keberagaman

Kisahku Memutuskan Ikut Merayakan Natal Sebagai Seorang Muslim

Berikut adalah esai reflektif soal Natal dari Rifqi Fairuz. "Kalaupun dengan mengucapkan Natal secara otomatis keluar dari Islam, Gus Dur kasih solusi yang mantap: tinggal Syahadat lagi."
25 Desember 2017, 12:30am
Foto dari akun flicrk Kathy Drasky/lisensi Creative Common.

Saat itu Natal 2015. Hari Natal sebagai peringatan lahirnya Yesus dan peringatan Maulid Nabi Muhammad yang hanya selisih satu hari membuat Desember itu beda dari tahun-tahun sebelumnya. Saya yang kebetulan tergabung di grup rebana, mendapat undangan untuk memeriahkan perayaan Natal di satu gereja di Yogyakarta. Pengurus gereja bilang, undangan ini dimaksudkan untuk meghormati kelahiran nabi masing-masing.

Baik Yesus dan Muhammad adalah manusia suci yang perlu dirayakan kelahirannya dengan gembira.Yesus juga merupakan rasul yang diyakini oleh Muslim, hanya saja Muslim tidak meyakininya sebagai anak Tuhan. Soal kelahiran Yesus di tanggal 25 Desember bagi saya tidak jadi soal. Sama halnya Muslim bisa memperingati maulid (kelahiran) nabi Muhammad tiap minggu, bahkan saban hari. Toh perayaan Natal di antara orang Kristen pun tak seragam, ada yang merayakan pada Desember, ada Januari seperti Kristen Ortodoks.

Kami memenuhi undangan itu. Sementara para jemaat melangsungkan kebaktian Natal di ruang utama gereja, kami dipersilakan menunggu di ruang transit sambil sekadar makan dan minum. Selepas misa Natal selesai, kami dipersilakan masuk ke ruang utama. Di sana kami berdiri d altar bersama dengan beberapa tokoh lintas agama yang sudah hadir dan masing-masing memberi sambutan.

Perayaan yang singkat sekali. Kami hanya memainkan dua ‘lagu’. Pertama, lagu salam damai yang berisi penggalan kalimat shalom elechem, salam alaikum, dan salam damai untukmu. Selanjutnya menyanyikan Syiir Tanpa Waton, Syiiran bahasa Jawa tentang teladan hidup, yang sering disebut syiirnya Gus Dur. Acara ditutup dengan doa bersama, bergantian dari pemimpin agama yang berbeda untuk mendoakan semoga Indonesia damai dan jauh dari kebencian.

Ternyata, Indonesia enggak damai-damai amat. Ada yang benci dengan aktivitas kami.

Beberapa hari kemudian grup WhatsApp kami heboh. Beranda Facebook juga ramai. Foto kami muncul di salah satu website keislaman. Foto sekelompok anak muda yang sedang main rebana di altar gereja, jadi ilustrasi headline besar “Bagi Islam Sekte Gus Dur, Toleransi itu Merayakan Natal di Gereja”.

Tak ketinggalan, di artikel itu kami dimaki-maki sebagai racun akidah. Apa yang kami perbuat bisa merobohkan bangunan agung agama Islam. Sebutan ini buat saya sih biasa saja. teman saya ada yang lebih parah, dimaki-maki “senyumnya kaya iblis” akibat ikut komentar debat seputar agama.

Cuma saya heran, sejak kapan penulis artikel itu nemu istilah racun akidah buat para sekumpulan alumni pesantren dari kampung, yang nekat mengadu nasib meneruskan kuliah di kota besar dengan hidup pas-pasan. Ketika Yogyakarta makin gemerlap dengan apartemen dan kos eksklusif mahal, kebanyakan dari penabuh rebana ini menggantungkan uang saku dari keikhlasan pengurus masjid tempat mereka tinggal.

Apakah umat Muslim di bumi yang jumlahnya bermiliar-miliar dan meyakini banyak mazhab yang berbeda, bisa teracuni akidahnya hanya karena ulah sekelompok anak muda lugu yang bermain rebana di gereja?

Secara tiba-tiba kami dibilang racun bagi akidah Islam karena terlalu akrab dengan orang Kristen. Seolah berteman dengan orang Kristen itu sebuah perbuatan keji yang jadi rantai belenggu kami untuk dibakar di neraka. Padahal, saya saja tidak punya teman dari agama lain sampai bangku kuliah. Saya lahir dan tumbuh di desa yang populasinya 100% Muslim di kabupaten Kendal. Silakan datang ke kecamatan saya, saya jamin anda tidak akan menemukan satu pun rumah ibadah selain masjid di satu kecamatan yang berpopulasi Muslim 99,81 persen itu.

foto dari arsip pribadi penulis.

Apakah lantas, hanya karena ikut perayaan natal, ke-Islam-an bisa batal dan bisa jadi racun bagi miliaran umat Muslim di dunia? Okelah, bisa jadi saya ini setitik nila, tapi masa sih keagungan agama Islam ini cuma diukur selebar belanga?

Kalau dipikir-pikir, betul juga dulu ketika Tuhan menciptakan Adam, malaikat sempat protes. “Lho, Tuhan, bukankah manusia itu makhluk yang cuma bikin keributan dan saling bunuh? Kan mendingan kami yang selalu menyucikan nama-Mu?”. Lalu dijawab oleh Tuhan “Kalian jangan sok tahu, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Mungkin di titik ini Tuhan menciptakan sosok manusia-manusia bijaksana yang selalu menebar damai, dan menjadikan agama spirit kemanusiaan. Salah satunya Gus Dur.

Gus Dur mengungkapkan dalam artikelnya berjudul Harlah, Natal dan Maulid, bahwa kelahiran Yesus sudah jelas terekam dalam Quran surat Maryam: "Kedamaian semoga dilimpahkan kepada diriku pada hari kelahiranku.." ( al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu). Kalimat ini jelas menunjuk kepada ucapan Yesus sendiri. Bahwa kemudian Yesus 'dijadikan' Anak Tuhan oleh umat Kristen, adalah suatu hal lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu sendiri.

Oleh karenanya umat Muslim boleh merayakan kelahiran Yesus dalam kapasitas sebagai rasul utusan Allah. Maka bisa dimaknai mengucapkan selamat Natal tidak secara otomatis menyetujui keyakinan orang yang kita selamati.

Pendapat lain dari Habib Ali al-Jifri, mengucapkan selamat adalah bagian dari etiket pergaulan sosial, yakni perbuatan baik yang disebutkan dalam surat al-Mumtahanah ayat 8. Dalam ayat tersebut, Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik ( an tabarruhum) dan berlaku adil ( wa tuqsithu ilaihim) terhadap orang-orang yang tidak memerangi karena agama dan tidak mengusir dari tempat tinggalnya. Perintah berbuat baik kepada para penganut agama lain diungkapkan dengan kata “ an tabarruhum” yang merupakan derivasi dari kata “ al-birr” yang bermakna husn al-khuluq yakni kebaikan, atau kejujuran dan kepatuhan sepenuh hati.

Sependek pengamatan saya, ucapan selamat dari Muslim kepada umat Kristen juga tidak dilarang oleh MUI. Din Syamsudin, mantan ketua MUI, pernah menegaskan bahwa fatwa larangan melaksanakan peringatan perayaan Natal bersama yang diterbitkan MUI pada 1981, tidak secara spesifik memuat larangan ucapan selamat Natal. Konteks fatwa MUI saat itu adalah supaya umat Islam tidak terjebak mengikuti ritual kebaktian Natal dalam perayaan Natal bersama yang sering dilaksanakan oleh instansi pemerintah di tahun 80-an.

Kiranya cukup jelas mengucapkan selamat natal atau menghadiri undangan peringatan natal – dengan tidak melaksanakan ritual kebaktiannya – lebih masuk pada aspek mu’amalah atau ajaran agama yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Tidak otomatis membenarkan keyakinan agama lain yang langsung menyentuh kategori ibadah atau aqidah. Untuk konteks idul fitri, semua pemeluk agama selain Islam boleh ikut mengucapkan selamat idul fitri, namun mustahil bagi mereka untuk ikut shalat idul fitri.

Sejak kapan kegaduhan semacam ini terselenggara? Siapa pula panitianya tak jelas, berlindung dibalik riuhnya admin anonim website dan medsos. Satu yang jelas adalah sentimen agama makin dihambur-hamburkan tapi dengan cara yang jauh dari tujuan agama itu sendiri: Untuk menata akhlak manusia supaya jadi khalifah, agen-agen Tuhan, yang menciptakan kesejahteraan di bumi.

Jangan kira kegaduhan ini tidak punya efek di dunia nyata. Adhi, teman saya yang eksekutif muda Jakarta, merasakan betul efek kegaduhan hari raya ini. Adhi adalah seorang Kristen dari keluarga yang beragam. Saling berkunjung dalam perayaan Natal dan idul fitri menjadi sangat lumrah dan berlangsung akrab.

Sampai akhirnya lebaran tahun lalu.

Ketika itu Adhi menyalami keponakannya. “Adek, om Adhi minta maaf lahir batin ya kalau ada salah-salah” Bukan todongan amplop lebaran yang bikin Adhi terganggu. Tapi jawaban lugu yang bikin Adhi keheranan. “Om Adhi kan enggak Islam. Kok ikut lebaran sih? Kan enggak boleh..”

“Itu yang bilang keponakan saya lho, Mas! Ya bingung aja gitu, kok bisa..”

Saya juga ikut bingung. Sejak kapan anak-anak mulai memberi batasan agama ketika bersilaturahmi dengan keluarganya? Apakah akibat media yang jadi tontonan di ruang keluarga? Atau akibat kegaduhan di layar smartphone yang jadi perbincangan kita di meja makan… bersama anak-anak? Hampir mustahil menyalahkan pertanyaan lugu anak-anak. Namun tidak berlebihan jika ungkapan semacam itu jadi cerminan bagaimana lingkungan sekitarnya berpikir.

Ada satu hadis Qudsi yang terkenal, “inna rahmati sabaqat ghadhabi” Sesungguhnya kasih sayang-Ku melampaui murka-Ku. Pada akhirnya tinggal mana yang mau kita pilih. Beragama untuk sambung-menyambung kasih sayang (yang merupakan makna literal silaturrahmi) kepada manusia atau beragama dengan serba menutup diri yang mempersempit keluasan rahmat-Nya.

Sebagai seorang Muslim, saya tidak ingin Adhi jadi merasa kurang nyaman ketika ikut merasakan meriahnya lebaran. Saya juga tidak ingin teman-teman Muslim yang lain lantas khawatir jadi “racun akidah” atau keluar dari Islam cuma karena ikut hadir di perayaan Natal. Justru kita perlu lebih khawatir pada mereka-mereka yang doyan mencaci-maki sesamanya atau.. jika sentimen agama jadi bikin canggung kehangatan silaturahmi keluarga.

Kalaupun dengan mengucapkan Natal secara otomatis keluar dari Islam, Gus Dur kasih solusi yang mantap: tinggal Syahadat lagi.

*Rifqi adalah esais yang sedang studi S2 di CRCS UGM dan aktif di jaringan Gusdurian. Follow dia di Twitter.