Panduan Mendalami Metallica Untuk Pemula
Panduan Noisey

Panduan Mendalami Metallica Untuk Pemula

Orang bilang belum sah jadi anak metal kalau belum khatam Metallica. Masalahnya, band metal terbesar sejagat ini punya banyak album. Tapi tenang, kami sediakan untuk pembaca semua cara cepat jadi fan Metallica yang kaffah.
Abdul Manan Rasudi
Diterjemahkan oleh Abdul Manan Rasudi
23.11.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Kalau punya waktu luang, cobalah eksperimen berikut. Ajak kakek atau om kamu yang sudah berusia di atas 50 tahun ngobrol tentang musik. Tahan-tahan dikitlah kalau mereka banyak ngomong tentang band macam Koes Plus dan Panber’s. Nah begitu diskusinya sudah mulai asik, ajukan pertanyaan ini “Kek/Om, band heavy metal kesayangan Kakek/Om apa?” Saya berani taruhan, kalau kakekmu cukup gaul di masa muda, dia bakal menjawab Metallica. Okay, mari kita sepakati dulu kalau Metallica adalah band heavy metal, wabil khusus thrash metal. Malah, kenyataan bahwa kakek-kakek kita tahu siapa itu Papa Hetfield dkk menunjukkan kalau Metallica nyaris setara dengan heavy metal itu sendiri. Tentu, status seperti tak akan diperoleh oleh band asal Los Angeles ini kalau mereka posisi penting dalam perkembangan sebuah genre besar bernama heavy metal: mereka adalah jembatan antara kemunculan band proto metal Black Sabbath dan serangan band-band alt-metal/nu-metal yang ramah radio di bawah pimpinan Slipknot dan kawan-kawan. Berkat posisi ini pula, Metallica sampai kini masih jadi barometer musik metal global lantaran pengaruh band yang dibentuk pada 1981 ini tetap signifikan seiring meluasnya genre heavy metal. Layaknya Anthrax atau Slayer, sebelum jadi band metal paling besar sejagat, Metallica awalnya adalah sekelompok musisi thrash metal berseragam denim yang dipuja sekelompok anak muda gondrong. Metallica baru bisa menyita perhatian audiens musik mainstream setelah berani mengeluarkan lagu-lagu yang lebih ramah media (yang doyan Anthrax dan Slayer jangan songong dulu, band kesukaan kalian juga pernah sok-sokan mainstream kok). Perubahan gaya musik Hetfield dkk kawan ini yang akhirnya mengubah komposisi penggemar mereka. Jika sebelumnya Metallica cuma jadi panutan anak muda thrash metal underground yang gemar melakukan tape trading, kini Metallica digemari oleh generasi MTV. Hebatnya lagi, kepopuleran metal seperti tak bisa diusik. Di akhir milenium pertama Metallica harus melalui perseteruan hebat antara anggota band. Belum lagi, mereka (Lars Ulrich sih sebenarnya) juta waktu itu tengah bersitegang dengan penggagas file sharing, Napster—sebuah aksi yang bikin nama Metallica coreng di kalangan pengunduh mp3. Nyatanya, memasuki milenium kedua, Metallica masih jadi band metal paling terkenal sejagat. Bahkan, sampai hari ini, Metallica masih mengeluarkan album (walau beberapa di antaranya butut enggak ketulungan) dan manggung di venue-venue besar di depan ribuan massa mereka yang fanatik. Salah satu alasan kenapa Metallica selalu masuk Billboard dan tetap jadi band bestseller selama beberapa dekade pasti ada hubungannya dengan penemuan-penemuan akan katalog mereka. Dengan beragam rilisan deluxe remaster dan tur dunia tanpa henti, pendengar baru band ini makin entusias menjajal diskografi Metallica sementara fan-fan casual mereka bisa terus menggali rilisan Metallica dengan mudah lewat bantuan internet—sebuah perkembangan yang awalnya sangat dibenci oleh Metallica. Sayang, mengingat Metallica punya 10 album studio, banyak album live resmi dan segepok album reissue, mengkhatamkan diskografi Metallica adalah sebuah pekerjaan yang berat. Minggu lalu, Metallica merilis expanded edition Master of Puppets, album tahun 1986 Metallica yang sejauh ini sudah diganjar 6 platinum. Tambahan lagi, dalam waktu dekat fan Metallica akan merayakan ulang tahun ke-20 album Reload. Jelas, dalam momen-momen seperti feed media sosial kita pasti penuh dengan tautan mengenai dua album keren itu. Nah, bila kalian merasa ketinggalan atau berdosa karena tak kenal-kenal amat Metallica, jangan khawatir. Berikut saya beberkan cara cepat memahami Metallica. Niscaya dalam beberapa hari atau mungkin jam, kamu bisa jadi fan Metallica dadakan yang kaffah. Selamat membaca.

Sisi Thrash Metallica

Biar tak dicap poser-poser amat, ada baiknya kalian mulai mengenal genre yang membesarkan Metallica, thrash metal. Mengambil inspirasi dari band-band New Wave of British Heavy Metal (NWBHM) dan hardcore—varian punk yang waktu itu masih segar-segarnya, thrash metal muncul sebagai genre asli Amerika Serikat yang muncul di saat publik tengah mencari musik ekstrem yang segara. Dalam debut mereka Kill Them All, yang dilepas pada 1983, Cliff Burton, Kirk Hammett, James Hetfield, dan Lars Ulrich berhasil menyuguhkan apa yang bisa kita sebut sebagai purwarupa thrash metal—dengan pengaruh NWBHM yang kentara di sana-sini. Masuk album kedua, Ride The Lightning (1984) pengaruh-pengaruh itu mulai luntur seiring naik pesatnya kemampuan songwriting James Hetfield. Dua album keren setelah itu Master Of Puppets (1986) dan And Justice For All (1988), menegaskan status mereka sebagai dewanya musik thrash—kali ini dengan Jason Newstead mengisi kekosongan selepas kematian tragis Cliff Burton. Sepanjang karir band ini, meski mereka melakukan bermacam eksperimen, Metallica selalu kembali ke estetika thrash metal 80-an—sebuah genre yang mereka ikut lahirkan. Seperti yang terlihat pada album Death Magnetic (2008) dam Hardwired… to Self-Destruct yang dilepas tahun lalu, Metallica—seperti band-band kugiran di abad 21 lainnya—dengan mudah menegaskan status mereka sebagai kolektif musik legendaris hanya dengan mengunjungi sound-sound awal mereka. Dua album tersebut juga menampilkan pengganti Jason Newstead, Robert Trujillo—bassist yang sebelum pernah memperkuat Suicidal Tendencies dan Ozzy Osbourne serta beberapa band lainnya. Seakan tak ingin fansnya lupa akan akar thrash metal mereka, line up terakhir Metallica beberapa waktu lalu menggelar konser nostalgia Big Four dengan rekan sejawat mereka, Anthrax, Megadeth, dan Slayer.

Playlist: " Master Of Puppets" / "Hardwired" / "Creeping Death" / "Through The Never" / "The Four Horsemen" / "That Was Just Your Life" / "Blackened" / "Atlas, Rise!"

Sisi Mainstream Metallica

Kerap dikenal oleh fannya sebagai The Black Album, album self-titled Metallica yang keluar pada tahun 1991 sampai saat ini masih menjadi album rock paling sukses secara komersil. Raihan platinumnya? 16 buah saja. Selain memperkenalkan heavy metal ke publik arus utama dengan beberapa video musik yang menyeramkan, The Black Album kembali mendefenisikan ulang rock arena empat tahun setelah Guns N’ Roses’ Appetite For Destruction mematok batas-batas rock mainstream. Album ke lima Metallica ini memberi apa yang generasi sebelumnya dapatkan dari KISS dan AC/DC. Album ini sama saja nendangnya saat dimainkan lewat headphone Discman maupun speaker di stadion. Pun, kalau kalian tak sempat merasakan betapa hebatnya lagu-lagu dalam album ini bila dimainkan di atas panggung, kalian toh tetap bisa mencicipinya tanpa harus bayar karcis mahal dengan menggeber Live Shit: Binge And Purge (1993) di perangkat stereomu sendiri. Pada masanya, The Black Album jelas lebih berat dan agresif dari apa yang didengarkan publik mainstream, tapi hook-hook chorus khas Hetfield dan produksi Bob Rock yang mulus bikin lagu-lagu di dalamnya gampang dicerna. Formula ini bakal menemukan puncaknya pada dua album setelah The Black Album, Load (1996) dan Reload (1997), yang punya lebih banyak koleksi lagu lamban dan ngerock. Sepintas, Metallica melakukan kompromi dengan memasukkan sound-sound nu-metal pada dua album ini. Padahal, kenyataannya, Metallica punya andil dalam lahirnya nu-metal—genre metal yang paling sering dibully. Lagipula, dari mana Nine Inch Nails, Marilyn Manson, dan Korn mendapatkan inspirasi sound mereka kalau bukan dari The Black Album?

Tendensi untuk memuaskan publik mainstream ini pun masih kuat di album St. Anger (2003) yang kontroversial. Bahkan dalam lagu-lagu tersangar di album itu, Hetfield masih sempat menyisipkan hook-hook yang ngepop abis.

Iklan

Playlist: " Enter Sandman" (Live In Mexico City) / "King Nothing" / "All Nightmare Long" / "Hero Of The Day" / "The Unforgiven" / "Attitude" / "St. Anger" / "Don’t Tread On Me"

Spotify | Apple Music

Sisi Ballad Metallica

Beberapa tahun sebelum Metallica jadi band paling penting dalam kancah heavy metal, satu-satunya cara agar band metal bisa diterima oleh radio mainstream dan televisi kabel adalah dengan menggubah lagu-lagu ballad. Cinderella, Poison, Skid Row, Warrant, Whitesnake—semua band ini masuk chart dan laris diputar lagunya gara-gara bikin lagu ballad menye-menye yang dilengkapi solo gitar virtuoso. Metallica—yang jelas-jelas berseberangan dengan band-band hair metal ini—ternyata juga pernah mengikuti formula yang sama. Kurang ballad apalagi coba (beberapa part) lagu-lagu macam “One” dan “Welcome Home (Sanitarium)”? Tapi namanya juga Metallica, dua lagu ini bukan lagu tentang patah hati. Keduanya tentang ketakutan personal yang begitu gelap. Cuma, kalau ngomongin sisi ballad Metallica, tak ada yang pantas disandingkan dengan “Nothing Else Matters,” lagu paling bermakna sekaligus paling dikenal dari seluruh diskografi Metallica. Lagu ini membuktikan bahwa lirik-lirik yang kelam bisa dibungkus menjadi lagu ballad yang megah. Syahdan, lagu itu dan track setelahnya “Hero Of The Day” berhasil melunturkan stigma bahwa ballad adalah akal-akalan anak hair metal biar albumnya laku. Berkat dua lagu itu pula, kita bisa menyimpulkan bahwa Metallica punya andil dalam perkembangan lagu ballad gelap. Tanpa ballad gelap ala Metallica, kita sepertinya harus membayangkan musik metal tanpa ballad-ballad megah di album-album band seperti Tool atau Mastodon.

Playlist: " Nothing Else Matters" / "The Unforgiven II" / "Fade To Black" / "The Day That Never Comes" / "One" / "My Friend Of Misery" / "The Unforgiven III" / "Turn The Page"

Iklan

Spotify | Apple Music

Sisi Rock N Roll Metallica

Kalau kalian pernah penasaran band-band apa saja yang didengarkan oleh Hammett, Hetfield, dan Ulrich saat remaja, geber kencang-kencang album Garage Inc (1998). Berisi lagu-lagu cover yang direkam Metallica di dekade ‘80 dan ‘90-an, double album ini adalah sebentuk penghormatan personil Metallica pada musisi yang pernah mereka puja dari Black Sabbath, Budgie, Diamond Head, dan Bob Seger hingga band-band punk layaknya Discharge dan The Misfits.

Beberapa tahun sebelum Garage Inc dirilis, sisi rock ‘n’ roll Metallica sebenarnya pernah muncul di beberapa lagu. “2 X 4” dari album Load misalnya punya cita rasa roadhouse yang kuat. Track lainnya, Fuel, sejatinya adalah lagu blues yang dimainkan dengan sangat kencang. Track-track kurang terkenal seperti “Prince Charming” dari album Reload dan “Sweet Amber” dari album St. Anger lebih kedengeran seperti masa awal Queens Of The Stone Age daripada album-album awal Megadeth. Bahkan, jiwa rock ‘n’ roll Hetfield cs juga sempat nongol di Hardwired, di tengah-tengah album yang diniatkan album yang kembali ke khitah Metallica sebagai band thrash metal, band berusia 36 tahun ini memainkan “Now That We’re Dead,” lagu sepanjang tujuh menit yang terdengar seperti outtake album British Steel-nya Judas Priest.

Playlist: " 2 X 4" / "Invisible Kid" / "Prince Charming" / "Now That We’re Dead" / "Sweet Amber" / "Fuel" / "Wasting My Hate" / "Bad Seed"

Iklan

Spotify | Apple Music

Sisi Eksperimental Metallica

Bagi mereka yang kenal Metallica lewat satu atau dua lagi saja (biasanya sih, Enter Sandman dan Nothing Else Matters), Metallica adalah band yang kurang nyeni dan berbudaya. Ini jelas-jelas anggapan yang tak berdasar. Bahkan ketika personelnya masih rajin pakai vest denim, Metallica kerap menutup konsernya dengan komposisi Ennio Morricone “The Ecstasy of Gold,” yang diambil dari score film spaghetti western legendaris karya Sergio Leone, The Good, The Bad And The Ugly. Begitu pun ketika mereka jadi komersil di album Load / Reload, Metallica bekerja sama dengan seniman Anton Corbijn untuk menggarap video klip single-single di dua album dan Andres Serrano guna mendesain sampul album mereka. Lantas, Kalau ukuran nyeni sebuah adalah luasnya referensi, maka Metallica adalah band yang nyeni dan eksperimental abis. Buktinya, mereka mengcover lagu Nick Cave And The Bad Seeds segigih mereka memainkan ulang lagu-lagu The Misfits. Lalu, kalau sebuah band baru dibilang berbudaya lantaran bikin karya dengan rocker yang artsy, maka ketahuilah kalau Metallica pernah kerja bareng dnegan Marianne Faithfull dan Lou Reed. Plus, jangan lupa, Metallica adalah satu-satu band thrash metal yang meliris album live bersama iringan San Francisco Symphony pada 1999. Intinya, Metallica bukan band yang kerjaanya bikin riff-riff cepat yang ngejelimet. Reintepretasi orkestra lagu-lagu Metallica di album S&M di atas kertas jadi album yang jelek. Nyatanya, album itu malah berhasil menguatkan kemegahan sinematik lagu-lagu seperti “For Whom The Bell Tolls” dan “Of Wolf And Man”. Beberapa materi di Death Magnetic punya durasi di atas tujuh menit, tapi itu belum apa-apa dibandingkan dengan “Junior Dad,” lagu pembuka album kolaborasi Metallica dan Lou Reed, Lulu. “Junior Dad” adalah lagu terpanjang Metallica. Durasinya nyaris 20 menit lengkap dengan nuansa post-rock yang epik dan puisi Lou Reed di sana-sini. Pada lagu-lagu inilah, kita menemukan bahwa Metallica adalah band yang nyeni serta—khusus pada track-track dalam album Lulu—kadang-kadang goblok!

Playlist: The View / Frantic / Loverman / The Memory Remains / For Whom The Bell Tolls (S&M) / Junior Dad / Low Man’s Lyric / Dirty Window

Spotify | Apple Music