Hip Hop Dilarang Pemerintah Iran, Tapi Kancah Rap Bawah Tanahnya Tumbuh Subur
Safir, salah satu musisi hip hop di Teheran. Foto - Quentin Müller
Hip Hop di Iran

Hip Hop Dilarang Pemerintah Iran, Tapi Kancah Rap Bawah Tanahnya Tumbuh Subur

“Di Iran, kami punya banyak hal terlarang, tapi apakah aturan itu mencegah kami melakukannya? Tentu saja tidak."
7.5.18

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Prancis

Omid, juga dikenal sebagai Safir, membuka sebuah pintu cafe di Teheran, ibukota Iran. Di jendela cafe, ada sebuah tanda yang menganjurkan pelanggan untuk “tetap tenang agar tidak menganggu musik”. Suasana cafe itu nyaman, ala-ala hutan, dengan banyak tanaman hijau digantung di tengah lautan hipster berjenggot mengenakan kalung salib Kristen yang mencolok. Safir disambut dengan hangat. Semua orang mengenalnya. Di Iran, lelaki berumur 25 tahun ini adalah seorang bintang, dengan wajahnya yang bundar dan kumisnya khas. Kini, Teheran penuh dengan sinar matahari, tapi kamu bisa merasakan banyak arwah di sekitar. Perang Iran-Irak, yang merenggut dua juta nyawa, masih berada dalam pikiran banyak orang. Perang ini membasmi satu generasi lelaki muda, tapi juga menginspirasi kemunculan generasi berikutnya.

Iklan

Safir mengenal kedamaian, tapi bukan kedamaian jiwa. Dia adalah seorang rapper berkelas—tipe yang disebut sebagai seorang penyair. Dia menulis lagu tentang martir, yang wajahnya menghiasi gedung-gedung, air mancur, dan mosaik jalanan Teheran. Lagunya “Teki Mesle Ma” (“Salah Satu dari Kita”) membahas narasi bahwa pemerintah Iran akan selalu berusaha “memelihara suasana perang dalam pikiran kita,” ujarnya.

Safir dilahirkan di provinsi Mazandaran, di pinggir pantai selatan Laut Caspian, dan menghabiskan masa mudanya di Teheran. Ayahnya, seorang insinyur, memberikan banyak kebebasan baginya, baik secara fisik maupun pikiran. Ketika Safir berumur 8 tahun, pamannya—yang memastikan dia tumbuh mendengarkan “musik bagus”—mengenalkannya ke Hichkas, punggawa rap Iran, yang kini tinggal dalam pengasingan di London. Telinga Safir berubah semenjak itu. Untuk pertama kalinya, dia mendengar kata-kata yang membahas “jalanan” dan “masalah nyata dalam masyarakat.”

Dari 'Nabi' Menjadi 'Penyambung Lidah Rakyat' Begitulah bagaimana Omid berubah menjadi Samir. Dia terinspirasi untuk mulai menulis, dan mulai banyak mendengarkan musik folk di negara yang sangat kaya dengan pengaruh musik. Dia mendengarkan musik Perancis—mulai dari klasik macam Jacques Brel dan Barbara hingga rapper kontemporer seperti Keny Arkana, Booba, Saian Supa, dan IAM. Dia juga mulai terobsesi dengan puisi-puisi tua Persia.

“Tujuh ratus tahun yang lalu, para penyair ini mulai menulis puisi yang lebih mudah dimengerti, tentang kritik terhadap masyarakat. Gaya ini hanya bertahan hingga sepuluh tahun yang lalu,” ujarnya. Namun ketika Reza Baraheni—seorang penyair, novelis, dan aktivis politik Iran yang diasingkan—menderita penyakit Alzheimer, Safir mengatakan “ini seperti obor yang dioper. Kini, bisa dibilang penanya berada di tangan kita,” ujarnya sambil tersenyum.

Iklan

Musik Rap Safir dibuat sendiri di rumah. Musiknya dikomposisi secara hati-hati—dimasak dengan kesabaran, gairah, dan rasa. “Saya tidak mendapat inspirasi khusus dari manapun. Kadang saya sedang berjalan di luar, mendapat ide, dan langsung saya kerjakan. Itulah langkah berikutnya dari karya saya. Saya tinggal di dalam rumah selama dua bulan agar bisa menciptakan atmosfir yang menyeluruh. Saya menghidupi hal-hal yang saya tulis. Misalnya, apabila saya menyeberang sebuah jembatan, saya bisa ingat pengalaman saya di jembatan tersebut. Saya bisa mengingat konstruksi dan komposisinya. Atau saya bisa kembali dan menyambangi pengalaman saya di jembatan itu nanti—apa yang terjadi di situ. Setelah itu, saya memutuskan yang mana yang akan menginspirasi atau mempengaruhi audiens saya.”

Safir mahir memainkan kata dan maknanya. Nama panggungnya adalah contoh yang nyata. Bunyi huruf “s” lembut yang dia gunakan dalam bahasa Persia diganti dengan bunyi huruf “s” yang keras. Dia telah mengganti makna “dia yang telah dikirim” (seorang nabi), menjadi “suara orang-orang” (protes masyarakat). “Bagi saya, kata-kata itu seperti manusia. Saya bisa merasakan, menyentuh, merasakan, dan mengeluarkan mereka. Misalnya, ketika saya menggunakan kata ‘matahari,’ kamu tahu itu artinya kuning, panas. Apabila saya menggunakan kata itu dalam musik yang dingin, lagu tersebut akan ‘bertambah hangat’ hanya berkat penggunaan kata tersebut.” Musik rap Safir sangat cermat, matematis, dan tepat penulisan; berirama dan tidak sulit ditebak secara vokal, beat, dan flow.

Iklan

Safir mengatakan seringkali, demi mendapat inspirasi, dia akan membedah karya-karya para leluhur yang “bermeditasi di puncak gunung.” Dia menjelaskan: “Sebuah puisi memiliki dua lapisan: strukturnya dan kemudian ‘gedungnya’ sendiri. Ketika kamu mengubah strukturnya, kamu secara alami mengubah gedungnya juga. Saya mengubah puisi mereka dengan cara itu. Saya mengubah struktur mereka untuk membangun gedung baru, dan saya berharap suatu hari orang akan mengubah struktur tulisan saya juga—untuk membangun gedung baru.” Dia tersenyum. Safir sangat meyakini ide tersebut: Dia ingin orang-orang melanjutkan ciptaannya; untuk memberikan ciptaannya bentuk yang baru, kali-kali umat manusia punah. “Apabila dunia hancur atau umat manusia punah, saya ingin karya saya bertahan dan ditemukan 100 tahun lagi.”

Melli Menembus Panggung International Safir kini sibuk memproduksi naskah teater yang dia tulis sendiri. Naskah tersebut berkaitan erat dengan beberapa lagu dalam albumnya. Dalam pertunjukan teater yang penuh dengan metafora dan simbolisme itu, sebuah badai listrik mengamuk. Di tiap sisi panggung, penonton bisa melihat dua buah marka jalan yang menyatakan jalan tak bisa digunakan, sekaligus mengindikasikan pengguna jalan bahwa mereka bisa memutarinya.

“Bau makanan dan benda-benda yang menyenangkan menguar dari tempat itu, tapi orang tak bisa sampai ke sana,” jelas Safir. “Saya mengasosiasikan ini dengan kehidupan sosial (di Iran).” Di belakang panggung, lembar-lembar koran terbakar dalam sebuah kotak. Seorang pria membaca tajuk koran yang lembaran perlahan dilumat api. Pria yang lain berceloteh tentang koran-koran yang tak jujur. “Karena dalam ajaran Islam, para pembohong akan dibakar oleh api neraka,” imbuh Safir.

Iklan

Tonton dokumenter VICE soal kegemaran musisi grime Afrikan Boy terhadap Indomie:


Drama karangan Safir tak pernah diperiksa oleh badan sensor kementerian Kebudayaan Iran. sebaliknya, naskah ini langsung dipanggungkan secara underground. “Saya suka membuat kaitan antara beberapa bentuk seni yang berbeda,” ujar Safir. Para penonton yang datang adalah mereka yang sudah lebih dulu menyukai musik Safir. Sang Rapper menghargai rasa penasaran audiensnya, namun menegaskan bahwa “masyarakat Iran gampang terpancing tren baru. Misalnya, sekarang nama saya sedang naik daun di Iran. tapi nanti begitu ada sosok baru yang lebih ngetren, saya bisa saja dilupakan.

Apapun yang saya ciptakan dibuat agar bisa bertahan lama.” Label baru Safir, Melli (atau “nasional” dalam bahasa Persia), dibentuk untuk menampung artis asal Iran atau mancanegara yang ingin merambah panggung global. Melli tak hanya “menyasar rapper tapi juga semua jenis seniman,” tegas saffir. Baru-baru ini, sekelompok kartunis asal Arab Saudi—musuh bebuyutan Iran di ranah geopolitis—bergabung dengan Melli.

“Seni tak seharusnya jadi pajangan dan memancing emosi serta ekpresi belaka atau dikoleksi sebagai barang mewah. Seni baru, menurut saya, justru memprovokasi hal-hal yang belum kita pahami dan mengajukan pertanyaan. Inilah yang kami pahami: seni harus datang dari dalam diri. Tiap kali saya bernyanyi, saya sepenuhnya menjadi serang penyanyi. Saya menjadi sesorang yang mendengarkan, hidup, melihat, merasakan dan Saya menempatkan diri saya dalam kerangka sejarah yang Saya ciptakan.”

Iklan

Baiklah, tapi ada sebuah pertanyaan yang sederhana: bagaimana kamu dapat uang dengan menjadi seorang rapper di Iran? “Pertanyaan yang bagus. Dulu sih, hal itu amat susah dilakukan, apalagi jika kamu tak punya izin bekerja. Dengan internet, kami bisa menjual musik-musk kami.” Sayangnya, sampai saat ini, Safir baru bisa menjual karyanya pada penduduk Iran. pasalnya, sangsi ekonomi yang berlaku di Iran tak memungkinkan pengiriman uang dari antara Iran dan negara barat.

"Ah, tapi kamu lupa tentang CD,’ ujar Safir terkekeh.

"Di Teheran, selalu ada api yang menyala dalam Gelap"

Di Iran, rap adalah genre musik terlarang. Mengacu pada aturan kolot yang berlaku di sana, rap adalah produk setan dan bentuk dari kebejadan masyarakat barat. Safir memandang semua ini dengan enteng. Toh, dia tak datang untuk mengkritisi aturan ini. Baginya, aturan itu tak lebih dari sekadar prinsip yang mengebiri dan membunuh. “Di Iran, kami punya banyak hal yang terlarang, tapi apa itu mencegah kami melakukannya? Jika rap yang terlarang bisa mengisahkan kisah-kisah yang baik, ya sudah larang saja. Larangan ini cuma sebuah celah. Skena underground bisa membuat musik yang lebih bagus,” dia menjelaskannya sembari tersenyum nakal. Dia bilang skena rap setempat tak hanya dirajai rapper-rapper “ternama.”—kancah ini juga dimiliki penyuka musik berambut aneh dan cewek-cewek yang menarik mengikuti beat-beat berat dan lantunan lirik-lirik vulgar.

Iklan

“Ada beberapa jenis rapper. Ada tipe yang selalu berada di posisi berlawanan dengan yang lain. Mereka umumnya sesumbar “gue udah pernah gini, gue udah pernah gitu”—mereka cuma pembual. Ada rapper komersil dan bisnis. Ini jenis rapper yang tak berhenti ngerap tentang narkoba dan perempuan. Lalu ada rapper “yang lebih pintar dari semua orang, merekalah yang berlagak seperti tahu segalanya dan sangat tertarik dengan teori konspirasi,” ungkap Saffir.

Dengan demikian, Safir malas sesumbar bahwa apa yang digarap unik dibanding karya-karya rapper lainnya. Penikmat musiknya bukanlah mereka yang rajin pergi ke mesjid, wiridan menggukan tasbih dan main ping-pong dengan bassidji—militia sukarelawan. Mereka yang menyimak musiknya adalah berasal dari kelas menengah yang memiliki pandangan moderat. Mereka umumnya terdidik dan terbuka terhadap dunia barat serta selalu mencari sesuatu yang baru.

“Enam puluh persen pendengar musik saya punya rutinitas dan mereka sadar rutinitas mereka membosankan. Kami di Iran punya sebuah ungkapan— ada api yang menyala dalam perangkap—awalnya kamu cuma melihat pernagkap. Namun, sejatinya ada api di dalamnya. Teheran adalah sebuah perangkap sementara seniman dan orang-orang yang melek akan kondisi masyarakat Iran adalah apinya. Jadi 60 persen pendengar musik saya adalah orang-orang ini. Sementara 40 persen sisanya adalah anak muda yang tertarik dengan flow dan ritme saya. Menurut saya, yang 40 persen ini ujungnya akan menjadi api dalam perangkap.”

Iklan

Safir aktif di media sosial, meski dia kadang susah mengaksesnya tanpa bantuan VPN (terutama ketika aksi protes ramai terjadi di Iran).” Safir paham betul kekuatan media sosial saat digunakan sebagai “jendela dunia.” Di sini lain, Facebook bisa menjadi senjata yang bisa mengubah hidup seseorang dari “komedi” menjadi “tragedi,” atau meminjam kata-kata Safir, “media sosial bisa menggulingkan dirimu dan membuatmu menghilang.”

Dia lantas mencatut kasus Amir Tataloo, penyanyi R&B kenamaan asal Iran, sebagai contoh “Selama pemilu, lewat instagramnya, dia mengobral kalimat-kalimat bodoh. Lalu di hari terakhir pemilu, tiba-tiba dia menyatakan dukungannya pada Raïssi [seorang kandidat konservatif]. Amir lalu melabrak siapapun yang keki akibat tindakannya. Dengan menyatakan dukungan pada kandidat kolot, Amir menduga dirinya bakal dapat restu dan dukungan dari badan sensor. Komedi dan tragedi.”

Lantas, apakah Safir adalah seorang rapper conscious? Jawabannya iya dan tidak sekaligus. Rima-rima harus dibaca dengan tekun dan memaksa kita merenung. Di sisi lain, Safir adalah rapper yang tak politis karena menjadi politis dengan kentara di Iran tak hanya akan menghancurkan karirnya. Pada 2009, ketika generasi muda Iran tumpah ke jalanan untuk memprotes hasil pemilu, Safir masih sangat belia. Usianya baru 16 tahun waktu itu. Pun, dia tinggal jauh dari lokasi demo. Meski demikian, dia mengaku menyimpan kegeraman yang sama. Pahlawannya Hickas, menulis lagu berjudul “ Tiripe Ma. Vol1” (“Kelak Sesuatu yang Lebih Baik akan Tiba”). Safir sudah mendengarkan lagu ini ratusan kali.

Saya bertanya apakah Safir ikut turun ke jalan dalam gelombang protes yang melanda Iran awal tahun ini, Safir bungkam. Namun, matanya menjawab “iya” dengan gamblang.

Api hip hop setidaknya bisa kita pastikan sudah menyala di Teheran.

Quentin Müller adalah salah satu kontributor Noisey.