natal

Merayakan Natal di Palestina

Kontributor VICE merasakan Natal di Kota Bethlehem, tempat kelahiran Yesus Kristus. Di kota tersebut, yang dia temukan justru lebih banyak graffiti Fatah dan syuhada Palestina.
Merayakan Natal di Bethlehem Palestina
Semua foto oleh penulis.

Saya menghabiskan pagi di hari Natal dengan tidur dekat atap Penjara Bethlehem.

Bethlehem, kota di kawasan Tepi Barat, Palestina, memiliki populasi kurang lebih 25.000 jiwa. Di kota inilah, umat Nasrani meyakini Yesus Kristus lahir dua ribu tahun lalu. Sayangnya, Bethlehem terkenal selalu kekurangan hotel untuk menampung peziarah dari seluruh dunia. Untunglah saya berhasil menemukan tempat sepi, setidaknya buat menggelar kantong tidur di sudut sebuah asrama pemuda—yang tidak hanya berfungsi sebagai taman bermain tapi juga sekaligus berbagi tembok dengan penjara berdinding tinggi, penuh kawat, dan dijaga menara pengawas.

Iklan

Mungkin kalian membayangkan, betapa tidak nyamannya tidur di bangunan yang bersebelahan sama penjara. Jangan salah, asrama tersebut hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari gereja tempat kelahiran historis sang Mesias, yang tentu saja menjadi alasan belasan ribu manusia datang ke Bethlehem saban tahun.

Alun-Alun Manger, pusat kota Bethlehem sekaligus ruang yang menghubungkan semua jalan, dihiasi karangan bunga, rusa, dan hiasan Sinterklas ketika saya menjejakkan kaki di sana. Ornamen itu kental gaya Natal ala kapitalis internasional sejati. Beberapa tahun lalu tak pernah ada ornamen macam itu selama Natal di Palestina. Sekarang bunga dan patung sinterklas dipampang demi menyambut arus manusia yang telah diperkirakan oleh Kementerian Pariwisata Palestina, yakni 150.000 peziarah dari seluruh dunia. Di sekeliling alun-alun terdapat banyak toko yang menjual rosario dari kayu zaitun dan pajangan momen kelahiran Yesus. Di tengah hiruk pikuk toko suvenir itulah, berdiri Gereja Kelahiran Yesus, sebuah tempat ibadah yang desainnya kental struktur khas Kekaisaran Byzantium Abad ke-4. Gereja tersebut dibangun persis di atas lokasi palungan tempat Yesus diduga dilahirkan. Di luar gereja berdiri satu pohon natal raksasa, dilengkapi diorama kelahiran Yesus seukuran manusia, dan beberapa pertunjukan musik sejak malam Natal. Pasar dan pajangan Natal musiman itu terletak menghadap Masjid Omar, yang berjarak hanya sepelemparan batu dari Gereja Kelahiran Yesus. Alun-Alun Manger sejak berabad-abad lalu bertahan menjadi wilayah warga Kristen, namun Bethlehem secara keseluruhan—seperti daerah Palestina lainnya—didominasi penduduk beragama Islam.

Iklan

Bagaimanapun, pada malam Natal, alun-alun itu penuh sesak oleh peziarah Nasrani dan musik live yang bergema di lingkungan sekitar. Setidaknya satu toko berulangkali memutar lagu "Frosty the Snowman"-nya Alvin and The Chipmunks. Band dan penyanyi yang tampil di atas panggung dari seluruh dunia, membawakan lagu Natal standar seperti "O Holy Night". Tak semua seperti itu pastinya. Sebagian orang di alun-alun malam itu menyelami buku pujian Kristen sesuai negara masing-masing. Tepat sebelum misa tengah malam, sekelompok musisi asal Polandia naik panggung, menyanyikan lagu pujian dari negaranya sendiri. Sebagian besar orang hanya bergumam karena tentu saja mereka tidak mengerti Bahasa Polandia.

Meskipun tampaknya sebagian besar pendatang Natal asing di Bethlehem adalah orang Kristen, saya sempat berbicara dengan beberapa orang Yahudi Amerika yang niatnya berkunjung ke Israel. Jangan salah, ada banyak juga Muslim Palestina turut menghadiri perayaan tersebut, terutama remaja laki-laki, yang tertarik oleh konser dan tersedianya alkohol yang relatif murah—suatu kelangkaan di daerah Muslim Palestina. Pada malam Natal, tampaknya kebanyakan yang berpesta pora sambil minum-minum justru orang Palestina. Menurut Otoritas Palestina, wisata religi di Bethlehem bisa mendatangkan devisa sebesar US$300 juta untuk perekonomian setempat.

Acara utama adalah misa tengah malam, dalam pergantian tanggal ke 25 Desember. Rupanya jika ingin masuk ke Gereja Kelahiran Yesus, kita harus membeli tiket.

Iklan

Tiket itu sulit didapat. Pasangan dari Selandia Baru yang sama-sama menginap di asrama berhasil memperoleh tiket, itupun setelah mereka sudah mendaftar beberapa bulan sebelumnya. Tur ke Gereja Kelahiran yang masih lowong hanya ada pada tanggal 24, itu tanda semua tempat dalam gereja telah terisi. Daripada memaksakan diri, saya awalnya memutuskan tidak hadir di misa Natal. Rupanya saya beruntung. Dengan sedikit bersengkongkol, saya berhasil nyempil masuk gereja.

Sebelum menyelinap ke gereja, saya sebenarnya tidak bertemu orang-orang yang ingin khusyuk beribadah. Saya nongkrong di beranda asrama bersama sekelompok orang dari Selandia Baru, peziarah asal Rumania yang bernama Andrei, dan kami semua ngobrol bareng Jack, orang Palestina yang menjadi manajer asrama. Kami membahas agresifnya pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan kesulitan ditimbulkan oleh kebijakan Negeri Bintang Daud terhadap bisnis dan organisasi nirlaba (keuntungan asramanya diberikan untuk yayasan anak-anak).

Jack tidak membenci Israel. Namun dia mengelukan kebijakan Israel mengendalikan arus transportasi di Tepi Barat. Tindakan pemerintah Zionis itu membuat warga Bethlehem sulit mengangkut logistik dari dan keluar kota. Jack mengatakan kalau pemerintah Israel menyimpan profil setiap pekerja nirlaba dan kadang-kadang membuat keputusan sewenang-wenang tentang siapa yang diizinkan masuk dan keluar dari wilayah Palestina.

Iklan

Dia berharap adanya pengakuan PBB terhadap Palestina sejak 2012 dapat mengubah keadaan, setidaknya memberi tekanan kepada orang-orang Israel agar mengurangi pembatasan berpergian penduduk Palestina. Jack orang yang rasional. Dia tidak yakin perubahan dapat terjadi hanya dalam semalam. Dia juga tak percaya Israel akan mengakhiri ekspansi permukiman di Tepi Barat dalam waktu dekat.

Ketika percakapan berakhir, muncul kabar sekelompok orang Selandia Baru berhasil mendapat tempat di misa tengah malam. Saya dan Andrei terdorong ingin ikutan misa juga. Pucuk dicinta, Jack mengenal temannya teman yang mungkin bisa menyelundupkan kami—dia menyuruh kami menemuinya kembali di meja resepsi. Betulan dong, dia menyambut kami dengan tiket di genggaman.

Jack menuntun kami melewati kerumunan orang di Alun-Alun Manger, masuk ke pintu samping hotel yang berbatasan dengan gereja. Di sana kami bergegas melewati lobi menuju lift dan melangkah keluar, voila, kami sudah berada tepat di halaman gereja. Halaman gereja sudah penuh sesak. Aliran manusia menyeret saya bersama kerumunan peziarah ke Gereja St. Catherine dari abad ke-19, bangunan yang dikelola Katolik Roma kompleks tersebut di mana massa tengah malam oleh Ordo Fransiskan.


Tonton dokumenter VICE soal sejarah perlawanan warga muslim-Kristen Palestina terhadap Israel:


Suasana St Catherine agak membosankan dibandingkan dengan kondisi Basilika Bizantium kuno yang diurus oleh Gereja Ortodoks Yunani tepat di sebelahnya. Ketika sampai di dalam gereja, sekitar 2.000 jamaah berdempetan di sekitar ruang utama yang dipenuhi bangku. Di bagian depan terhampar kursi kosong bagi para tamu VIP. Misa mulai tepat setelah pukul 22.00.

Iklan

Misa berlangsung hampir empat jam. Selain diterjemahkan ke bahasa Latin dan Arab, pembacaan dan nyanyian rohani dibacakan dan dinyanyikan dalam setidaknya tujuh bahasa lainnya (saya sampai hilang hitungan). Sebagian besar peserta misa bukan penduduk lokal dan itu tercermin dari upaya pengelola gereja mengajak jemaat berpartisipasi dalam panggilan bahasa Arab, tapi sebagian besar gagal menjawabnya atau malah kebingungan.

Sekitar sepertiga jalan, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas dan rombongannya tiba, begitu pula delegasi politik dari Qatar dan Yordania. Fouad Twal, Patriark Gereja Ortodoks Yerusalem, memimpin pribadatan malam itu. Twal secara formal menyambut semua tamu VIP dan berterima kasih atas kehadiran mereka. Sebagian besar tamu penting, termasuk Abbas, pergi sesaat sebelum momen persekutuan kudus.

Saat wafer dan anggur disebar, para jemaat bergegas ke tengah berebut hosti. Situasi menjadi sulit diatur. Saya terdesak dan didorong melawan lautan biarawati dan wisatawan yang gemar mengambil foto untuk Instagram. Misa akhirnya selesai pada sekitar pukul 02.00. Twal memimpin sebuah prosesi ke dalam gua yang menandai tempat persis di mana Kristus lahir. Saya memisahkan diri dari kerumunan, terhuyung-huyung memasuki Alun-Alun Manger yang hampir sepi. Udara jauh lebih lega.

Saya berjalan kembali ke asrama, lalu langsung tepar. Tapi tak ada kesempatan bangun siang. Saya terbangun jam 8 pagi gara-gara pengeras suara dari penjara, jadi saya mengenakan sepatu boot dan keluar untuk melihat hal lainnya yang ditawarkan Bethlehem. Suasana sebagian besar kota ini sangat berbeda dari pernak-pernik Sinterklas dan toko suvenir rosario yang sangat bersih di Alun-Alun Manger.

Iklan

Ada jalan utama yang dipenuhi bank dan pertokoan yang mungkin Anda temukan di kota modern manapun, tapi jika Anda berkelena jauh dari situ dan kalian akan segera menemukan reruntuhan, sampah, dan kawat berduri yang menonjol dari bangunan yang sudah separuh hancur. Saya sampai di simpang lima. Tepat di atas lampu lalu lintas, ada poster merayakan syuhada Palestina bernama Aatif Aabiat. Saya memutuskan menyusuri jalan di belakang poster tersebut.

1514205107671-palestina

Dua anak muda Palestina melempar batu ke ladang zaitun untuk mengusir burung hama.

Saat berjalan ke atas bukit, saya menemukan lebih banyak poster Syuhada. Ukurannya besar-besar. Ada juga grafiti militan atau bendera Partai Fatah (yang menguasai Tepi Barat) di tembok-tembok warga. Fatah adalah penguasa kawasan ini, berbeda dari Jalur Gaza yang dipimpin Partai Hamas.

Jalanan nyaris kosong pagi itu. Hanya ada beberapa anak yang bermain sepakbola di pagi yang dingin tersebut. Kemudian saya menemukan gerombolan anak muda 20 tahunan yang pada awalnya curiga dengan apa yang saya lakukan di sana. Mungkin mereka mikir, "ngapain ada orang Barat mengembara di sudu Bethlehem yang jauh dari Gereja Kelahiran Yesus?"

Rupanya suasana di pagi Natal itu segera cair. Anak-anak muda tadi bertanya apakah saya mau minum teh bersama mereka. Tentu saja tawaran itu segera saya terima.

Mohamed Khatemesh (24), Mahmoud Jundia (28), dan Said Owad (23), adalah tiga anak muda yang ngeteh bareng saya pagi itu. Mereka masih sepupu dan tinggal di daerah Jabal Hundaza. Lokasinya tepat di bukit yang dikelilingi kebun zaitun bertingkat.

Iklan

Jabal Hundaza ternyata jalanan yang sejak tadi saya telusuri. Selain kebun zaitan, di perbukitan ini ada peternakan keluarga kecil, serta bangunan penuh graffiti, poster Syuhada Palestina, dan beberapa masjid. Keluarga tiga sepupu tadi beragama Islam, tapi mereka mengatakan bahwa di Bethlehem, Kristen dan Muslim selalu hidup bersama tanpa ada masalah. Perbedaan dua agama ini tidak pernah menjadi sumber konflik. Mahmoud mengakui dia sempat cekcok baru-baru ini dengan tetangganya yang beragama Kristen, namun mereka segera menyelesaikan masalah tadi. Kalaupun sempat terjadi ketegangan, selalu pemicunya bukan karena agama. Mohamed mengatakan beberapa teman baiknya adalah orang Kristen dan kedua pemeluk agama tadi sudah biasa menikah dan memiliki keluarga campuran. Yang dia tahu, ribuan peziarah Kristen penting untuk diterima dengan tangan terbuka. Sebab kedatangan mereka bermanfaat bagi perekonomian Bethlehem. Trio sepupu tersebut bilang kebanyakan orang asing tidak menyadari kalau Bethlehem bukanlah kota di wilayah Israel. Di mata mereka, adanya nama Bethlehem dalam Alkitab membawa berkah bukan hanya dari sisi pariwisata tetapi juga peluang menunjukkan kepada dunia sisi berbeda dari Palestina, yang tidak didominasi citra terorisme dan perang. "Kami merasa senang dengan turis (peziarah), kami pikir wisata religi bagus untuk orang-orang Palestina, dan bagus untuk ekonomi. Adanya turis memungkinkan masyarakat luar mengetahui situasi di Palestina. Mereka bisa melihat sendiri pendudukan, mereka melihat bagaimana isolasi Israel mempengaruhi orang-orang Palestina," kata Mohamed sambil minum teh dan biskuit. "Wisatawan rohani datang dari seluruh dunia dan mereka melihat Gereja Kelahiran Tuhan, dan mereka melihat Muslim dan Kristen berdampingan. Jadi mereka bisa belajar kalau semua manusia sama saja."

Iklan

Tapi sebelum penghargaan antaragama tersebut berlanjut, ketiga anak muda tadi segera menegaskan kalau mereka benar-benar membenci orang-orang Israel. Bagi mereka, semua tanah yang sekarang menjadi wilayah Israel merupakan hak orang Palestina.

Mereka tidak percaya sebuah negara Israel dapat hidup berdampingan dengan orang Palestina dan mereka mengatakan bahwa orang-orang Yahudi suatu hari harus diusir kembali. Mereka juga kritis terhadap dukungan Amerika terhadap Israel. Saya sempat khawatir mendengar penjelasan mereka. Ketiganya segera mengingatkan, kalau mereka bisa membedakan antara orang Amerika dan pemerintah Amerika. Sebagai warga negara Amerika, kata Mohammed, saya diterima di Palestina.

Saya nongkrong bareng tiga remaja itu selama beberapa jam. Mereka memamerkan ternak dan melemparkan batu ke sasaran pengusir hama di ladang zaitun. Mahmoud bersikeras bahwa dia adalah pelempar batu yang terbaik. Dia mengklaim sudah berpengalam memburu burung hanya pakai ketapel.

Bagi saya, kebiasaan Mahmoud mengingatkan pada sosok Raja Daud—orang Bethlehem lain di dalam Alkitab—sang pembunuh raksasa Romawi Goliath memakai senjata yang sama. Sambil membidik burung di ladang zaitun, mereka bertiga menceritakan kisah penangkapan dan blokade jalan yang rutin dilakukan tentara Israel terhadap penduduk Tepi barat. Tentara Israel memenjarakan saudara laki-laki Said selama 14 tahun. Mereka tidak mengatakan alasannya. Israel juga tak pernah mau secara terbuka menjelaskan kepada dunia internasional alasan mereka menangkapi orang-orang Palestina tanpa pengadilan yang sah.

Saya mengucapkan selamat tinggal kepada tiga anak muda tadi, lalu pergi dari Jabal Hundaza. Saat kembali ke Alun-Alun Manger, di kepala terbentur sesuatu dari atas. Setelah saya melihat seberkas debu, tampak jelas seseorang melempari saya pakai kelereng kaca. Saya mendongak, lalu melihat empat kepala kecil mengintip dari atap. Mereka hanya sekelompok anak-anak, yang mengerjai saya—mereka melambai dan menertawakan saya. Sambil tersenyum, saya balas melambaikan tangan, lalu mengucapkan kepada mereka selamat Natal.


Mat Wolf adalah jurnalis lepas asal Amerika Serikat yang kini bermukim di Amman, Yordania. Fokus liputannya adalah tema seputar budaya, konflik, agama, dan politik Timur Tengah.