Air Limbah Bisa Beri Data Jenis Narkoba Paling Banyak Dikonsumsi di Seluruh Dunia

Ilmuwan mencari jejak obat-obatan terlarang dari air limbah di 37 negara. Hasilnya adalah tiap negara punya sumber kecanduan
29 Oktober 2019, 10:50am
Air Limbah Bisa Beri Data Jenis Narkoba Paling Banyak Dikonsumsi di Seluruh Dunia
Ilustrasi kokain, sumber foto dari arsip US Drug Enforcement Agency (DEA) 

Selama delapan tahun, ilmuwan menyaring limbah 60 juta orang untuk memetakan penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain, amfetamin, dan MDMA di 30 lebih negara.

Hasil penelitian, yang diterbitkan Rabu dalam jurnal Addiction, menunjukkan penggunaan kokain sedang meningkat di seluruh Eropa. Metamfetamin atau sabu-sabu paling banyak digunakan di Amerika Utara dan Australasia, sedangkan tingkat penggunaan MDMA sangat tinggi di Belanda.

“Studi epidemiologi berbasis air limbah ini menjadi penelitian terbesar yang pernah dilakukan karena melibatkan (120) kota dan (37) negara dengan durasi [delapan tahun] (2011-2017),” tulis tim peneliti yang diketuai Iria González-Mariño, assistant professor kimia di University of Salamanca, Spanyol.

“Kumpulan data ekstensif yang diperoleh untuk mengamati kokain, amfetamin, metamfetamin dan MDMA menunjukkan gambaran komprehensif tren penggunaan ruang dan waktu,” González-Mariño dkk melanjutkan.

Metode pengambilan sampel air limbah semakin sering digunakan untuk melihat sisa-sisa narkoba dan melacak pola pasar obat-obatan terlarang selama 10 tahun terakhir. Di saat penelitian terdahulu mempelajari penggunaan narkoba di kota tertentu atau selama acara besar-besaran seperti gerhana matahari total pada 2017, tim González-Mariño mengambil pendekatan internasional.

Pengambilan sampelnya dimulai pada 2011 di sejumlah kota Eropa, yang kemudian meluas ke Australia, Selandia Baru, Kolombia, Martinik, Kanada, AS, Korea Selatan dan Israel dari 2014 hingga 2017.

Mereka sengaja menghindari hari libur nasional karena tak mau hasilnya dipengaruhi penggunaan narkoba yang lebih tinggi dari rata-rata, dan berusaha menjelaskan kontaminasi obat-obatan sesuai resep yang mungkin memiliki jejak kimia serupa dengan narkoba. Misalnya seperti air limbah yang menandakan sisa metamfetamin cukup tinggi di Seattle. Temuan ini dapat dipengaruhi obat-obatan legal yang memang diresepkan untuk pengidap ADHD.

Hasilnya menunjukkan secara keseluruhan penggunaan narkoba paling umum ditemukan di Antwerp, Amsterdam, Zurich, London dan Barcelona, sementara tingkat residu narkoba dalam air limbah di Yunani, Portugal, Finlandia, Polandia, dan Swedia sangat rendah.

London, Bristol, Amsterdam, Zurich, Jenewa, St Gallen dan Antwerp memiliki tingkat penggunaan kokain yang tinggi. Amfetamin tampaknya mulai populer di Barcelona, Jenewa, Berne, Zurich, Dortmund, dan Berlin. Sementara itu, penggunaan metamfetamin di Eropa lebih rendah daripada Amerika Serikat dan Australia. Selain Belanda, penggunaan MDMA juga tinggi di Helsinki, Oslo, Brussels, Dortmund, Zagreb, Zurich, Jenewa, dan Barcelona.

Secara keseluruhan, datanya kurang lebih sejalan dengan pengukuran penggunaan narkoba lainnya. “Kesimpulannya cocok dengan survei atau data kerusakan penggunaan narkoba,” tulis González-Mariño dalam email. “Yang paling menarik adalah metodologi kami menyediakan data secara real time (sampel diambil dan dianalisis dalam beberapa hari) sehingga hasilnya keluar lebih cepat daripada indikator lain.”

Sebagai contoh, dia menjelaskan betapa terkejut timnya ketika melihat lonjakan benzoylecgonine—senyawa metabolit dalam kokain—di kota-kota Eropa sepanjang 2016-2017. Beberapa bulan kemudian, para peneliti menemukan kemurnian kokain telah meningkat selama periode itu. Hal ini menjelaskan mengapa kadar benzoylecgonine di air limbah bertambah tinggi.

González-Mariño juga mengambil sampel air limbah untuk melihat tanda-tanda kanabis, tetapi kandungan psikoaktif tetrahydrocannabinol (THC) lebih sulit diidentifikasi dalam sampel karena mudah terikat dengan partikel air limbah.

“Protokol analitik untuk mengekstraksi dan menganalisa sisa-sisa kanabis dalam air limbah harus terus ditingkatkan,” kata González-Mariño. “Zatnya rumit, tapi saya yakin metode baru kami bisa melacak THC pada penelitian selanjutnya.”

Data air limbah ini sangat berguna bagi masyarakat yang ingin melacak aliran obat-obatan terlarang, dan mengantisipasi masalah medis dan sosial yang berkaitan dengannya. González-Mariño dkk berharap dapat melakukan studinya di lebih banyak kota, dan mengamati zat lain yang memengaruhi kualitas hidup manusia.

“Metodologi ini dapat digunakan untuk menilai kebiasaan gaya hidup (seperti konsumsi zat legal seperti alkohol atau tembakau) dan paparan polutan (seperti bahan pembuat plastik dan pestisida), sehingga bidang aplikasinya lebih menjanjikan dan tak terbatas pada narkoba saja,” simpulnya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.