kehidupan fauna

Bisakah Kelelawar 'Immortal' Ini Bantu Manusia Menolak Penuaan?

Tak seperti manusia, kelelawar telomeres tak menciut seiring bertambahnya usia.
10 Februari 2018, 9:00am

Pada tahun 2005, ilmuwan di Siberia menangkap hidup-hidup seekor kelelawar Brandt, sebuah spesies yang ditemukan di seluruh wilayah Eropa dan Asia, yang berusia 41 tahun. Sebagai perbandingan, seekor tikus rumah berukuran dua kali lebih besar, tetapi hanya dapat hidup selama dua tahun. “Padahal sudah seperti hukum alam,” ujar Emma Teeling, profesor biologi di University College Dublin, pada saya lewat telepon. “Makhluk-makhluk yang lebih kecil hidup cepat dan mati muda. Sedangkan yang lebih besar hidup lebih lamban dan panjang,” seperti paus biru. “Nah, kelelawar melawan gagasan ini.”

Seekor kelelawar. Video dicuplik dari 10 Things to Know About... Staying Young" Diproduksi oleh New Decade TV Ltd, 2016 / GIF: Kate Lunau

Para ilmuwan tidak paham alasannya, dan terkadang mekanisme penuaan adalah sebuah misteri. Memahami mengapa dan bagaimana kita menua akan menjadi kunci untuk memperlambat proses penuaan, atau bahkan melawannya, kalau kita bisa. Banyak peneliti yang memelajari proses penuaan fokus pada telomere, yang ditemukan pada ujung kromosom kita, yang terkadang menciut seiring penuaan. Proses ini juga dapat mengarah pada peluruhan sel yang berhubungan dengan usia, kerusakan jaringan, dan kematian, meski kolerasi antara panjang telomere dan penuaan tidak sempurna dan masih banyak yang perlu dipelajari. (Telomere seringkali diperbandingkan dengan ujung tali sepatu yang dilindungi plastik.)

Dalam sebuah makalah di Science Advances, untuk pertama kalinya Teeling dan timnya melakukan analisis tentang bagaimana panjang telomere berubah seiring waktu pada kelelawar. Berbeda dari manusia, telomere kelelawar Myotis, yang secara khusus berumur panjang, tampaknya tidak menyusut seiring usia. Memahami alasannya dapat membantu memanjangkan usia manusia suatu hari.

Kelelawar Myotis myotis terbang Foto Oliver Farcy

Teeling, yang sudah lama meneliti kelelawar, sangat terkesima dengan makhluk-makhluk ini. “Tampaknya mereka tidak mati karena usia,” ujarnya. “Melainkan karena kelaparan, atau kecelakaan, atau kekurangan air.” Diperlukan riset lebih lanjut, namun menurut laporan kelelawar-kelelawar ini tidak terkena penyakit usia tua, katanya—kelelawar jarang terkena kanker, itu pun kalau ada—dan mereka adalah pembawa banyak virus, seperti Ebola dan SARS, tanpa terjangkiti. Mereka cenderung hidup sangat panjang, tergantung ukuran mereka. “Hanya 19 spesies mamalia yang hidup lebih lama dari manusia karena ukuran badan mereka, 18 di antaranya adalah spesies kelelawar,” tulisnya dalam makalah baru tersebut.

Kelelawar amat rumit dipelajari: Mereka cenderung tidak bertahan dengan baik dalam setting lab, dan mereka sulit diamati di alam liar. Jadi, Teeling dan timnya, termasuk penulis utama Nicole Foley (yang saat itu merupakan mahasiswa PhD di lab Teeling), bekerja sama dengan Bretagne Vivante, organisasi lingkungan akar rumput di Prancis dengan spesialisasi kelelawar Myotis lokal. Pada 2010, ratusan kelelawar ini ditanami micro-chip supaya mereka dapat dilacak.

Kelompok Teeling kemudian mengembangkan sebuah metode untuk mengambil sampel telomere para kelelawar ini dengan cara yang tidak mematikan, menggunakan suntikan ke sayap, terangnya. (Jaringan sayap kelelawar dapat tumbuh kembali.) Setelah mereka menyempurnakan metode ini, mereka kemudian melibatkan lebih banyak peneliti. Penelitian finalnya melibatkan 20 lembaga penelitian dan konservasi, serta ahli biologi kelelawar dari seluruh Eropa dan Inggris Raya. Bersama-sama, para peneliti melakukan biopsi pada 500 sayap kelelawar liar, dari empat spesies. Pekerjaan ini mencerminkan pengumpulan data mikro kelelawar selama lebih dari 60 tahun, jelasnya.

Seperti kebanyakan mamalia, dua dari spesies kelelawar yang diteliti menunjukkan penyusutan telomere seiring usia. Akan tetapi, pada Myotis, spesies yang berumur paling panjang, telomere tidak menyusut—ini merupakan temuan yang mengejutkan. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana hal tersebut mungkin terjadi, jadi para ilmuwan mengamati telomerase, enzim yang memperpanjang telomere. Telomerase adalah fokus besar komunitas anti-penuaan, yang menjual “suplemen” telomerase tanpa bukti ilmiah untuk memperpanjang umur. Meski demikian, enzim ini juga aktif dalam sel-sel kanker . (Penyusutan telomere mungkin telah berevolusi pada mamalia untuk menekan sel kanker, menurut makalah di Science Advances tersebut.)

Hal yang lebih aneh—para ilmuwan tidak menemukan ekspresi telomerase pada kelelawar Myotis. “Kelelawar ini sepertinya masih memiliki telomere tanpa telomerase,” ujar Teeling pada saya. Mereka mengamati genome dari 52 mamalia lainnya, fokus pada 225 gen yang dianggap berkaitan dengan panjang telomere, dan mengidentifikasi dua gen, yaitu ATM dan SETX. “Sepertinya kedua gen ini berevolusi berbeda di kelelawar dan mamalia lainnya,” ujarnya. “Ini adalah sebuah hipotesis. Inilah yang perlu kita amati selanjutnya.”

Video dicuplik dari "10 Things to Know About... Staying Young" Diproduksi oleh New Decade TV Ltd, 2016 / GIF: Kate Lunau

Saya bertanya kepada Teeling apakah gen-gen ini dapat menjadi target yang baik untuk obat-obatan anti-penuaan masa depan, kalau ada lebih banyak penelitian yang mendukung teori ini. “Menurutku, sih, iya,” ujarnya, kemudian memeringati bahwa diperlukan “jauh lebih banyak langkah lagi” sebelum kita mencapai tahap itu. Sebenarnya, penelitian ini merupakan titik awal untuk memahami panjangnya usia kelelawar—dan pada akhirnya, mungkin, masa hidup manusia.

Kelelawar-kelelawar yang telomere-nya menyusut, tetapi tetap dapat hidup panjang, juga menjadi perhatian Teeling. “Pada kelelawar yang berusia paling panjang, panjang telomere pastinya berperan. Namun kelelawar lain yang hidup lebih lama dari yang diperkirakan, dan telomere mereka menyusut seperti halnya pada mamalia lain,” katanya. “Evolusi seperti apa yang terjadi pada mereka sehingga mereka bisa seperti ini?”