana) mengaku pada saya kalau dia baru mengerti apa itu food stylist sehari sebelumnya. Di kesempatan lain, seorang project manager minta saya agar hasil fotonya terlihat "seksi dan bikin ngiler." Jujur saja, ia sebenarnya mau apa? Pingin lihat yogurt pake bikini gitu?

Saya juga pernah dapat bos yang kacau balau—tipe bos yang tak punya perencanaan sama sekali. Semua yang dia lakukan cuma berdasarkan insting. Suatu hari, karena ingin pulang lebih awal, dia memasak semua makanannya lebih dulu. Sayang, keju yang harusnya terlihat meleleh dalam foto, tak lagi terlihat seperti itu 2 jam kemudian. Inilah mental pekerja kantoran yang ingin buru-buru cabut jam 5 sore di hari Jumat. Saya sadar proses pemotretan makanan itu menyebalkan tapi ini kenyataannya: makanan tak menunggu siapapun. Sesi pemotretan makanan adalah hari-hari yang panjang dan melelahkan. Saya meninggalkan tempat tinggal saya pukul 7 pagi, sampai di lokasi jam 9 pagi, bekerja nonstop sambil berdiri sampai jam 8 malam.

Sekarang, setiap kali saya menemukan gambar makanan di blog, saya langsung naik pitam. Orang-orang masih mengatur makanan seperti tahun 1940-an. Sudutnya jelek dan beberapa bahan tak sesuai dengan resep. Ketika para "duta" makanan ini memamerkan bahan makanan yang sedang tidak musim, yang harus diterbangkan sejauh 7.000 kilometer dalam pesawat kargo yang dingin, darah saya mendidih. Contohnya, seorang menaruh tomat dalam sebuah blog resep di bulan November. Ini sih sudah keterlaluan.

Keahlian Food Styling bukan bakat sembarang orang. Banyak orang susah memahami bahwa kadang butuh 3 jam sekadar menaruh sepotong pisang dalam sebuah piring. Untuk menjadi seorang culinary stylist, anda harus memiliki pendekatan tertentu terhadap makanan. Pekerjaan ini tak cocok untuk anda jika anda tak peduli tentang makanan, bahan makanan dan citarasanya—atau gampangnya, jika anda tak peduli apa yang anda masukkan ke mulut.

Seperti yang diceritakan ke Elisabeth Debourse.