The VICE Guide to Right Now

Di Desa Filipina Ini, Penduduk Bisa Menukar Sampah Plastik Dengan Beras

Barter makanan-sampah ini dimaksudkan pemerintah setempat untuk mengajarkan penduduk agar membuang sampah plastik mereka secara layak.
15.10.19
Di Desa Filipina Ini, Penduduk Bisa Menukar Sampah Plastik Dengan Beras
Ilustrasi plastik mengotori lingkungan oleh John Cameron dari Unsplash/lisensi CC 3.0

Filipina adalah negara dengan tingkat polusi laut tertinggi ketiga di dunia, biarpun hukum pengaturan sampah diloloskan lebih dari satu dekade lalu. Ini disebabkan oleh penegakan hukum yang lemah dan tidak adanya regulasi perihal kemasan produk. Di Filipina, hampir semua jenis perlengkapan mandi dijual dalam sachet plastik.

Namun ada satu desa yang mencoba mengedukasi para penduduknya perihal pembuangan sampah plastik yang benar.

Iklan

Desa Bayanan di Muntinlupa City meluncurkan sebuah program pada September untuk meningkatkan pengelolaan sampah dengan cara menawarkan satu kilogram beras untuk ditukar dengan sampah plastik. Sampah tersebut akan dibuang dan didaur ulang oleh pemerintah setempat, seperti dikutip dari laporan Reuters.

Sama seperti kebanyakan negara Asia lainnya, nasi adalah makanan pokok bagi penduduk Filipina. Satu kilogram beras harganya sekitar PHP 30-40 (setara Rp10.000). Ini berat bagi negara di mana 21 persen dari populasi totalnya, 107 juta orang, masih hidup di bawah garis kemiskinan menurut Badan Statistik Filipina.

Veronica Dolorico, seorang pendukung program tersebut, menjelaskan cara kerja sistem ini kepada wartawan lokal. “Saya memiliki 14 kilo sampah, jadi saya mendapatkan 7 kilo beras. Ini sangat membantu kami punya satu kilo beras untuk hari itu.”

“Saya merasa lingkungan kami sangat kotor. Dan andaikan bisa, saya akan memungut semua plastik di jalanan ketika saya di luar. Saya akan membawa tas saya dan mengisinya dengan sampah kalau bisa,” ujar Dolorico.

1570786035055-20191011_Plastic_Water_Vice

Menurut kepala desa Andor San Pedro, desa tersebut telah mengumpulkan lebih dari 213 kilogram sachet, botol, dan kantong plastik pada Agustus.

“Banyak orang tidak berinisiatif ketika tidak ada insentif. Kami muncul dengan ide kami agar mereka bisa punya makanan,” ujar San Pedro.

Pihak pemerintah berharap program pertukaran makanan-sampah ini akan mengajari orang untuk membuah sampah mereka dengan benar.

Menurut laporan dari the Ocean Conservancy and McKinsey Center for Business and Environment, Filipina menghasilkan 2,7 juta metrik ton sampah plastik setiap tahun, sementara negara lain yang bertanggung jawab atas lebih dari setengah sampah plastik yang menggenang di laut adalah Cina, Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Mungkin negara-negara Asia tetangga harus mulai mereplika program ini, yang bukan saja bisa membersihkan jalanan, tapi membantu menyediakan makanan bagi masyarakat.

Follow Lia di Twitter dan Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.