Rodrigo Duterte

Anak Sulung Duterte Diduga Terlibat Kasus Penyelundupan Narkotik

Paolo Duterte, putra tertua Presiden Filipina, dituduh terlibat penyelundupan narkotik senilai US$125 juta. Presiden Duterte yang biasanya penuh retorika gahar soal perang narkoba memilih bungkam.
11.9.17
Paolo Duterte dan Manases-Carpio membantah tuduhan di hadapan senat Filipina. REUTERS/Erik De Castro

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pernah mengatakan ia tak segan-segan membunuh anaknya sendiri jika kedapatan terlibat dalam kasus narkotika. Kini publik menanti apakah Duterte akan menjilat ludahnya atau benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dalam sebuah laporan investigasi, Paolo, anak sulung Duterte, disebut-sebut terlibat dalam kasus penyelundupan sabu-sabu senilai US$125 juta dari Cina ke Manila. Kendati dinyatakan tak terlibat secara langsung, investigasi itu jadi hantaman keras buat Duterte yang dikenal sangat anti terhadap narkotika. Paolo Duterte, yang kini menjabat sebagai Wali Kota Davao, membantah keterlibatannya. Di hadapan Komite Senat Kamis 7 September lalu ia mengatakan tuduhan yang ditujukan pada dirinya tak berdasar. Tak hanya Paolo yang disebut-sebut terlibat. Manases-Carpio, menantu Duterte, juga dinyatakan terlibat bekerja sama dengan Paolo dalam penyelundupan sabu-sabu sebanyak 605 kilogram itu. Paolo mengatakan investigasi itu niatnya hanya untuk mempermalukan ia dan adik iparnya di hadapan publik. Investigasi atas kasus yang diduga melibatkan Paolo dan Carpio itu dilakukan sejak Juli 2017 lalu. Keduanya diindikasikan terlibat setelah nama mereka disebut oleh seorang bandar bernama Mark Taguba. Taguba kemudian menarik kembali keterangannya tentang keterlibatan Paolo dan Carpio. Kendati ditarik, pihak oposisi yang selama ini menentang kebijakan Duterte tak tinggal diam merespon kesaksian Taguba. Mereka menggunakannya untuk menghantam balik Duterte. Duterte, yang selama ini selalu ceplas-ceplos, memilih diam ketika ditanyai soal kasus yang melibatkan anaknya. "Keduanya (Paolo dan Carpio) siap menghadapi berbagai tuduhan-tuduhan kejam yang niatnya hanya untuk membunuh karakter dan kredibilitas mereka," kata Juru Bicara Kepresidenan Filipina, Ernesto Abella, Kamis lalu. "Presiden sudah mengatakan berkali-kali bahwa ia tak akan mengintervensi."

Sudah lama Duterte menuai kritik atas program perang melawan Narkoba yang berlangsung sangat brutal di Filipina. Tapi baru belakangan ia mendapat tekanan dari dalam negeri. Kemarahan publik memuncak pada Agustus lalu, bulan di mana tingkat pembunuhan menukik tajam sampai-sampai dalam satu hari ada 30 orang dibunuh karena Narkoba. Selain itu, ada pula kasus Kian Delos Santos, pemuda 17 tahun yang ditembak mati polisi.

Polisi kelimpungan karena banyak saksi menyatakan polisi salah menembak Delos Santos, lalu merekayasa kasus itu seolah Santos melawan aparat saat hendak ditangkap. Celakanya, ada kamera CCTV yang mematahkan kronologi versi polisi atas kasus penembakan Santos.

Berdasarkan catatan Human Rights Watch, hingga saat ini ada setidaknya 7 ribu orang tewas karena perang Duterte dalam menumpas narkotika. Catatan yang dibikin oleh kepolisian menyatakan jumlah korban tak sampai sebanyak itu.