Sepakbola

Ya Tuhan Wenger Teken Kontrak Baru di Arsenal, Gimana Caranya Biar Ikhlas?!

Arsenal kembali memberi 'Profesor' Wenger perpanjangan kontrak usai sukses membawa anak didiknya jadi kampiun Piala FA. Inilah curahan hati seorang Gooners.
31.5.17
Foto patung Wenger oleh Flickr user ronmacphotos // CC2.0

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Enam tahun terakhir, Arsenal bisa dibilang klub yang sangat konsisten sekaligus tidak konsisten, tergantung dari mana kita melihatnya. Ditonton dari ketinggian 30.000 kaki di atas permukaan tanah, Arsenal bisa saja kita bilang kesebelasan paling konsisten di dunia. Skuad asal Highbury, London itu langganan masuk Liga Champions. Kurang keren apa coba. Di kompetisi bergengsi benua biru, Arsenal konsisten disingkirkan di babak 16 besar oleh "klub-klub besar" seperti Bayern Munich dan Barcelona. Konsisten kan. Catatan konsistensi Arsenal lainnya sepanjang enam tahun terakhir adalah "kemungkinan menang" Piala FA tiap tahun, mengakhiri liga di posisi kelima, keempat, ketiga, atau syukur-syukur jadi runner up Premier League. Perolehan poin Arsenal per tahun berada di kisaran 70 hingga 80 poin, dengan catatan selisih gol di kisaran +25 dan +35. Begitulah, Arsenal mengulangi catatan ini hampir tiap musim selama 6 tahun terakhir.

Iklan

Oke, paragraf tadi ditulis ketika melihat Arsenal dari angkasa sana. Sesudah diamati lebih jeli akan kelihatan bila klub berjuluk The Gunners ini sebenarnya mencla-mencle. Dari 31 Januari hingga 10 April musim ini, Arsenal cuma bisa memenangi 4 dari 12 pertandingan di seluruh kompetisi. Dua kemenangan itupun pun diraih setelah bertemu tim dari liga yang lebih rendah di ajang Piala FA. Situasi kemudian berubah total, ketika Wenger menerapkan formasi tiga pemain belakang, 9 dari 10 laga berhasil mereka menangkan, termasuk saat mengandaskan juara Premier League musim ini, Chelsea, di partai Final Piala FA. Sebelumnya di awal musim, anak asuh Arsene Wenger pernah mencatatkan 11 kemenangan dari 12 pertandingan setelah hanya menang empat kali dari sepuluh pertemuan.

Sebenarnya agak klise kalau saya bilang kejatuhan Arsenal selalu dimulai memasuki November setiap tahunnya. Sudah banyak fans Arsenal mempercayai teori konspirasi itu. Sayangnya, pendapat tersebut ngawur karena kejatuhan Arsenal terjadi kapan saja. Selalu seperti itu saban tahun kompetisi. Arsenal angat variatif, setidaknya saat melakoni momen kejatuhan mereka. Yang kayak begini nih bikin Wenger, sebagai pelatih yang sudah memimpin klub dua dekade, jadi menyebalkan.

Saban tahun, penggemar Arsenal terbiasa merasakan harapan jadi klub juara. Entah itu dalam 20 menit awal pertandingan 16 besar liga Champion atau dua bulan pertama di Premier League. Iming-iming kejayaan ini juga menyingsing lantaran penampilan menyakinkan Arsenal di final Piala FA tempo hari saat mereka mengalahkan Chelsea. Sayangnya nasib buruk selalu datang pada Arsenal tiap tahun, tanpa terkecuali. Nasib buruk ini selalu disertai momen-momen kejatuhan Arsenal seperti 100 menit lainnya dalam Liga Champions serta kurun waktu antara saat Mesut Özil jadi bahan cercaan semua komentator atau ketika siapapun yang dipasangkan Laurent Koscielny di posisi centerback gagal menjaga lawannya.

Percakapan tentang Arsenal belakangan kini punya topik baru, bahwa semua catatan ini harus segera dihentikan. Kompetitor terdekat The Gunners saja sudah berbenah—terutama Tottenham dan Liverpool. Manajemen klub mereka menggaet pelatih yang tepat dalam sosok Mauricio Pochettino and Jurgen Klopp. Lebih dari itu, Arsenal cuma bisa mengoleksi satu angka dari empat pertemuan melawan Liverpool dan Tottenham. Malangnya, ketika dua klub itu berhasil masuk posisi 4 besar di akhir musim, Arsenal, untuk pertama kali sepanjang sejarah karir Arsene Wenger di Emirates, malah gagal.

Maka, munculah satu lagi tambahan konsisteni yang dimiliki Arsenal: protes #WengerOut, sebuah bentuk tradisi protes nyebelin yang digagas oleh bocah tua dan kaum Brexit-wannabe. Tiap tahun, penggemar kurang ajar ini menunjukkan spanduk atau menebar pamflet protes mereka tanpa menyadari bahwa apa yang mereka lakukan jauh lebih bikin klub malu ketimbang "dosa" yang sudah dan akan dibuat Wenger di masa depan.

Iklan

Protes semacam ini bakal terus terjadi musim depan. Meski belum resmi, tersiar kabar Wenger sudah menandatangani kontrak dua tahun dengan manajemen Arsenal. Alhasil, kami—fans setia The Gunners—harus rela menyaksikan raihan-raihan seadanya klub kesayangan kami—dan tentunya kenyang dibully di internet— sepanjang 24 bulan ke depan.

Sebagai penggemar berat The Gunners, kabar ini jelas bikin saya lesu. Kalau saja Wenger mau legowo mundur, saat ini sebenarnya adalah waktu paling pas. Pria berusia 67 asal Perancis itu bisa melenggang meninggalkan Stadion Emirates, menyongsong hari cerah (dan tawaran menukangi klub internasional lainnya) dengan dada terbusung lantaran menutup karir di Arsenal dengan sebuah Piala FA. Belum lagi, timing mundurnya akan tepat sekali karena mantan manajer Dortmund Thomas Tuchel dikabarkan tengah mencari petualangan baru, bisa saja kan dia memilih mencoba peruntungan di Inggris, atau Arsenal khususnya. Tentu saja, menjadi Gooners mengajarkan pentingnya agar kita tidak berharap. Kami tahu Tuchel tidak mungkin menukangi Arsenal. Faktanya, Wenger masih bertahan, dan tahun-tahun ke depan masih mendung bagi kami para penyuka Arsenal.

Di sisi lain, banyak—sayangnya Arsenal tak termasuk di dalamnya—yang berubah di dunia ini. Dulunya saya tak percaya bila olahraga bisa menjadi eskapisme untuk kenyataan hidup yang pahit. Namun, saya berubah pikiran belakangan ini. Tahun lalu misalnya, olah raga menyuguhkan banyak kejutan. Olahraga jadi tempat kita mencari penghiburan ketika kehidupan sehari-hari kita terlalu mudah ditebak. Leicester City menang Premier League. Chicago Cubs jadi kampiun Baseball World Series, olahraga memang sedang keren-kerennya tahun lalu. Tahun ini, semuanya berubah. Ada banyak kejadian aneh, gila—dan mengerikan—yang terjadi dalam hidup kita sampai-sampai kejutan olahraga jadi tak menarik lagu. Kini semua terbalik. Hidup kitalah yang susah ditebak. Setelah mendengar berita tentang kongkalikong korupsi yang disamarkan dalam bahasa Arab yang santun serta kemungkinan perang dunia ketiga meletus dari Semenanjung Korea, saya yakin agar bisa menjadi eskapisme rakyat kecil, olahraga harus bisa ditebak hasilnya.

Semestinya seorang fans klub olahraga mendambakan raihan gelar, kesuksesan atau setidakan perbaikan performa dari tahun ke tahun. Saya justru bertingkah sebaliknya. Saya bahagia tiada tara karena tahu apa yang bakal terjadi para Arsenal setahun ke depan. The Gunners akan tampil luar biasa di awal musim sampai-sampai saya mikir tahun mereka akan benar-benar beda (menang Premier League misalnyta). Tapi nyatanya tidak. Mereka akan ambruk di Februari. Skuad The Gunners bakal berjuang mati-matian di sisa musim agar bisa finish di posisi terhormat, tentunya dengan raihan poin antara 70 hingga 80 dan selisih gol antara +25 and +35 goal. Mereka akan tampi cukup baik untuk menjaga, sebut saja, status quo. Beneran deh, saya tahu skenario Arsenal tahun depan, saya sudah terlalu sering membacanya. Saya bahkan membeberkannya di awal artikel ini.

Tenang-tenang, cinta saya pada Arsenal tak akan goyah, "sekonsisten" apapun mereka tahun depan. Barangkali apa yang saya alami ini semacam Stockholm Syndrome dalam dunia suporter. Jangan salah, saya malah menyukainya. Skenario Wenger bertahan sehingga Arsenal bakal nyungsep kayak biasanya, membuat saya tidur nyenyak. Kenapa? Karena saya tahu hidup dan Arsenal bakal begitu-begitu aja, tak banyak mengalami perubahan.

Skenario ini mengajarkan kami supaya tak repot berharap Arsenal keluar sebagai juara kompetisi apapun di ujung musim. Bertahannya Wenger adalah pelajaran ikhlas terbaik yang bisa diterima seorang manusia. Lumayan lah, hitung-hitung latihan selama bulan Puasa.