Gender

Ternyata Menjadi Seksis Tidak Baik untuk Kesehatan Mental Lho

Keseringan mengamini norma maskulinitas terbukti bisa berdampak buruk ke otak. Hmm, siapa sangka, kan?
Foto oleh Clinton Steeds/Flickr

Kamu sering dengar pria ngeluh kalau seksisme juga memengaruhi hidup mereka? Ada benarnya juga, sih. Penelitian terbaru yang diterbitkan di Journal of Counseling Psychology menghubungkan perilaku seksis pria terhadap perempuan dengan kondisi kesehatan mental yang negatif. Keseringan mengamini norma maskulinitas terbukti bisa berdampak buruk ke otak. Hmm, siapa sangka, kan?

Mengkaji temuan yang melibatkan lebih dari 19.000 peserta, para peneliti mempertimbangkan dampak dari 11 “norma” maskulinitas yang mencakup kontrol emosi, kemandirian, pengambilan risiko, kekerasan, keinginan untuk menang, sikap dominan, perilaku playboy, kekuasaan terhadap perempuan, dan penghinaan terhadap homoseksual. Penelitian menunjukkan bahwa tidak semua pria memiliki ciri-ciri ini – mereka membangun masyarakat yang dilanggengkan dengan norma berbasis gender.

Iklan

Dari 11 norma maskulinitas, hanya ada empat yang dapat dikaitkan dengan kondisi kesehatan mental yang buruk seperti depresi. Norma-norma tersebut adalah kontrol emosi, perilaku playboy, kemandirian, dan kekuasaan terhadap perempuan. Orang yang memiliki norma-norma ini cenderung mencari bantuan psikologis daripada yang tidak.

Seperti yang dikutip dalam penelitian tersebut, “Konformitas terhadap norma maskulinitas, seperti kemandirian, kekuasaan terhadap perempuan, dan perilaku playboy, sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental.” “Pria heteroseksual seksis cenderung kesulitan mendapatkan pasangan atau hubungan percintaannya tidak pernah mulus, yang akhirnya berdampak pada kesehatan mental mereka.”

Sementara itu, perilaku “maskulin” yang tidak terlalu berkaitan dengan seksisme terbukti menciptakan hubungan sosial yang buruk (membenci LGBTQI itu tidak keren sama sekali dan tidak akan meningkatkan status sosialmu), tetapi tidak terlalu berpengaruh pada kesehatan mental mereka. Faktanya, studi tersebut menemukan bahwa perilaku-perilaku “maskulin” ini sangat menguntungkan mereka dalam jangka panjang—apalagi bagi pria kulit putih dan berpendidikan tinggi. Misalnya, ada hubungan negatif antara perasaan ingin menang dan penyalahgunaan obat pada pria Amerika berkulit putih dan berpendidikan tinggi.

Meskipun para peneliti mengakui ada keterbatasan dalam penelitian mereka – salah satunya karena tidak melaporkan orientasi seksual partisipannya – mereka mengatakan bahwa ada konformitas yang luas di antara sifat “maskulin” paling seksis yang diidentifikasi dengan kondisi kesehatan mental yang negatif.

“Secara keseluruhan, konformitas terhadap norma maskulinitas secara signifikan berhubungan dengan kesehatan mental dan perilaku mencari bantuan psikologis,” studi menyimpulkan. “[Temuan] menyoroti pentingnya memisahkan konstruksi umum norma maskulinitas dan fokus pada dimensi spesifik dan hubungan diferensial dengan hasil lainnya.”

Menjadi seksis tidak ada untungnya sama sekali. Saya saranin jangan seksis lagi deh, karena bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Jangan lupa follow Kat di Twitter