Sajian mi dari restoran bertema konflik pulau Jepang-Cina
Semua foto oleh penulis
Kuliner Cina

Restoran Mi di Beijing Ini Antarkan Pesanan Pakai Jet Tempur

Dari semua restoran unik di Cina, Diaoyu Malatang Noodle Shop jadi yang paling menonjol karena berkonsep patriotik. Restoran itu mengangkat tema sengketa pulau antara Cina dan Jepang.
2.1.19

Saat mengunjungi Beijing, kalian pasti menyadari betapa kota ini dipenuhi berbagai restoran paling mengesankan sedunia. Pilihannya pun sangat beragam, mulai dari warung makan bebek Peking hingga restoran dim sum mewah. Meski demikian, deretan restoran-restoran unik ini tak ada apa-apanya dibanding rumah makan yang bertema kepulauan di perairan timur Tiongkok, di mana Cina dan Jepang saling memperebutkan hak kepemilikan atas sebuah pulau.

Karena alasan itulah Diaoyu Islands Malatang Noodle Shop dibuka di Distrik Chaoyang, Beijing. Pasangan suami-istri Zhang Yan Chun Zi dan Lu He memanfaatkan konflik sengit di sekitar kepulauan (Jepang menyebutnya Pulau Senkaku) mendirikan rumah makan mereka.

Tiongkok dan Jepang sama-sama mengaku sebagai pemilik sah pulau tak bertuan itu. Perselisihan kedua negara tersebut meningkatkan bahaya konflik militer di Laut Cina Selatan.

Plane hanging

Semua foto oleh penulis.

Pesawat tempur kecil Cina tergantung pada tali di langit-langit restoran, tepat di atas pengunjung yang sedang asyik menyeruput mi. Replika senapan mesin di sudut ruangan dan wallpaper bergambar pulau tersebut turut melengkapi dekorasi interior tempat ini. Papan tanda berbunyi “Kepulauan Diaoyu masih wilayah Cina” terpampang di dinding.

Zhang mengenakan jaket militer, sementara Lu memakai rompi loreng anti peluru. Restoran ini kedengarannya mengerikan, ya? Tenang saja. Kenyataannya tidak seseram itu. Pasutri ini menyambut dan melayani setiap pelanggannya dengan sikap hangat dan bersahabat.

Iklan

"Kami terinspirasi oleh semangat nasionalisme dan rasa tanggung jawab untuk menjaga wilayah kami. Sebagai perempuan Tiongkok, saya ingin melindungi pulau-pulau tersebut dengan cara saya sendiri," kata Zhang, mantan pekerja di Kamar Dagang Tiongkok.

Mendirikan warung mi mungkin tidak berkontribusi langsung dalam melindungi kepulauan tersebut, tetapi ini adalah cara yang efektif untuk menunjukkan semangat patriotisme. "Saya bekerja di industri ekspor impor dan membantu perusahaan milik negara menghindari risiko pertukaran asing. Saya mencintai negaraku," kata Lu. "Kami ingin menggunakan restoran ini untuk memperjelas posisi kami kepada dunia dan memamerkan semangat anak muda Tiongkok."

Couple posed

Sikap patriotiknya meningkat ketika Lu mengikat mangkuk hot pot dengan tali dan memencet tombol. Mangkuknya bergelantungan dan meluncur dari sistem konveyor. Kita bisa melihat gambar jet tempur yang ditempel di bawah mangkuk sebelum mendarat di atas meja logam dan tempat memasak.

Meja makannya sendiri merupakan replika Liaoning, kapal induk buatan Ukraina yang sekarang menjadi pusat Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat. "Mejanya didesain secara detail mengikuti benda-benda asli di Liaoning sungguhan," kata Lu yang sedang berada di dapur agak kotor berukuran 4,5 meter. "Mejanya bisa mengambang di air kalau kamu mencoba menenggelamkannya."

Kita tidak bisa menguji kebenaran ucapannya, tetapi Zhang siap menjelaskan pentingnya kapal induk pribadi yang mereka miliki itu. Menurutnya, warung makan ini didirikan berdasarkan empat prinsip kota yang dipromosikan oleh pemerintah Beijing: patriotisme, inovasi, inklusivitas, dan kebajikan.

Flying system
Bowl flying

"Yang pertama tentunya patriotisme," katanya seraya menunjuk ke arah bendera Tiongkok yang digantung di area memasak utama dan replika senapan mesin. "Kamu bisa melihat sisi inovatifnya dari meja berbentuk kapal induk dan sistem antar makanan kami," imbuhnya, bersamaan dengan mendaratnya mangkuk bergambar pesawat di bagian bawah.

Aspek “inklusivitas” lebih sulit dipercaya, mengingat bahwa basis restoran ini adalah konflik antara Tiongkok dan Jepang. "Kami memberi diskon kepada orang Jepang yang mengaku kedaulatan Tiongkok atas Kepulauan Diaoyu," ucap Zhang. "Begitu seharusnya cara kerja inklusivitas." Diskon tersebut belum pernah diklaim siapapun.

Customers and wall

Zhang dan Lu bersikeras bahwa restoran mereka tidak memproyeksikan sentimen anti-Jepang, dan bahwa orang Jepang diterima di restoran mereka. “Pernah ada jurnalis Jepang yang ke sini yang agak sayap kanan,” kata Lu.

"Dia takut dia takkan diperbolehkan masuk tanpa mengucap kata-kata ‘Kepulauan ini milik Tiongkok,’ tapi dia diterima dan mencobai hidangan seperti granat [pisang goreng] dan peluru meriam [ubi madu goreng]."

Serving staff

Lu juga berusaha mengakhiri perseteruan para karyawan di luar restorannya, karena ada rumah makan Jepang di sebelah. "Kadang karyawan dari situ berteriak ‘Kepulauan ini milik Tiongkok!’ setengah bercanda ketika mereka melewati restoran kami," katanya. "Kalau itu terjadi kami meminta mereka masuk ke dalam daripada teriak-teriak di luar."

Seperti banyakan restoran-restoran bertema aneh di Asia, bukan kualitas makanan Diaoyu Islands Malatang Noodle Shop yang menarik pelanggan, tetapi hidangan hot pot dan mie restoran ini lumayan enak dan segar. Lagipula, semua makanan menjadi lebih lezat ketika diantar oleh pelayan berseragam angkatan laut setelah mendarat di mejamu di sebuah kapal induk.

Aku berharap akan meninggalkan restoran itu dengan kesan xenofobik dan perut kenyang dengan mie tomat. Tetapi Zhang dan Lu begitu ramah, aku tidak bisa membayangkan mereka bersikap seperti PLA bahkan kalau ada yang meletakkan taplak meja bendera Jepang dan menembak jet tempur dengan pistol airsoft.

"Kami berharap kedua bangsa ini bisa mencapai solusi berdamai mengenai isu kepulauan ini," kata Lu. "Baik Tiongkok maupun Jepang tidak mau berperang. Itu yang kukatakan kepada jurnalis Jepang dan dia bilang, 'Ya, kami berteman dan saya akan kembali.'"

Machine gun

Nah, itu dia: daripada berperang, mendingan bikin mi.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES