Menghabiskan Sore Bersama DJ Sama, Pelopor Techno di Palestina
Foto DJ Sama Abdulhadi oleh Tarzan Nasser.
Wawancara Musisi

Menghabiskan Sore Bersama DJ Sama, Pelopor Techno di Palestina

Awak Noisey beruntung bisa nongkrong bareng Sama Abdulhadi, membahas karirnya, kancah techno Ramallah, kegusarannya melihat tren musik elektronik di dunia Arab.
NR
Diterjemahkan oleh Nicola Rose
2.12.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey Prancis.

Musik elektronik sudah semakin menjadi genre arus utama di berbagai negara. Tak percaya? Lihat saja festival-festival musik elektro yang sukses menggerakkan perekonomian kota-kota kecil. Fenomena ini terjadi di Eropa, Amerika, hingga Asia. Belajar jadi DJ makin mudah. Turntable profesional kini bisa menjadi gaya hidup perorangan, seperti hobi yoga atau skateboard saja. Nama-nama yang sekarang besar di kancah techno pun sukses meraup banyak uang.

Iklan

Hanya saja, kritik terbesar terhadap kancah musik elektronik adalah sifatnya yang libertarian. Politik sangat-sangat jarang disinggung tiap kita mengulas genre ini. Partygoer diandaikan sebagai kumpulan manusia apolitis. Dan, memang seperti itu adanya. Makanya menarik melihat kiprah Sama Abdulhadi, DJ asli Palestina yang punya pikiran berbeda. Dia ingin musik elektronik menjadi sarana membangun militansi politik, jangan cuma buat senang-senang doang.

Nyaris satu dekade lalu, Abdulhadi menjadi sosok pertama yang menggelar malam pentas techno di Tepi barat, tepatnya Kota Ramallah, Palestina. Sejak itu, Abdulhadi makin gandrung membuat acara musik elektronik untuk anak-anak muda. Konsep pentas techno pun ditiru banyak orang seantero Tepi Barat. DJ perempuan ini adalah pionir. Bukan hanya menjadi penyelenggara, dia pun terampil menguasai turntable. Jejaknya segera diikuti lelaki dan perempuan lain. Kini, di Ramallah sudah bermunculan enam bar khusus musik elektro, serta ada sekira 15 DJ lokal. "Tiga di antaranya perempuan lho," kata Abdulhadi dengan senyum bangga.

Tahun ini, Abdulhadi melanglangbuana ke berbagai negara. Termasuk menghabiskan waktu cukup panjang di Prancis sebagai seniman residensi di Paris atas undangan Cité des Arts. Suatu sore di sela-sela residensi inilah, jurnalis Noisey menemuinya secara leluasa. "Aku sekarang ada di Prancis untuk mempersiapkan materi album baru serta merancang set konser di masa mendatang," ujarnya.

Iklan

Kesempatan ke luar negeri, yang jarang bisa didapat penduduk Palestina, bagaimanapun mempengaruhi persepsi Abdulhadi. Dia terpukau melihat Paris dibagi menjadi 20 distrik (biasa disebut arrondissiment) yang padat penduduk. "Kamu tahu ga, arrondisiment tempatku tinggal sementara ini punya populasi setara seluruh Ramallah?"

Noisey: Apa kesan pertamamu sama Kota Paris dan kancah elektronya?
Sama Abdulhadi: Sebelum datang ke negara ini atas undangan Cité des Arts, aku sudah mendapat banyak wejangan dari kenalan atau sesama musisi elektronik. Mereka memperingatkan kalau anak-anak skena sini agak tertutup dan songong gitu. Nyatanya, setelah datang sendiri, semua peringatan tadi keliru besar. Banyak kejutan positif yang aku rasakan. Aku dari kemarin gampang ketemu kenalan musisi baru yang seru banget. Aku jatuh cinta sama kegiatan anak-anak komunitas Parallèle, yang sering bikin pentas keliling di lokasi unik. Kemarin diajain masuk basement gitu, tapi aku belum berani ikutan [tertawa]. Konsep mereka rave klasik gitu. Aku juga suka menyaksikan penampilan musisi elektronik dari genre selain techno, contohnya Arabstazy. Aku nyambung banget sama musiknya. Mereka menolak main musik elektronik selain dengan cara live. Menurutku konsep itu keren banget sih.

Jujur saja nih, kalau ditanya menurutku pesta-pesta techno di Paris terhitung ramah banget atmosfernya. Aku kemarin sempat diminta manggung dadakan, eh di tengah set perutku sakit banget. Terus DJ lain enteng aja tuh menggantikan posisiku sebentar. Keren banget kan. Begitu juga waktu aku mampir ke Jerman. Aku sempat punya perasaan enggak enak, akibat ada persoalan visa pas melewati perbatasan Prancis-Jerman. Aku ditanya ulang sama petugas imigrasi. Aku jujur aja bilang profesiku adalah DJ techno, dan diundang untuk datang ke acara musik. Tahu enggak? Aku langsung dibolehin masuk Jerman dong. Akhirnya aku puas lah 48 jam nongkrong di Fusion Festival.

Iklan

Sejauh ini pengalaman di Eropa sudah memberimu inspirasi untuk materi album baru kelak?
Semoga ya. Jujur saja belum sih. Maksudnya, tidak secara langsung mendatangkan inspirasi kreatif gitu. Selama merasakan hidup di Paris, aku merekam apa saja yang kutemui di jalanan, tapi belum ada materi baruku yang sound-nya menggambarkan Prancis. Selama ini, kalau aku ingin menciptakan sound ambience tertentu, aku main-main aja pakai Aporee, itu semacam aplikasi untuk menghasilkan peta suara atau musik jalanan tertentu, yang lisensinya Creative Commons. Aplikasi itu keren lho, kamu bisa bikin sample dari ribuan lagu. Lebih jauh lagi, aku sangat suka musik klasik, tapi aku tidak segitunya mengidolakan atau terinspirasi musik-musik dunia Arab. Sayangnya, kecenderungan musik Arab tuh kompleks banget nadanya, selain itu temponya seringkali cepat. Jadi susah buat dibikin jadi sample. Lucu rasanya mendengar sekarang sedang ngetren musik elektronik Arab. Aku malah merasa tren ini terjebak pada cara pandang eksotis pada budaya dan musik Arab. Aku enggak merasa bisa nyambung sama genre tersebut.

Terus, untuk mengisi waktu luang kadang aku iseng bikin sound design buat film. Kebiasaan ini membuatku sangat sensitif sama berbagai jenis bunyi atau pola suara tertentu. Aku selalu kerja pakai headset, terus jendela kamar kubiarkan terbuka. Suara-suara yang dihasilkan dari luar perkotaan tidak pernah menggangguku. Malah, kupikir suara ribut urban kayak gitu membantuku kerja. Ada rasa kayak mimpi gitu, yang mendorongku lebih kreatif membuat komposisi musik baru. Terus, aku biasa memakai detak jantungku sendiri untuk ngukur beat-nya. Dengan pola kerja kayak gitu, aku mudah bikin ritme atau beat. Tapi, masalahku sekarang adalah menghasilkan melodi yang nempel dan menarik. Itu tantangan sih. Aku percaya, tidak ada manusia yang lahir langsung dapat bakat jadi komposer. Makanya aku selalu belajar dari manapun.

Foto oleh Aurelia Mazoyer

Sebelum mendalami musik klasik, film, atau techno, kamu ternyata pernah aktif di kancah rap Palestina ya? Bisa diceritakan gimana tuh?
Hahaha, bener banget. Aku dulu nge-rap juga. Aku sering ikutan battle. Ini pengaruh zaman aja sih. Awal 2000-an kan hip-hop lagi populer banget, termasuk di Palestina. Untuk pertama kalinya aku beli CD hip-hop pertamaku di masa itu. Terus kakakku sempat main ke Yordania, sekembalinya ke Ramallah, dia bawa dua CD. Satu CD adalah albumnya Tiësto, satunya lagi album IIO. Dia bilang, "kamu HARUS dengar dua album ini." Dua album itu mempengaruhi seleraku sampai sekarang. Aku jadi tertarik bikin party khusus musik elektronik, terus coba nge-DJ pakai materi dari dua album tadi. Istilahnya aja "nge-DJ", padahal sebenarnya aku cuma nekan tombol play/pause doang, sambil mainan tempo terus ngutak-ngatik fader-nya hahahahaa. Bayanganku soal nge-DJ itu cuma orang di belakang turntable mainin vinyl, tapi jujur saat itu aku enggak paham sama sekali gimana caranya jadi DJ. Dari pengalaman modal nekat tadi, semua bergulir akhirnya. Jadilah aku seperti sekarang, serius menekuni musik elektronik. Makin cinta pula aku sama genre techno. Makin lama, makin banyak kawan-kawanku di Ramallah yang ikutan suka rave party, belajar jadi DJ, dan sebagainya. Sekarang sudah biasa banget ada event party di Ramallah. Di kotaku itu sekarang ada 15 DJ, tiga di antaranya perempuan lho. Tapi perlu diingat juga, Ramallah itu kota kecil di Tepi Barat. Pesta dianggap ramai itu pengunjungnya paling banter cuma 400-an orang. Tapi, harus kubilang, sebelum aku memulainya memang enggak ada yang mainin musik techno di Palestina. Genre yang kudalami sekarang juga masih satu-satunya jika dibandingkan DJ lain asal Palestina.

Kalau gitu, sebelum ada kamu, kawan-kawan Palestina mendengar musik elektronik macam apa?
Paling ya trance atau psytrance.

Wanjir….
Hahahaha. Ini masalah selera sih. Orang-orang di Ramallah kecenderungannya suka sama musik yang menghasilkan efek psikedelik gitu. Aduh, kalau harus mendengar yang begituan, aku paling banter cuma betah setengah jam. Habis itu pasti aku langsung kecapekan, BPM-nya bikin telinga dan pikiranku capek. Oh iya, di Palestina sekarang drum & bass sama dubstep lagi ngetren juga. Terus banyak b-boy sama anak-anak skena hip-hop ikutan ngumpul di party-party elektronik. Aku tadi belum cerita ya? Pesta di Palestina itu enggak lama lho. Acara kami biasanya selesai tengah malam, padahal mulainya baru jam 22.00. Waktu buat acara ini mepet banget. Sering baru separuh jalan, polisi udah datang membubarkan acara kami. Oh iya, kancah musik elektronik ini sayangnya cuma hidup di Ramallah, Tepi Barat lainnya cenderung adem. Di Hebron, Nablus, atau Jenin, enggak ada pesta. Apalagi Jalur Gaza, mustahil bisa bikin pesta macam itu di sana…

Foto oleh Céline Meunier.

Wah, jadi penasaran. Polisi cenderung menghambat acara musik enggak di Palestina?
Enggak bisa disalahkan juga kalau kadang mereka menggerebek acara. Karena tiap ada party gitu, ada aja orang jualan narkoba. Mereka nyampur sama orang lain yang cuma pengen senang-senang atau menikmati minuman. Penonton di set-ku rata-rata sih nyantai ya. Mereka cuma pengin ajojing, minum bir, atau rileks di pinggiran. Sebelum jadi DJ begini, aku lama kerja sebagai pelayan restoran, sudah biasalah keluar malam sejak umur 13 tahun. Polisi lokal di Ramallah udah hafal sama aku. Aku enggak suka polisi secara institusi. Tapi polisi di Palestina itu masih bisa diajak komunikasi, masih ada pengertiannya sama budaya anak muda. Makanya kami cenderung enggak saling nyenggol saja.

Bagaiman respons aparat terhadap sosokmu sebagai perempuan yang mengorganisir pesta?
Jujur saja, enggak ada masalah selama ini. Tentu saja ada diskriminasi dan pelecehan seksual. Termasuk dari polisi terhadap perempuan Palestina. Tapi, aku bisa bilang polisi kami enggak sebrengsek polisi di Mesir atau Libanon. Di dua negara itu, polisinya lebih brutal sama kumpulan anak muda. Sementara polisi Palestina itu ya menganggap kami cuma anak muda yang mau senang-senang. Gimanapun juga, kami sama-sama bangsa Palestina, kami merasakan penderitaan yang sama. Ramallah itu kota yang multikultur. Ada banyak orang Kristen, muslim juga banyak, terus ada kamp pengungsi asal Gaza di sini. Aku sering main di bar yang lokasinya di perkampungan padat. Banyak penduduk sekitar enggak tahan atau menolak mendengar dentuman musik techno malam-malam. Jadi, kami dari kancah elektronik tahu dirilah, kami beradaptasi. Misalnya, kalau musim ujian sekolah, kami pasti enggak bikin acara. Biar yang masih pelajar enggak perlu bolos.