Investor Apple Khawatir Anak-anak Terus Kecanduan Smartphone

Dua pemegang saham terbesar Apple meminta raksasa Silicon Valley untuk melakukan sesuatu atas kecanduan anak-anak terhadap smartphone.
9.1.18

Dalam sebuah surat terbuka yang dirilis pada akhir pekan lalu, Jana Partners and the California State Teachers’ Retirement System (CalSTRS) menyampaikan mereka ingin Apple mulai meneliti dan menawarkan orang tua perangkat dan informasi yang lebih mumpuni soal penggunaan smartphone yang tepat, karena khawatir atas tujuan perusahaan tersebut. Meski tidak ada informasi konklusif soal dampak penggunaan smartphone terhadap kesehatan anak-anak, penelitian yang ada seharusnya memberikan Apple, dan perusahaan teknologi lainnya, dan konsumen alasan kuat untuk khawatir.

Dua investor—yang menguasai sekitar $2 miliar saham Apple, menurut Wall Street Journal—mengutip penelitian dan kerja sama dengan pakar kesehatan dari Harvard dan San Diego State (dan juga penyanyi Sting dan istrinya yang seorang aktivis, Trudie Styler). Surat tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan smartphone berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif, dan bahwa Apple belum melakukan upaya cukup untuk menanggulangi kemungkinan bahaya tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, kedua investor menjelaskan bahwa mereka memandang masalah ini sebagai dilema moral dan potensi ancaman jangka panjang terhadap nilai Apple, sebagai produsen smartphone terbesar kedua di dunia berdasarkan jumlah, karena orang tua akan memandang merek Apple sebagai bahaya.

“Ada konsensus yang berkembang di seluruh dunia, termasuk Silicon Valley, bahwa potensi konsekuensi jangka panjang dari teknologi baru perlu dipertimbangkan pada outsetnya,” tulis Jana, rekan pengelola Barry Rosentstein dan eksekutif CalSTRS Anne Sheehan dalam surat terbuka tersebut.
Dampak negatif dari penggunaan smartphone berlebihan—dan dari layanan media sosial sebagian besarnya diakses melalui ponsel-ponsel—belum jelas. Namun Jana, CalSTRS, dan penelitian saat ini menyimpulkan bahwa ada alasan kuat untuk khawatir:

“Terpapar teknologi digital 24/7 bukan hanya soal kebiasaan, namun hal esensial dari cara mereka membangun dan mengelola perkawanan dan kehidupan sosial,” sebagaimana dinyatakan penelitian terhadap 1,000 pelajar di seluruh dunia yang dipimpin University of Maryland.

Meski para peneliti Spanyol tidak bisa secara ajek menjabarkan penggunaan ponsel yang lebih luas, atau “kecanduan”, pada 2016, mereka mengamati bahwa di antara 15,000 sampel global, “sangat mungkin bahwa kita menganggap ponsel sebagai objek yang mudah menjadi candu bagi kepribadian rentan, candu, atau problematik.”

86 persen warga Amerika “secara konstan atau sering memeriksa email mereka, chat, dan akun-akun media sosial,” menruut laporan tahun 2017 oleh American Psychological Association-Harris Poll survey terhadap 3,511 orang dewasa, dan “ikatan pada alat-alat dan penggunaan teknologi secara konstan diasosiasikan dengan stres tingkat tinggi di kalangan warga Amerika tersebut.”

Tuntutan publik Jana Partners terhadap Apple soal kesehatan publik tidak umum bagi sebuah firma investasi, yang, sebagaimana hedge funds kebanyakan, intinya khawatir soal isu-isu keuangan. Meski demikian, firma ini ingin mengenalkan sebuah dana “investasi berdampak” akhir tahun ini agar warga korporat bisa melakukan bisnis yang lebih baik.

Apple tidak menanggapi permintaan berkomentar dari VICE News. Dulu, Apple berhasil menangkis investor aktivis seperti Carl Icahn, yang menjual sahamnya di perusahaan tersebut pada 2016 setelah gagal mendorong Apple untuk mengembalikan uang lebih banyak pada investor.

Meski CalSTRS dan Jana merupakan dua investor individu terbesar di Apple, saham mereka senilai $2 miliar hanyalah sekitar .002 persen dari pasar kapitalisasi Apple senilai $896 miliar.