'Mereka Menyiksa Sampai Kami Tak Berdaya': Pengakuan Tragis Pengungsi Rohingya
Pembantaian Rohingya

'Mereka Menyiksa Sampai Kami Tak Berdaya': Pengakuan Tragis Pengungsi Rohingya

Berikut kesaksian menyesakkan seorang pengungsi Rohingya akibat tindak kekerasan militer Myanmar, saat mencoba kabur ke Bangladesh.
13.9.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

COX BAZAAR, BANGLADESH — "Mereka memukuliku dan menggores leherku," kata Rashida, perempuan 25 tahun. Rashida duduk di atas kursi plastik, menunggung ambulan datang. Jarak antara kami dan perbatasan Bangladesh, yang dilalui Rashida buat menyelamatkan diri dari Provinsi Rakhine delapan hari lalu, hanya terpaut beberapa meter saja.

"Bayiku tewas, begitu juga suamiku," kata Rashida. Dia tidak menemukan jasad keduanya, tapi Rashida yakin tak ada peluang bagi mereka selamat. Nafasnya keluar bersama suara serak yang menggema dari dalam kerongkongannya saat menceritakan pengalamannya kepadaku. Ada dua bekas luka yang kelihatan mulai terinfeski di leher Rashida. Perempuan malang ini belum mendapatkan perawatan medis memadai setelah selamat dari serangan brutal segerombolan lelaki bersenjata di wilayah Myanmar.

Iklan

Bersama arus pengungsian besar-besaran minoritas muslim dari Myanmar menuju Bangladesh, bukan cuma Rashida yang mengalami cerita menyedihkan jadi korban upaya pembunuhan, pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan pasukan militer Myanmar dan kelompok buddha ultranasionalis. Juru bicara militer Myanmar mengaku pihaknya cuma menggelar "operasi pembersihan" terhadap gerilyawan pemberontak Rohingya yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan kepada polisi Agustus lalu. Pengakuan Rashida mengungkap fakta yang sepenuhnya berbeda.

Desa yang ditinggali Rashida, Tula Toli, menjadi korban serangan militer terkeji yang pernah terjadi setelah eksodus etnis Rohingya membanjiri Bangladesh dua minggu lalu. Jumlah pengungsi Rohingya di Cox Bazaar mencapai ratusan ribu jiwa hingga berita ini dilansir, dan terus bertambah.

Rashida (25 tahun), penyintas pembantaian di desa Tula Toli, Myanmar. Foto oleh Kathleen Prior

Rashida tengah menimang-nimang putranya yang baru berusia satu bulan, ketika serangan tentara dan milisi terjadi, 30 Agustus lalu. Bersenjatakan golok dan senjata api, aparat keamanan Myanmar melancarkan serangan sistematis yang berlangsung selama beberapa jam. Mereka baru angkat kaki setelah menghancurkan sepenuhnya desa Tula Toli.

Awalnya perempuan dan anak-anak dipisahkan lelaki dewasa, kenang Rashida, sebelum didorong ke tepian sungai. Mereka terperangkap saat gerombolan penyerang mulai menembaki Rashida dan rombongan warga desanya tanpa henti. Beberapa nekat terjun ke sungai, berenang melawan arus berharap bisa selamat selagi dihujani peluru. Saat korban mulai berjatuhan di sekitarnya, Rashida menjatuhkan diri menghindari desingan pelor. Dia berusaha menyembunyikan bayinya dalam lipatan kerudungnya. Mendadak tembakan berhenti sejenak. Prajurit Myanmar berteriak meminta yang masih bernyawa berdiri. Lalu, tembakan dimulai kembali.

Iklan

Selesai menghabisi penduduk Tola Tuli, gerombolan penyerang menggali lubang dan mengisinya dengan mayat-mayat. Tubuh Rashida dipegang dan diseret oleh salah satu prajurit. Ketika sadar Rashida masih bernyawa, prajurit itu memukul kepala Rashida dengan gagang golok hingga dia tergolek pingsan.

Ratusan ribu penduduk Rohingya kini berada di Cox Bazaar, perbatasan Bangladesh, setelah kabur dari Myanmar. Foto oleh Kathleen Prior

Saat Rashida siuman, keadaan di sekitarnya gelap. Bayinya turut lenyap. Rashida baru melahirkan anak pertamanya itu sebulan sebelumnya. Rashida kehilangan bayinya, bahkan sebelum sempat memberikan nama.

Para prajurit Myanmar lantas menyeret tubuh Rashida ke sebuah rumah. Di sana, bersama tujuh perempuan lainnya, dia diperkosa dan dipukuli. Rashida tak pernah tahu berapa jam dirinya jadi korban kekerasan kelompok yang sebagian personelnya memakai atribut militer Myanmar ini. Prajurit-prajurit tadi akhirnya membakar rumah itu dan meninggalkan mereka begitu saja.

"Mereka terus menyiksa sampai kami tak berdaya," ujar Rashida, "tapi aku cuma berbaring di rumah itu, pura-pura mati, agar mereka berhenti. Saat rumah itu mulai dilalap api, aku menggunakan sisa-sisa tenagaku merangkak keluar."

Rashida menyembunyikan diri di tengah hutan sampai kondisinya tenang. Dia lantas kembali ke desanya mencari anaknya. Setelah kembali ke desanya yang hangus dan tak berhasil menemukan anaknya, Rashida memulai perjalanan panjang menuju perbatasan Bangladesh.

Arus pengungsi masih terus berdatangan ke Cox Bazaar sejak dua pekan terakhir. Foto oleh Kathleen Prior

Selama 18 hari terakhir, lebih dari 370.000 pengungsi Rohingya tiba di Bangladesh. Mayoritas pengungsi tak membawa apa-apa kecuali pakaian yang mereka kenakan dan barang-barang yang bisa mereka bawa semampunya. Kini musim hujan melanda Bangladesh. Pengungsi-pengungsi ini terperangkap di bawah terpal. Tubuh mereka tergenang air dan penuh noda lumpur. Mereka tak tahu harus berjalan ke mana lagi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan kebutuhan dana sebesar US$77 juta untuk menangani krisis kemanusiaan di perbatasan Myanmar-Bangladesh. Menurut PBB, kebutuhan pengungsi yang mendesak dipenuhi adalah makanan, tempat perlindungan, air bersih dan layanan kesehatan.

"Aku sangat bersyukur atas keajaiban kecil ini."

Tak lama setelah kami bicara, Rashida dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Dia belum tentu akan segera ditangani layak. Tenaga kesehatan di Cox Bazaar sudah kewalahan menangani ribuan pengungsi Myanmar yang luka dan sakit.

Dekat kamp pengungsian di Bakhuli, berita kedatangan Rashida menyebar dari mulut ke mulut, hingga sampai ke telinga Mohammed Hussein (27 tahun). Dialah suami Rashida yang dikira telah tewas saat desa mereka diserang. Hussein sedang membangun gubuk perlindungan dari plastik dan bambu. Ketika berita itu sampai, Hussein langsung meletakkan semua perkakas yang ia pegang, berlari menuju klinik.

Hussein kabur dari Tula Toli setelah serangan militer. Dia mengira istrinya, Rashida, ikut tewas. Pasangan ini tidak menyangka bisa bertemu kembali di rumah sakit, tempat Rashida dirawat karena luka-luka serius.

Hussein kabur dari Tula Toli setelah desanya diserang. Dia percaya bahwa istri dan bayinya jadi korban tewas bersama banyak penduduk desa lainnya. Hussein menyelamatkan diri ke Bangladesh. Makanya dia terkejut mendengar istrinya selamat meski terluka parah. Kedua sejoli ini dipersatukan kembali di rumah sakit tempat Rashida dirawat.

"Aku memeriksa setiap tempat duduk," ujar Hussein. "Ketika aku melihatnya dan mendengar apa yang militer Myanmar lakukan pada istriku, air mataku tak berhenti menetes."

Iklan

Hussein menginap semalam di rumah sakit bersama Rashida. Keesokannya, dia kembali ke kamp pengungsian guna membangun tenda yang bakal ditinggali sang istri jika sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

"Aku pikir istriku sudah tewas. Dia juga berpikir aku sudah tewas," tutur Hussein. "Aku sangat bersyukur atas keajaiban kecil ini." *Kathleen Prior adalah reporter dan fotografer lepas.


Berikut laporan lain dari VICE menyoal isu pelanggaran HAM berat militer Myanmar terhadap Rohingya:

Akibat Serangan Sistematis, Ratusan Ribu Warga Rohingya Dipaksa Kabur Dari Myanmar ke Bangladesh Tindakan militer Myanmar Terhadap Warga Rohingya Sudah Layak Disebut Pembersihan Etnis Klub Sepakbola Para Pelarian Rohingya Mengampanyekan Nasib Mereka Pada Warga Dunia