Perubahan Iklim

Perubahan Iklim Meningkatkan Penyebaran Infeksi Mematikan di Seluruh Dunia

“Perubahan iklim bisa memperburuk kesehatan manusia dan menyebabkan penderitaan yang serius.”
4.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Di dalam hutan pegunungan Hawaii, honeycreeper setempat—burung penyanyi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain—terancam punah. Dari sekitar 50 spesies yang dulu pernah ada, mayoritas sudah punah dan sisanya terancam lenyap.

Turunnya populasi honeycreeper merupakan efek riak dari perubahan iklim: temperatur yang lebih hangat mengundang nyamuk untuk menginvasi daerah-daerah yang tadinya terlalu dingin bagi mereka. Di Hawaii, nyamuk pembawa malaria unggas terbang tinggi ke daratan dimana honeycreeper memburu nektar. Bagi beberapa spesies, gigitan dari nyamuk yang terinfeksi berakibat fatal 90 persen kebanyakan waktu.

Iklan

Di sisi lain bumi, sebuah cerita yang serupa juga terjadi—bukan di populasi burung, tapi di sebuah komunitas di dataran tinggi Afrika timur, dimana nyamuk pembawa malaria menjangkiti orang-orang yang belum pernah berhadapan dengan malaria sebelumnya.

"Ini situasi yang sangat buruk, karena malaria sangat problematis, dan berpeluang besar membunuh manusia, terutama anak kecil, ketika tidak ada kekebalan di sebuah populasi," jelas Richard Ostfeld, ahli ekologi penyakit dan ilmuwan senior di Cary Institute of Ecosystem Studies.

Sebagai binatang heterotermia, nyamuk—dan juga kutu—cenderung mencari daerah bercuaca hangat karena tubuh mereka mengadopsi temperatur dari udara sekitar. Seiring suhu dunia meningkat, banyak serangga-serangga penggigit menemukan semakin banyak wilayah untuk bisa bertahan hidup: Ilmuwan menemukan bahwa angka infeksi penyakit yang berhubungan dengan iklim terus meningkat dari kutu berkaki hitam yang membawa penyakit Lyme dan nyamuk membawa malaria, demam berdarah, dan Zika.

Ini adalah satu dari banyak bentuk bagaimana pemanasan global mempengaruhi kesehatan manusia. (Di tahun 2100, ilmuwan memperkirakan manusia akan mengalami 74 persen kenaikan gelombang panas mematikan dan 14 malam dalam sebulan dimana kita akan kesulitan tidur.) Tahun lalu merupakan tahun terpanas semenjak iklim dunia mulai dilacak, menurut National Air dan Space Association, dan ahli iklim mengantisipasi tren ini akan terus berlanjut apabila kita terus mengeluarkan asap bahan bakar seperti sekarang.

Iklan

"Ada resiko bahwa angka penyakit akan terus meningkat seiring iklim bertambah hangat, tapi efeknya tidak akan sama di seluruh dunia, atau untuk semua penyakit," ungkap Ostfeld. Bagi mereka-mereka yang tinggal di negara berkembang, resikonya jauh lebih besar.

Musim panas yang kian memanjang dan musim dingin yang semakin 'hangat' akibat perubahan iklim mendorong para serangga pembawa penyakit ke daratan yang lebih tinggi, termasuk wilayah yang lebih dingin, seperti di sisi timur laut AS, di mana musim dingin yang mematikan biasanya ditakuti binatang-binatang ini.

Tapi ini lebih dari sekedar ekspansi geografis. Seiring temperatur terus meningkat, nyamuk tidak hanya akan menginvasi lebih banyak wilayah—mereka juga akan lebih sering makan (menggigit). Karena nyamuk tidak mengatur suhu tubuh mereka sendiri, metabolisme mereka akan meningkat seiring temperatur semakin panas. Dengan metabolisme yang lebih cepat, nyamuk akan lebih mudah lapar, lebih sering makan, dan terbang lebih cepat untuk menemukan korban berikutnya.

Sudah cukup buruk bahwa dalam cuaca hangat, nyamuk yang lapar menyerbu dan menggigit manusia. Tidak hanya itu, dunia juga akan menjadi semakin basah, dan kemungkinan akan mengalami curah hujan ekstrem yang menyebabkan kekeringan atau justru banjir. Ostfeld bilang prediksi tersebut sudah terbukti terjadi di kebanyakan daerah timur AS.

Karena nyamuk bertelur di air, banjir akan menjadi kondisi yang sempurna bagi proses pengembang biakkan mereka. Banjir yang diikuti dengan kekeringan bahkan lebih baik lagi, karena tas larva akan memiliki waktu untuk berkembang sebelum hujan kembali mengguyur. Ini artinya, lebih banyak nyamuk akan lahir. Bayangkan harus menghadapi lebih banyak nyamuk kelaparan di lebih banyak wilayah. Ini mimpi buruk bagi manusia.

Iklan

"Ini sangat berbahaya, perubahan iklim mendorong ekspansi penyakit seperti malaria ke wilayah-wilayah baru," kata Ostfeld. "Ini akan sangat merugikan kesehatan manusia, dan menyebabkan penderitaan yang serius."

Gigitan dari binatang-binatang kecil menyebalkan ini akan semakin berbahaya selagi manusia terus membakar bahan bakar dan menumpuk karbon dioksida ke dalam atmosfir bumi. Tapi jangan lupa, ada satu lagi tempat rawan dimana patogen akan berkembang: air minum kita.

Jonathan Patz, direktur Global Health Institute di University of Wisconsin-Madison, menekankan bahwa penyakit yang menular lewat air seperti gastroenteritis, diare pediatrik, dan kolera sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Patz menganalisa data dari penelitian sepanjang 46 tahun dan menemukan bahwa 68 persen dari pejangkitan penyakit-penyakit tipe ini selalu terjadi setelah hujan deras.

Ini sangat mengkhawatirkan bagi negara-negara berkembang yang tidak memiliki cukup infrastruktur untuk melindungi sumber air dari kontaminasi. Tapi bahkan di AS sekalipun, lebih dari 700 komunitas menggabungkan air limpasan hujan dan air selokan, jelas Patz. Ini meningkatkan resiko apabila selokan penuh dan air selokan masuk ke dalam waduk air bersih.

Faktanya, penelitian beliau menunjukkan bahwa di 2050, curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim dapat menggandakan angka tumpahnya air selokan ke Danau Michigan, sumber air minum utama di Chicago. "Infrastruktur kita tidak bisa bertahan," kata Patz. "[Perubahan iklim] menaruh lebih banyak tekanan ke sistem…dan semakin memperburuk isu-isu ini, dan tentunya meningkatkan urgensi untuk meningkatkan pengamanan sistem perairan."

Kita memiliki beberapa perlindungan terhadap penyakit: layar kasa jendela untuk mengusir serangga, minyak anti nyamuk, filter untuk membersihkan air minum, dan uang untuk membayar perawatan darurat apabila penjangkitan terjadi. Tapi bukan berarti negara-negara lain yang kurang beruntung memiliki perlindungan yang sama. "Akan tidak bijaksana apabila kita hanya berfokus di negara-negara maju dan tidak menghiraukan bagaimana pemanasan iklim global membuat penjangkitan penyakit lebih parah di negara-negara berkembang," jelas Ostfeld. Lagipula, temperatur yang semakin panas membuat penjangkitan semakin sulit dicegah.

Penting untuk tidak hanya memikirkan masalah ini dalam skala global, tapi juga menganalisa apa yang menyebabkan peningkatan resiko terjangkit penyakit-penyakit ini. "Isu kesehatan dan penyakit bukan hanya isu sektor kesehatan," kata Patz. "Kita harus mencari akar dari masalah, mentakle isu perubahan iklim dan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil jadi kita tidak hanya sekedar mengepel air tumpah tanpa mematikan kerannya. "