The VICE Guide to Right Now

Pria Sukabumi Rakit Helikopter Sendiri karena Muak Lihat Jalan Macet

Helikopter ini akan diuji terbang pada akhir 2019 atau awal 2020 mendatang. Ternyata, Jujun bukan orang Indonesia pertama coba merakit helikopter kreasi sendiri.
04 November 2019, 7:19am
Pria Sukabumi Jujun Junaedi Rakit Helikopter Sendiri karena Muak Lihat Jalan Macet
Foto ilustrasi helikopter rakitan oleh Juan Mambromata/AFP

Jujun Junaedi (42) punya jawaban paling keren ketika ditanya "lagi sibuk ngapain lo?" oleh kawan-kawannya. Buruh bengkel berdomisili Sukabumi itu sudah setahun lebih merakit helikopter di halaman rumahnya. Keputusan ini dibuat karena Jujun mengaku capek melihat kemacetan di Jalan Sukabumi-Bogor yang terjadi persis di depan bengkelnya. Akhirnya, setiap hari libur sejak Agustus 2018, ia menyisihkan waktu dan uang pribadinya demi mengembangkan Gardes JN 77 GM, nama helikopter sepanjang 8 meter itu.

"Insya Allah saya inginnya pada akhir tahun atau awal tahun 2020 bisa melakukan uji terbang. Makanya, proses pembuatan helikopter ini lama karena untuk membeli barang yang dibutuhkan harus menunggu waktu, perlu menyisihkan. Karena kan saya tidak mau menganggu uang dapur," ujar Jujun kepada Kompas.

Gardes JN 77 GM menggunakan mesin penggerak generator set (genset) berkapasitas 24 DK (Daya Kuda), mesin 700 cc, dan dua silinder berbahan bakar premium. Saat ini Jujun sedang menyelesaikan baling-baling utama pesawat sebelum siap diterbangkan. Pria tamatan SMK ini mengaku sudah habis Rp30 juta untuk membiayai pembuatan Gardes. Dalam proses pengerjaannya, Jujun dibantu anak pertama dan kerabatnya.

"Udah dicoba dinyalain, kata Bapak nyalanya udah bagus, tapi belum diterbangin, baling-baling atasnya belum jadi. Yang atas dua buah dan yang belakang satu buah baling-baling. Pembangunan tertunda beberapa minggu karena bapak bekerja di bengkel bubut. Jadi kadang dikerjain, kadang enggak," kata Febriansyah, anak pertama Jujun berusia 16 tahun, kepada Kompas.

Cara merangkai helikopter didapat Jujun dari menggabungkan pengetahuannya saat duduk di bangku SMK, pengalaman kerja di bengkel, konsultasi dengan koleganya yang mayoritas mekanik alat berat, dan dari YouTube. Ia berharap bisa berkonsultasi dengan ahli kedirgantaraan dan pembuatan pesawat terbang sebelum menyelesaikan proyek ini.

Kita patut mengapresiasi langkah solutif Jujun, tapi jangan terlalu terkesima dulu. Pasalnya, dua tahun lalu seorang pemuda Aceh bernama Nasriadi alias Momo pernah menciptakan helikopter dari mesin mobil. Momo menghabiskan waktu 3 bulan dan biaya Rp30 juta demi merakit Hindia NSG01DY, nama helikopternya itu.

Dari penuturannya kepada CNN Indonesia, ia mengaku dapat ide membuat helikopter dari pikirannya sendiri sembari dibantu YouTube. Sayang, saat uji terbang dilakukan, badan helikopter Momo gagal terangkat.

Secara bisnis, niat Jujun memberikan alternatif transportasi udara bagi masyarakat agar tidak terjebak macet cukup menjanjikan. Pada Oktober 2017, The Whitesky Aviation merilis layanan taksi helikopter bernama Helicity di Jakarta. Dari awalnya hanya diminati pebisnis dan pejabat, kini taksi helikopter juga digandrungi keluarga yang ingin berwisata menggunakan helikopter. Sepanjang 2018, tidak kurang dari 480 penerbangan dilakukan Helicity.

"Ada peningkatan sekitar 50 persen saat ini. Jadi, menurut kami, animo masyarakat juga cukup tinggi. Kita memang masih ada pekerjaan lain yaitu sosialisasi dan edukasi tentang transportasi helikopter ini kepada masyarakat," ujar Business Development Director Whitesky Aviation Ari Nurwanda kepada Kompas TV. Selain Whitesky Aviation, Grab juga pernah berencana bikin taksi udara pakai helikopter, hanya saja sampai saat ini belum ada kelanjutannya lagi.