Sepakbola

Johan Cruyff: Maestro Yang Mengubah Sepakbola Menjadi Seni

Gaya gocekan khas 'Cruyff turn' bisa dibilang skill sepakbola yang setara mutunya dengan lukisan Turner atau Picasso. Hasil kombinasi intuisi artistik dan teknik revolusioner pada masanya.
25 Agustus 2017, 7:58am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Sepakbola sebenarnya adalah bentuk ekspresi diri. Kamu mungkin tak akan merasakannya dalam pertandingan mingguan bersama teman-teman kantormu atau saban kamu nobar pertandingan timnas Indonesia di akhir pekan. Tapi tetap, dua kegiatan itu masih melibatkan dua proses: berimajinasi melakukan sesuatu dan usaha untuk benar-benar melakukannya. Keduanya juga masih usaha mewujudkan pikiran dan perasaanmu ke lapangan hijau. Kadang kala, apa yang kamu ekspresikan bisa bikin berabe. Kamu akhirnya juga bisa lebih geram dari biasanya. Atau malah kamu jadi frustasi setelah mengetahui batas-batas kemampuanmu di lapangan hijau.

Jika kamu bermain sepakbola—sekacrut apapun skill kamu, kamu bakal mengalami momen-momen yang dialami seorang seniman ketika menciptakan sebuah karya. Misalnya, ketika kamu berhasil mengoper bola dengan sempurna, melakukan trik yang tak terpikirkan sebelumnya atau mencetak gol dengan cara yang luar biasa. Intinya, kamu bakal melakukan sesuatu yang—setidaknya menurut dirimu—indah. Di saat-saat lainnya, kamu bakal gagal total. Tapi meski dalam kondisi seperti ini, kamu toh bisa mengekspresikan sesuatu.

Di balik semua cuplikan video YouTube tentang seorang pelatih berumur 40 tahun yang mendaku diri sebagai seorang five-a-side Messi ada impian tentang ekspresi murni di atas lapangan hijau.

Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa membuktikan bahwa sepakbola bisa jadi sebuah ekspresi diri yang sangat artistik selain Johan Cruyff, mantan pemain sayap dan kemudian pelatih timnas Belanda yang tutup usia pada umur 68 tahun, setahun silam.

Di antara pesepakbola dekade 70an yang kasar dan tak ragu meludah, menginjak bahkan menghardik lawan, Cruyff bak titik tengah di antara Turner dan Picasso, dua orang maestro penghasil karya bernilai artistik tinggu yang revolusioner. Ada banyak pemain lain yang melakukan hal yang tak bisa kita bayangkan dengan bola. Maqam Cruyff setingkat lebih tinggi. Dia menggabungkan skill yang sublim dengan visi tentang bagaimana sepakbola seharusnya dimainkan, sebuah visi yang dibaginya dengan pemain di sekitarnya, meski beberapa diantaranya tak selalu akur dengan dirinya.

"Cruyff turn"—gerakan ikonik Cruyff yang dulu terkesan susah dilakukan, namun kini ditiru hampir nyaris semua bintang sepakbola—adalah perwujudan visi dan skill sang maestro yang paripurna. Dalam laga Piala Dunia 1974 melawan timnas Swedia, Cruyff menerima bola di sisi kiri lapangan, dekat kotak penalti Swedia. Jon Olsson, peman bertahan Swedia, menguntit, mengcengkram jersey Cruyff. Olsson mencoba mencuri bola.

Cruyff membuat gerakan tipuan seakan hendak menendang bola dengan kanan, sebelum menggocek si kulit bundar ke kiri dengan kaki kanannya melewati kaki kirinya, membalik tubuhnya 180 derajat lalu berlari melewati Olsson. Diperdaya Cruyff, pemain bertahan Swedia itu cuma bisa bengong dan terjatuh ke belakang tanpa menyadari apa yang terjadi.

Seumpama sepakbola adalah seni, atau setidaknya memiliki elemen-elemen artistik, Cruyff turn adalah buktinya. Gerakan spektakuler bahwa sepakbola tak ubahnya balet dan seperti balet, sepakbola adalah perkawinan antara kontrol fisik dan kreativitas. Cruyff dikenal tak pernah merendah, pernah berkata "Di satu sisi, saya mungkin kekal." meskipun Cruyff tak pernah didampuk sebagai salah satu pemain sepakbola paling keren sepanjang sejarah, Cruyff turn akan memastikan namanya tercatat dalam keabadian.

Ada beberapa pemain yang menyempurnakan skill game yang sudah tercipta. Lalu ada pula pemain seperti Cruyff, yang mengkhayalkan sesuatu, memimpikannya untuk kemudian mewujudkannya di lapangan.

Baik sebagai pemain atau pelatih, Cruyff berhasil mengumpulkan banyak trofi, terutama bersama Ajax dan Barcelona—klub yang dipilihnya meski Real Madrid—yang jauh lebih kuat dari Barca saat itu—mengincarnya. Cruyff punya keyakinan kuat yang terus dia imani. Waktu itu, Cruyff mengatakan bahwa alasannya tak memilih Real Madrid adalah karena Real Madrid "didukung oleh Francisco Franco Bahamonde," diktator yang mengangkangi Spanyol dari 1939 sampai 1975.

Keyakinan Cruyff dalam taktik sepakbola lebih mashur lagi: dia mengenalkan dumia pada Total Football ( totaalvoetbal), strategi bermain sepakbola yang cair, enak ditonton dan menyenangkan yang masih dipraktekan di Amsterdam dan Catalunya. "Kualitas tanpa hasil itu percuma," Cruyff bersabda. "Hasil tanpa kualitas membosankan."

Ada yang puitis dalam fakta bahwa pemenang macam Cruyff tak pernah memenangkan trofi Piala Dunia bersama timnas Belanda yang revolusioner di dekade 70an. Setiap cerita yang baik perlu elemen yang tragis. Semua bentuk seni perlu kesedihan, kemarahan, kekacauan. Semua itu didapat Cruyff dari timnas Belanda. Hari ini, itulah bagian yang kita ingat dari Cruyff, sang komandan lapangan kesebelasan Belanda yang inovatif, pebalet bersepatu bola dan seorang seniman di lapangan hijau