LGBTQ

Komunitas Transgender Hijra di India Memperjuangkan Kesetaraan

Putusan Mahkamah Agung India yang mengakui hak-hak transgender, belum berpengaruh mengurangi angka kekerasan seksual dan kemiskinan yang dihadapi komunitas Hijra.
25.7.17
Hijra sit in a protest for their political rights. Photo by Sindhuja Parthasarathy

Nitai Giri melepaskan pakaiannya. Kita bisa langsung melihat luka bengkak kemerahan bekas tembakan lelaki yang dulu mencoba memerkosanya. "Saya disiksa karena bentuk fisik saya," ujar Giri, yang tinggal di Kolkata, negara bagian di pantai timur India. "Tubuh saya mirip cowok, dan penampilan saya seperti cewek—persepsi orang-orang langsung berubah dan mereka mulai mengeksploitasi saya secara seksual." Di India, Giri yang berusia 35 tahun dianggap hijra: komunitas non-cisgender besar namun tak diakui yang terdiri dari warga negara gender ketiga, yang terlahir sebagai laki-laki namun mengidentifikasi diri sebagai perempuan atau laki-laki non-cis. Komunitas yang bernuansa ini seringkali disamakan dengan pengemis dan pekerjaan seks komersil, dan dengan diusir dari rumah. Transgender, kasim, interseks, dan hijra seringkali dipersulit oleh sistem untuk mendapatkan kesempatan setara. Karena undang-undang kolonial Inggris mengkriminalisasi hijra—sebuah undang-undang yang masih berlaku hingga 2009—komunitas ini menjadi sangat termarjinalkan. Seringkali, hijra tidak bisa mendapatkan akses kesehatan dan pekerjaan yang layak. Sebelum 2014, ketika Mahkamah Agung India secara resmi mengakui hijra sebagai "gender ketiga" dalam kasus pentng, komunitas tersebut tidak punya pilihan selain "laki-laki" dan "perempuan" pada formulir sekolah dan pekerjaan. Kini, beberapa hak melanjuti putusan tersebut telah dipenuhi dan ditegakkan oleh pemerintahan nasional maupun daerah. Di Negara Bagian Kerala, pemerintah menggalakkan program di Kochi dua bulan lalu. Wujudnya, mempekerjakan 23 hijra sebagai pekerja metro. Sebuah video viral dibuat oleh pemerintah Kerala dan diliput media menggambarkan kisah manis pemberdayaan. Namun inisiatif ini gagal total, karena 11 pekerja hijra tidak bisa menemukan tempat tinggal aman dan terjangkau dan terpaksa mengundurkan diri tak berapa lama setelah bekerja. Sementara itu, beberapa orang yang masih bekerja mengaku harus mencari tambahan penghasilan dengan bekerja sebagai PSK dan menerima ancaman kematian. Di India, hijra dipandang sakral dalam agama Hindu. Mereka dapat mencari uang dengan memberikan doa dan restu di kawinan dan pesta kelahiran, tapi acara seperti itu jarang-jarang. "Mayoritas hijra bekerja sebagai PSK," ujar Jana. "Mencoba disembah adalah sebuah pilihan, tapi mereka tidak bisa melanjutkan hidup—mereka masih butuh penghasilan dan kesempatan." Seringnya, mereka menjadi pengemis dan PSK untuk melanjutkan hidup. "[Hijra] harus menghadapi kebencian sosial karena mereka dianggap tidak alami," ujar Smarajit Jana, epidemiolog yanng fokus pada kesehatan publik PSK India selama berdekade-dekade. Dia membantu membangun Durbar, serikat PSK yang terdiri dari 65,000 anggota di seluruh Bengal Barat. Jana bilang hijra sering menjadi pengemis atau PSK karena "sebagian besarnya tidak mengemban pendidikan formal dan kesempatan mereka kecil… sistem sosial di sini sangat tidak simetris. Hanya orang tua yang protes (norma sosial) yang akan memasukkan anaknya ke sekolah, dan kemungkinannya satu dibanding 1000." Giri adalah satu dari sedikit anak yang dimasukkan orangtuanya ke sekolah, bahkan ketika dia mulai mengenakan pakaian perempuan sejak usia dini. Namun terlepas dari upaya orangtuanya, murid-murid lain dan gurunya mendeskriminisasinya dan mengabaikan pendidikannya. Giri putus sekolah untuk menjadi pekerja anak-anak di pabrik tas ketika usianya baru 10 tahun, usia yang sama dia diperkosa. Dia pindah ke pabrik lain, tapi Giri bilang dia diserang secara seksual juga di sana. Dia lalu meninggalkan pekerjaan pabrik dan mencoba menari dengan hijra lain di jalanan—di mana lagi-lagi dia dikasari secara seksual. Merasa tidak punya banyak pilihan, dia menjadi PSK di usia 13 tahun. "Saya sudah menghadapi begitu banyak masalah," ujar Giri. "Konsumen tidak memberikan upah yang bagus, terkadang setelah membawa saya ke hotel mereka mengambil barang-barang saya, dan mereka berhubungan dengan saya tanpa kondom." Giri, meski hidupnya berat, percaya perubahan positif mungkin untuk hijra di India. Kini dia adalah ketua Anandam, grup advokasi hak-hak LGBTQ dan anti-kekerasan yang bekerja berdampingan dengan lesbian dan transpuan korban kekerasan di Kolkata. Anggota Anandam mencoba mengintervensi melawan petugas kepolisian dan keluarga—seringnya yang paling keras melawan hijra—melalui edukasi dan program-program jangkauan. Tidak semua warga non-cis India mengidentifikasi diri sebagai hijra, beberapa mengidentifikasi diri sebagai transgender, kata yang lebih erat terasosiasi dengan budaya Barat. Salah satunya adalah Rajkumar Das, yang bekerja sebagai praktisi hukum di National Legal Service Authority di India, yang mengajukan kasus ke Mahkamah Agung untuk mengakui "gender ketiga." Das mengadvokasikan hak-hak hijra bersama Anandam.
"Populasi transgender tidak dipandang 10 tahun lalu," ujarnya. "Mereka terus bersembunyi karena tidak ada aktivisme sosial—namun meski kini semuanya terlihat, diskriminasi masih terjadi." Das bilang kalau anak-anak non-cisgender terus menerus terkena stigma dan kesulitan mendapatkan pendidikan sejak usia dini, mereka akan terus menghadapi kemiskinan dan bahaya. "Kita sekarang punya pemerintah yang baru, tapi belum ada kemajuan berarti," ujar Das. "Mereka tidak ngapa-ngapain." Masalah kesehatan mental juga berkaitan dengan hal ini. Sebuah peneitian pada Desember 2016 menemukan bahwa 31 persen transgender di India akan melakukan bunuh diri, dan sekurang-kurangnya setengahnya telah mencoba bunuh diri sebelum menginjak usia 20 tahun. Tingkat kasus bunuh diri sebenarnya mungkin lebih banyak, karena ada banyak kasus yang tidak tercatat terutama di kawasan lampu merah dan pedalaman. Jana bilang tidak akan ada banyak yang berubah kecuali Mahkamah Agung mempertimbangkan proteksi lanjutan untuk komunitas ini. "Hijra seringkali bergantung pada kebaikan polisi dan administrasi—mereka tidak mengakui 'transgender'," ujarnya. "Mereka mengakui laki-laki atau perempuan, yang membuat pihak rumah sakit kebingungan soal penggunaan toilet." Di Sonagachi—distrik lampu merah terbesar di India, di bagian utara Kolkata—pekerja seks komersil berkumpul pada 12 Juli untuk merayakan hari jadi ke-22 serikat Dunbar. Di sebuah apartemen di atas panggung, dengan tembok biru pucat dan jendela-jendela yang ditutupi oleh besi berwarna krem, sekelompok penari hijra mempersiapkan sebuah pertunjukan, saling bertukar make up dari tempat plastik kecil. Tarian ini bukan sekadar penghiburan: komunitas hijra di sana menggunakan pertemuan itu untuk mengajak semua mengakhiri diskriminasi mendalam di kawasan lampu merah. Di Sonagachi, hijra tidak diizinkan memiliki ruang untuk mengoperasikan rumah bordil mereka sendiri. Alih-alih mereka bertemu klien di tempat-tempat seperti bioskop, taman, dan di jalanan, di mana mereka lebih rentan terhadap kekerasan. "Tidak ada uang, tidak ada pendidikan, dan tidak ada respek untuk warga transgender," ujar Das, sementara mereka berkumpul di bawah panggung meski hujan turun deras. "Pemerintah sangat di atas kita jadi kita tidak bisa sekadar menjangkau mereka—kita enggak tahu apa yang bisa dilakukan setelah ini."

Iklan

Follow Justin Heifetz di Twitter.