Hari Kartini

Bagi Nur yang Mengenakan Niqab, Islam dan Feminisme Justru Saling Menguatkan

Nur tak setuju jika agama memisahkan tiap gender, terlebih sampai mendomestifikasi perempuan. Pergulatan hidupnya menginspirasi bagi perempuan lain di Indonesia pada momen Hari Kartini.
21.4.18
Ilustrasi niqab. Sumber foto: Pixabay.com/wikimedia commons/lisensi CC 2.0

Lembayung sudah menggelayut di langit Jakarta hari itu. Tampak seorang perempuan berjalan pelan masuk ke dalam rumah bertembok putih. Dari sekian belas kursi lain, dipilihnya tempat dekat meja dan layar. Ia mengeluarkan buku dan sebuah pena dari ransel biru tua, lalu giat menulisi tiap kertasnya.

Di rumah putih itu, sebuah diskusi tentang Islam, Niqab dan Feminisme berlangsung. Terlihat sekitar 25 orang bergabung di dalamnya. Perempuan tadi salah satunya, dan ada yang menarik dari dirinya. Kala peserta lain bercelana pendek, berkaos atau heboh berkemeja, ia mengenakan baju panjang hitam menjuntai dari ujung kepala hingga kaki. Hampir seluruh wajahnya tertutup. Hanya pasang mata tajam yang terlihat. Ia mengenakan niqab.

Iklan

Perempuan ini bernama Nur.

Saat Nur masuk ke ruangan, seluruh pasang mata sontak menatap dirinya. Nur yang berniqab hadir di tengah diskusi bersama beberapa kenalan baru. Acara tersebut diadakan oleh Jakarta Feminist Discussion Group pada 12 April lalu. Dalam riuh rendah perdebatan Islam versus Feminisme, Nur membawa narasi baru yang seakan menenangkan pergolakan yang selama ini membelah perempuan di Indonesia. Dengan niqab hitamnya yang menutupi seluruh tubuh kecuali mata, Nur tidak sedikit pun rikuh. Ia justru turut andil dalam obrolan bertajuk "Jilbab, Niqab, dan Hijab: Pembebasan dan Pemenjaraan Perempuan". Berangkat dari fenomena pelarangan niqab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, diskusi ini mendedah bagaimana niqab dipandang secara tunggal sebagai simbol pemenjaraan perempuan. Tidak salah, tetapi juga tidak benar. Bagi Nur, salah satunya, niqab dimaknai sebagai simbol pembebasan dan kebebasan bereskpresi. Hal yang masih terus diperjuangkan, serta diperdebatkan, oleh perempuan di Indonesia seabad lebih sesudah Kartini memantik gagasan emansipasi.

Perkenalan pertama Nur dengan feminisme dimulai pada 2014, saat menjalani semester awal berkuliah di salah satu kampus di Jakarta. Semua dimulai dari satu pernyataan sederhana yang dilempar dosen pembimbingnya: di dalam ayat Al-Quran, tidak disebutkan kalau perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tentu, Nur penasaran dibuatnya. Sebagai ajang pembuktian, Nur getol membaca kalam Allah tersebut.

Nur (tengah) dalam diskusi yang digelar Jakarta Feminist Discussion Group

“Itu bikin aku kepo. Kebetulan ada Al-Quran terjemahan di rumah, jadi akhirnya aku baca Arab-tafsir bolak balik gitu,” kata Nur saat ngobrol bersama VICE. Tiga bulan penuh ia teguh menyusuri tiap lembar Kitabnya. “Pokoknya sampai mahfum.”

Pencarian Nur berujung pada kesempatan diskusi dengan seorang ustaz. Dari diskusi tersebut, Nur baru mengetahui pernyataan yang menyebutkan perempuan berasal dari tulang rusuk terkandung dalam hadis riwayat Al-Buqhori. Konteksnya pun berbeda dengan yang ia ketahui selama ini. “Itu juga maksud pernyataannya bukan perempuan ini lebih lemah daripada pria, tetapi laki-laki untuk tidak berbuat kasar pada perempuan. Tidak menyakiti perempuan,” kata Nur sambil menirukan cara sang ustaz berbicara.

Iklan

Pernyataan sederhana dari dosen dan diskusi bersama ustaz tersebut menggiring Nur mencari tahu lebih lanjut tentang feminisme. Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di kepalanya.

“Setelah itu aku jadi mulai bertanya-tanya, apa itu feminisme? Bagaimana sejarah perempuan?” ujarnya.

Belajar tentang feminisme tak pernah sedikit pun menjauhkan Nur dari syariat Islam. Sejak 2015--setahun setelah ia mendalami gerakan feminisme, Nur memilih untuk mengenakan niqab. Kata kuncinya: memilih. Tiada paksaan yang diterima dirinya. Keluarganya pun membebaskan Nur dalam mengambil keputusan. Di keluarga Nur, tak ada yang menggunakan niqab. Tapi di keluarga besarnya ada beberapa. “Lebih menjalankan syariat dan itu pilihan pribadi. Karena kan aku pikir saat itu kenapa yang kayak gitu enggak dijalankan. Karena niqab itu baik dan bukan membatasi. Itu malah kebebasan berekspresi,” lanjutnya.

Memakai niqab tak pernah meluruhkan keinginannya belajar, berpikiran terbuka, dan terus mengikuti ajang diskusi feminisme yang diadakan oleh beberapa kelompok diskusi. Sebaliknya, niqab menjadi simbol pembuktian perempuan yang tak akan putus belajar—terlepas dari apapun pakaian yang dia kenakan.

“Niqab bukan halangan untuk kita berprestasi, berpikir, berdiskusi,” ungkap Nur tanpa ragu.

Terang saja. Nur suka baca buku. Mulai dari What is Patriarchy nukilan Kamla Bashin, hingga novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi sudah habis ia lahap. Nur salat lima waktu, tetapi juga menyempatkan diri berdiskusi dengan kawan-kawannya. Diskusi itu diberi nama “Peminis”, sebab katanya ia dan kawan-kawan belum “sepenuhnya” seorang feminis.

Diskusi berlangsung pada Kamis 12 April lalu

“Masih feminis nanggung, jadi dikasih nama Peminis deh,” katanya diselingi tawa. Di sana, ia mendedah seluk beluk feminisme, mulai dari teori, latar belakang sejarah hingga ragam jenis alirannya.

Feminisme turut mengukuhkan keyakinan Nur tentang pentingnya pendidikan. Nur tak pernah mau berhenti belajar. Karenanya, dalam satu kesempatan, Nur sempat mengajar di Madrasah Aliyah Negeri di Bogor dan tak jera mengingatkan anak-anaknya terus berilmu. Di kelas berisi tak kurang dari 40 murid, ia mengajarkan mind-mapping rencana pendidikan dan karier. Semua anak diminta menuliskan apa yang ingin mereka capai dalam jangka beberapa tahun ke depan.

Iklan

“Coba tulis kamu mau jadi apa, setelah lulus sekolah mau ngapain,” kata Nur pada anak didiknya.

Semua murid tekun menggambar dan menulis peta hidup di atas kertasnya masing-masing. Namun, alangkah kagetnya Nur saat membaca gambaran peta hidup mereka. Hampir sebagian besar anak muridnya menulis “ingin menikah” setelah lulus sekolah. Melihat hasil ini, Nur perlahan mengajak anak muridnya bicara tentang pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Dik, pendidikan itu penting, loh. Kalau punya ilmu, berpendidikan, kamu akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Kalau menikah tapi tidak punya pendidikan, kasihan anak-anakmu kan?” tegas Nur. “Kalau negara menghargai perempuan dan memberikan hak-hak perempuan untuk belajar, maka negara tersebut akan maju. Begitu juga dengan peradaban,”

Sayangnya, tak semua kawan dan kerabat Nur berpikir sama. Melihat sesama kawan perempuan berniqab yang memandang pendidikan feminisme sebelah mata, Nur membuka ruang diskusi maya melalui Whatsapp. Satu demi satu pertanyaan mulai bermunculan. Satu kali, teman dekatnya mengirimkan direct message. Isinya adalah pertanyaan, “feminisme itu apa sih?”. Membaca pesan itu, Nur tersenyum. “Aku lega ada yang mau tahu lebih lanjut,” katanya.

Menanggapi pertanyaan itu, Nur secara halus menceritakan keselarasan feminisme dan Islam. Ia ceritakan kisah Rasul yang pernah dilindungi perempuan, juga tujuan feminisme dan Islam yang sama-sama berjuang melawan ketidakadilan terhadap kelompok lemah.

“Aku berikan mereka cara pandang lain tentang feminisme. Dengan Islam pun ada yang sejalan loh. Rasul juga pernah dilindungi oleh perempuan,” ujar Nur.

Iklan

Kini lebih dari empat tahun sudah Nur mengenal feminisme. Semangat mendalami gerakan ini terus menggebu. Sebagai garapan tugas akhir, Nur mengajukan topik perubahan peran perempuan dari ranah domestik ke publik dari 1973-2010. Lalu ia berikhtiar lanjut ke jenjang pasca sarjana dengan program studi kajian gender. Tak ada alasan baginya untuk berhenti belajar.

Nur meyakini feminisme dan Islam sebagai kelindan yang saling menguatkan. Islam sudah sempurna, namun ia melihat masih ada ketidaksempurnaan dalam diri para Muslim-termasuk dirinya. Masih banyak orang menggunakan dalih agama atau politik untuk segregasi dan upaya domestifikasi perempuan. Maka, feminisme Islam hadir sebagai win-win solution. “Di sinilah sisi feminisme sebagai teman dan itu sejalan dengan agamaku Islam sebagai sebuah pembebasan,”

Pemikiran Nur ini, tak bisa dipungkiri, memantik perdebatan. Dalam hal kepercayaannya akan feminisme itu baik, ia kerap menuai pertanyaan akan kesalehannya sebagai seorang Muslim. Di sisi lain, keputusannya mengenakan niqab ikut dipertanyakan. Nur suatu kali pernah dirisak perempuan yang lebih tua karena mengenakan niqab. Si ibu kala itu mendatangi dirinya, lalu bertanya, “Mbak wajahnya jelek ya makanya pakai niqab?”

Tak sekadar dilecehkan, Nur juga dipandang berpikiran tertutup karena niqab yang ia kenakan. Bonus dianggap sebagai umat radikal juga harus ia telan. “Yah, memang kudu sabar-sabar aja,” katanya.

Terlepas dari seluruh duga dan risak yang ia terima, baginya, memiliki semangat feminisme tak pernah menghalangi untuk menjadi muslim taat. Adalah kewajiban bagi dirinya untuk menjadi sebaik-baiknya manusia dan sesaleh-salehnya hamba. “Aku ingin bermanfaat bagi manusia dan bagi perempuan-perempuan lain.”