grammys 2018

Bruno Mars Kalahkan Kendrick Lamar dan Menang Besar di Grammy 2018 Karena Juri Suka Lagu Pop Aman

'24K Magic' adalah album yang oke, tapi ada yang lebih pantas dapat penghargaan Album of the Year. Akibat komite Grammy tua-tua, ajang ini tak lagi layak jadi patokan musik bagus.
Foto oleh TIMOTHY A. CLARY/AFP/Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Di luar metafora penuh kekerasan di medley pembuka yang dinyanyikan Kendrick Lamar, aksi Kesha yang penuh katarsis dan dukungan sepenuh hati yang diberikan Camilla Cabello pada (oh ya ada beberapa kelakar tentang Trump yang biasa banget dan obrolan tentang simbolisme U2 yang ngebosenin), malam anugrah Grammy lagi-lagi jadi gelaran anugrah ketebak banget. Hampir enggak ada kejutan berarti. Bruno Mars tahun ini memboyong banyak penghargaan dari Album of The year, Recording of the Year, dan Song of The Year untuk lagu 24K Magic. Pilihan dewan juri tahun ini memang nyebelin, terutama bagi pengamat musik yang lumayan kritis.

Iklan

Di atas kertas album Melodrama-nya Lorde dan DAMN dari Kendrick Lamar lebih pantas menang penghargaan Album of The Year. Lagi pula, anak 10 tahun juga tahu kalau tahun lalu, lagu yang paling mendominasi blantika musik dunia adalah “Despacito” bukan 24K Magic. Syahdan, pilihan Grammy untuk memenangkan 24k Magic dianggap sebagai keputusan pengecut, kalau bukan kesewenang-wenangan oleh para kritis. Pada kenyataannya, Grammy enggak pengecut apalagi sewenang-wenang kok. Ajang anugrah musik ini emang dari sononya punya tradisi memenangkan lagu-lagu atau album-album blockbuster pop, atau lebih tetapnya, blockbuster pop yang smooth abis.

"Smooth" jelas kata yang paling tepat untuk menggambarkan 24K Magic. Kurang smooth apalagi coba. Album ini dihiasi sound Keyboard Yamaha DX7 yang 80an abis, vocal yang lembut dan progresi akor yang rumit lagi halus. Intinya, ini album dengan kualitas nomor satu, yang dijajakan dengan penuh antusiasme dan perhormatan terhadap Teddy Rileys dan Babyface yang jadi inspirasi lagu tersebut. Album ini enggak penting-penting amat, tapi, ya gitu deh, kualitasnya juara. Album lainnya yang setipe dengan 24K Magic adalah debut album self titled Christopher Cross, salah satu album yacht rock paling definitif. Enggak ada yang akan ada yang protes kalau kita bilang ini album yang bagus karena songwriting enggak maksa dan tracklistnya ditata dengan baik.

Komite Grammy juga mikir begitu kok. Buktinya, album ini keluar memboyong predikat Album of The Year Grammy pada 1981. Lagi-lagi ini adalah keputusan main aman Grammy. Pasalnya. Di tahun yang sama, Pink Floyd merilis mahakarya The Wall. Parahnya lagi, anthem Yacht rock milik Cross, "Sailing", sukses menyabet penghargaan Song dan Record of the Year. Banjir penghargaan yang sama turut dicapai album keempat Toto (itu lho, album yang melahirkan lagu legendaris “Africa”). Album ini menggondol penghargaan Album of The Year dan Record of The Year untuk lagu "Rosanna" pada 1983. The Doobie Brothers memenangkan kategori Song of the Year untuk lagu "What a Fool Believes" pada 1979. Lalu, Santana diganjar predikat Record of the Year untuk lagu "Smooth" pada 2000. Lagi-lagi, saya tidak bilang lagu-lagu tersebut jelek. Semuanya harus diakui karya musik keren dan berapi-api, (kecuali “Smooth” ya). Tapi ya gitu, ada benang merah dari pilihan Komite Grammy. Semuanya jenis musik yang "aman banget." Jadi apa dong kesimpulannya? Apa lagi kalau bukan: Komite Grammy seneng banget main aman dan sengaja menjauhi album paling artistik dan mengangkat tema-tema politik atau kontroversial tiap tahunnya.

Iklan

Kemenangan para yacht rockers dulu didasari satu fakta: musisi dan penulis lagu di album yang disebut di atas beradal dari satu lingkaran bisnis musik di Los Angeles masanya. Jeff Porcaro dari Toto, drummer legendaris pada waktu itu, bermain di hampir semua album di atas. Tokoh lainnya yang ikut andil dalam melahirkan album-album milik Toto, Cross dan The Doobie Brothers adalah Michael McDonald, David Foster, and Rod Temperton. Ini adalah sebuah lingkaran kecil skena musik di LA yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ayal, sound-sound soft-rock lantas jadi anak kesayangan para anggota Grammy yang waktu itu terlalu fokus pada musik-musik yang diproduksi di Los Angeles. Agar lebih jelas, kalian bisa menonton Yacht Rock, sebuah serial web yang dibuat dengan penelitian yang kuat, yang menjabarkan bagaimana dinamika—meski fiktif—antara musisi dan komite Grammy dalam kasus album "Human Nature”-nya Michael Jackson.

Skenario kemenangan Bruno Mars memang agak sedikit berbeda. Bruno Mars memain musik yang sama variatifnya seperti yacht rock, tapi berangkat dari genre yang berbeda. Udah gitu, songwriting 24K Magic dilakuan secara mandiri, sehingga pengaruh gembong-gembong genre soft-rock asal Los Angeles yang menguasai industri musik mainstream—di mana pun mereka berada sekarang—tak begitu banyak dijumpai lagi. Kunci kemenangan 24K Magic mungkin terletak pada sisi nostalgia, karena anggota komite Grammy yang sekarang cukup berumur biasanya tahu kepiawaian dibutuhkan untuk membuat album R&B klasik macam Bruno.

Atau mungkin terjadi silang pendapat berdasarkan genre dalam komite Grammy menguntungkan Bruno Mars (ingat kasus Beck yang mengalahkan Beyonce pada 2015?). Atau barangkali, ini sih sekadar dugaan, 24K Magic memang album yang mengasyikkan dan dibuat dengan baik—meski enggak megah-megah amat—hingga bisa mencapai sukses yang diinginkan penyanyi dan produsernya. Apapun itu, pilihan komite Grammy tahun ini ketebak banget. Sekali lagi, sebuah album pop yang enggak menyinggung siapapun, diproduksi dengan ketelitian tinggi, sehingga berhasil menggondol Grammy. Klise.

Kendati demikian, kita toh masih harus bersyukur, sebab setidaknya komite Grammy enggak milih Ed Sheeran sebagai album terbaik tahun ini. Cuma ya itu, kayaknya udah waktunya kita berhenti mempercayai Grammy sebagai barometer musik dunia saat ini. Basi!

Follow Phil di Twitter. Ajak dia memaki-maki komite Grammy