Mengikuti Proses Kembalinya Barakatak, Kuartet Pendiri Republik Funkot di Nusantara
Personel Barakatak, dari kanan ke kiri: Abah Aam, Hana, Didi, Yayat. Semua foto oleh penulis. 
Musisi Legendaris

Mengikuti Proses Kembalinya Barakatak, Kuartet Pendiri Republik Funkot di Nusantara

Sebagai 'Godfather of Funkot', Barakatak merekam jatuh bangun skena dengan kegilaan obat-obatannya. Sempat redup, dua tahun terakhir grup asal Bandung itu kembali menggoyang anak muda berbagai kota.
30 Oktober 2019, 11:26am

Kegilaan mendadak hinggap di ratusan penonton yang menyemut di tepi Yes No Wave Stage Archipelago Festival 2019. Puluhan dari mereka yang tak puas hanya berjoget segera menyelinap ke arah samping, ikut naik panggung. Empat sosok berjaket putih dari grup Barakatak yang sebelumnya menjadi pusat perhatian mendadak lebur dalam pusaran manusia, terdorong ke belakang. Saat itu lagu 'Musiknya Asyik' membahana dari speaker, menggedor syaraf goyang siapapun yang hadir di twilo skatepark belakang Aksara Kemang. Tak sedikit rela melepas baju untuk khusyuk beribadah dalam irama funky kota.

Abah Aam, frontman Barakatak, berhasil menyelinap dari orang-orang yang menggila, memanjat tiang samping panggung, dan bernyanyi dari sana. Malam itu sensasi kegilaan musik Barakatak mencapai titik yang bahkan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya ketika mereka menguasai sirkuit diskotek Ibu Kota lebih dari dua dekade lampau.

"Masih bisa joget malam ini?" kata Aam pada penonton sebelum memungkasi penampilan mereka dengan lagu 'Maju Maju Maju'. "Walaupun sudah tua, kita tidak mau kalah sama yang muda-muda."

1572434159120-DSC09654

Barakatak saat tampil di Archipelago Festival 2019.

Pertanyaan retoris tentu saja. Mereka yang datang siap berjoget sampai pagi. Sayang, teriakan encore yang dikumandangkan anak-anak muda itu tak bisa dipenuhi. Barakaktak menepi. Lampu menyala terang, menyisakan wajah-wajah yang butuh menyedot minuman energi sachetan untuk pulang ke rumah.

Barakatak, 'Tuhan Funky Kota', bangkit kembali dan naik ke surga lantai dansa.

Perjalanan karir Barakatak menggambarkan jatuh bangun sebuah genre musik elektronik lokal yang nyaris tergilas dalam wacana pembentukan selera, dimarjinalkan oleh para penguasa dancehall adiluhung Jakarta, untuk kemudian dilestarikan speaker angkot-angkot kawasan Pantai Utara Jawa serta lapak VCD bajakan.

Dalam berbagai literatur mengenai sejarah funky kota (selanjutnya akan disebut funkot), sulit mencari penanda permulaan genre ini kecuali dari munculnya Barakatak. Pada mulanya adalah firman di lantai dansa, dan firman itu bernama Barakatak. Grup asal Bandung ini mengoplos irama Sunda, dangdut, pop, dan dosis beat berkecepatan 180 hingga 220 BPM. Barakatak mulai menggebrak pada 1990, merilis album Somse, yang lantas membawa gairah baru pada diskotek-diskotek Jakarta.

Setelah Barakatak, diskotik daerah Jakarta Barat seperti di Kali Besar, Mangga Dua, Gajah Mas, dan kawasan Glodok ikut memutar house music citarasa lokal, misalnya seperti lagu Kadoc.

"Musisi dulu itu nyebutnya musik ‘ndendeg’, musik house ndendeg, karena nadanya seperti itu, ndendeg ndendeg," kata Rony Loan saat ngobrol bersama VICE. Dia adalah produser yang meracik lagu-lagu Barakatak. Menurut Rony, sepanjang akhir dekade 80'an dia amat rajin mampir ke diskotek. Pengalaman itu memacunya menciptakan lagu house dengan rasa lokal, yang akhirnya jadilah musik funkot ala Barakatak.

Barakatak sendiri digawangi Aam, Didi, dan Yayat. Trio bapak-bapak ini awalnya hanya memainkan lagu pop sunda ciptaan Doel Sumbang, yang sempat merajai deretan lagu terpopuler radio Jawa Barat memasuki dekade 90'an. Ketika mereka terjun ke ranah funkot, Hana diminta gabung untuk melengkapi aksi panggung, menjadi personil perempuan satu-satunya Barakatak. "Kita yang bikin itu namanya musik Funkot," kata Abah Didi, tanpa keraguan sedikitpun.

Nama Barakatak sendiri diberikan Doel Sumbang, mentor Aam. Musisi legendaris itu menganggap Aam, Didi, dan Yayat suka bersenda gurau. Apalagi lagu Sunda yang mereka nyanyikan bernuansa komedi juga. Barakatak adalah istilah Bahasa Sunda untuk menggambarkan tawa terbahak-bahak.

1572434301792-DSC09707

Abah Aam, sang frontman Barakatak.

Atau barangkali lebih tepat, menganggap semangat Barakatak adalah berkesenian tanpa pretensi. Hal itu tergambar dari proses pembuatan lagu-lagu Barakatak yang apa adanya, seperti cerita terciptanya lagu "Musiknya Asyik". Lagu itu diproduksi pada 1996, ketika pil happy five sedang membanjiri lantai dansa.

Dalam lirik awal lagu itu, awalnya tersemat frasa “...Sudah On belum?…” yang pada masa itu artinya sudah high/trippy. Personel Barakatak merasa lirik itu menggambarkan proses kreatif mereka. Seringkali Rony dan trio Barakatak datang ke diskotek untuk mencari inspirasi, dibantu “barang” yang lebih enak, sampai akhirnya berhasil membawa pulang ide buat diolah di studio.

Rony ingat, dalam kondisi high itu, dia asal saja memasang instrumen. "Lagu ini direkam jam tiga pagi dalam posisi kepala tidak sadar sepenuhya," ujarnya sambil tergelak. Ketika hari sudah siang, dan dia terbangun, di ruang rekaman telah tersimpan satu not intro ‘Musiknya Asyik'. Merasa ide itu bisa dikembangkan, Rony me-looping not tersebut, lalu ditambahkan lirik yang menggambarkan sensasi tripping.

"...Dibilang enak ya memang enak, dibilang asyik ya memang asyik, yang enak enak ya pasti asyik, yang asyik asyik ya pasti enak, memang asyik, memang enak, goyangnya asyik kalau ada musik...”

Tak bisa dipungkiri bahwa pengaruh dari obat-obatan terlarang menemani awal perjalanan karir panggung Barakatak. "Sebetulnya kita bukan pecandu, kita cuma orang-orang yang norak pada saat itu. Norak banget! Kita juga bukan dari golongan orang-orang kelas atas, yang memang kita itu tujuannya hanya untuk happy aja," ungkap Abah Aam kepada VICE.

Keputusan menggunakan narkoba murni hanya untuk mencari suasana yang pas buat menikmati dentuman house, yang bagaimanapun adalah genre yang diimpor dari Chicago ke nusantara. Happy five dan ekstasi (kadang dijuluki inex) dianggap keharusan untuk melengkapi suasana di lantai dansa. Jenis narkoba ini memicu efek rasa bahagia yang berlebihan, empati, kehangatan dan kegembiraan yang intensif terhadap dentuman musik. Membuat badan selalu ingin digoyangkan.

"Enggak kebayang zaman itu kalau kita ke diskotek, tapi kita enggak bisa menikmati house music. Culun jadinya," kata Rony. "Dulu masih bebas buat nyoba obat-obatan, belum ada undang-undang yang secara jelas mengaturnya."

'Musiknya Asyik' meledak sepanjang 1996, mendongkrak pamor Barakatak di kancah house music Indonesia. Akurama Records menawarkan diri jadi label yang menaungi distribusi skala nasional musik funkot ala Barakatak.

Sejak 1996 itu pula, Barakatak sepenuhnya memainkan aliran house music karena terpacu keinginan punya tempat tersendiri di blantika musik Indonesia. Mereka merasa pop sunda tak lagi menjanjikan untuk meroketkan pamor. Dari kancah pop, Dewa19 sedang jaya-jayanya. Lebih baik mereka mengisi ceruk funkot yang sedang berkembang untuk menjaga popularitas.

Dengan karya awal memakai lirik bahasa Sunda lalu sepenuhnya jadi bahasa Indonesia, Barakatak berhasil meraih minat masyarakat perkotaan hingga kawasan sub-urban. Sebagian besar karakter lagunya tetap ngebodor (melucu dalam bahasa sunda), sesekali diisi lirik pesan situasi sosial hingga percintaan pada zamannya. Tapi mereka bukan musisi panggung. Pemasukan terbesar Barakatak justru dari royalti rekaman, membuat mereka sempat abai pada aksi panggung.

Momen arogansi menolak konser yang paling diingat Aam adalah saat Barakatak diundang ke Ujung Pandang, kini Makassar, Sulawesi Selatan. "Ah ngapain mesti pakai latihan, udah aja pasang DJ aja, kita tinggal joget-joget," cerita Abah Aam. "Duit [manggung] juga kecil."

"Ehhh.. pas main ancur. Satu diskotik pada bete semua, karena pada saat itu yang tampil sebelum kami ada AB Three, pokoknya dengan musisi-musisi papan atas waktu itu," kata Aam, disambut tawa serentak dari personil Barakatak lainnya. Sejak insiden itu, mereka kapok sudah tidak pernah mau manggung lagi. Di kancah beredar kabar kalau Barakatak tampilnya hancur-hancuran. Dampaknya, mereka tersisih dari kancah Mangga Besar dan Glodok, sementara diskotek elit di Selatan tambah ogah menerima funkot. Ruang gerak mereka jadi terbatas.

1572434360921-DSC09724

Jaket yang kini rutin dipakai manggung selama dua tahun terakhir. Kolaborasi bersama clothing brand PMP asal Bandung yang sekaligus jadi manajer Barakatak.

Alhasil, pada 1998 dampak krisis moneter segera dirasakan Barakatak. "Penjualan kaset ikut lesu berakibat menurunnya royalti," kata Aam. Barakatak ambruk secara finansial. Label mereka gulung tikar. Setelah krisis dilewati, pertengahan 2003 mereka sempat kembali membuat materi lagu baru yang berjudul ‘Bandung Bergoyang’, dengan harapan bisa kembali terdengar gaungnya.

‘Bandung Bergoyang’ dipilih menjadi lagu penuh dengan syarat pesan untuk menanggapi situasi ketika masyarakat Indonesia dihebohkan skandal video bokep indie mahasiswa kampus swasta di Bandung. Momentum itu sukses dimanfaatkan, setidaknya masyarakat Bandung dan beberapa kota kota lain juga untuk mendengarkan musik Barakatak lagi. Namun reformasi membuka keran informasi bagi penyuka musik Indonesia. Pilihan musik elektronik melimpah ruah dan relatif lebih mudah didapatkan. Selain itu, Badan Narkotika Nasional makin bertaji. Razia narkoba digalakkan ke berbagai diskotek.

Barakatak menyaksikan kancah musik yang sepenuhnya berbeda. Musik mereka turun kasta. Pesta juga semakin bersih dari narkoba. EDM ganti menguasai tahta. Diskotek tetap enggan menerima mereka lagi.

Perekonomian yang lesu pascareformasi membuat pembajakan jadi cara masyarakat mengonsumsi musik. Barakatak, yang sempat merasa sudah tak punya tempat di awal Abad 21, pasrah melihat musik-musik mereka digandakan ilegal lewat VCD dan kanal-kanal YouTube. Siapa sangka, penyebaran musik itu berhasil membangun regenerasi pendengar.

Anak-anak muda, yang bahkan tidak mengalami masa kejayaan Barakatak, tetap bisa menikmati musik mereka. Musik Barakatak bahkan tersedia di Spotify dan Soundcloud. Persebaran materi lama lewat Internet itu juga membantu funkot dinikmati DJ-DJ mancanegara, terutama asal Jepang. Namun, popularitas baru ini tak berbanding lurus dengan keuntungan ekonomi.

"Untuk masalah hak cipta, kami hanya mendapat hak cipta secara moral aja sih, artinya hak cipta tetap milik Barakatak dan tidak bisa diakui pihak lain. Kalau masalah hak ekonomi kami tidak dapat, karena yang mengupload musik Barakatak ke YouTube ya memang orang yang menyukai Barakatak," kata Rony.

Yes No Wave, netlabel kenamaan asal Yogyakarta, jadi salah satu yang jeli melihat adanya minat anak muda melirik kembali funkot. Mereka menawari Barakatak meluncurkan album “Bergoyang Again”, berisi materi lama yang telah di_remaster_. Yes No Wave turut menandai kebangkitan kembali Barakatak, dengan mengundang mereka meramaikan panggung acara Indonesia Netaudio Festival 3.0 pada 2018.

Acara tahun lalu membuka pintu kesempatan baru. Tawaran manggung ke kota Berlin, Jerman, hingga Tokyo, Jepang dilakoni Barakatak yang lahir kembali, sekalipun fisik personelnya menua. Sempat muncul rasa tidak percaya diri. "Kita mesti ngapain nih di [mancanegara], dengan para kakek-kakek yang sudah sisa umur ini mesti ngapain, harus dipikirin dulu, hahaha," ujar Rony.

Kehadiran kelompok digawangi anak muda seperti Prontaxan turut disambut baik oleh sang godfather funkot sendiri. Barakatak mengapresiasi kembalinya minat gen Z mendalami funkot.

"Silahkan dukung musik funkot, karena memang sekarang sudah saatnya giliran yang muda, saya kan sebetulnya hanya memulai saja dengan segala kekurangan tapi kalau mereka muncul juga oke banget," tandas Aam.

1572434445576-DSC09740

Barakatak berpose dengan para penonton Archipelago Festival 2019, selepas acara.

Sekalipun kini punya momentum kembali populer, seperti yang dialami Didi Kempot, Barakatak memilih tidak ngoyo. Mereka juga masih mematangkan rencana merilis materi baru dan tidak ingin menggeber konser ke banyak tempat demi memaksimalkan kesempatan kedua. Mereka ingin menikmati kebangkitan kembali ini sealami mungkin.

"Tidak perlu neko-neko lah, musik itu kan soal keindahan, jadi elu-elu semua pada enggak bakal dapat keindahan kalau lu engga ada kejujuran," kata Rony. "Kalau enggak ada kejujuran, lu juga engga akan dapat kebenaran, itu aja sih cara ngejalaninnya. Itu spirit kita, Barakatak."