Penyebab Ulang Tahun Justru Bisa Membuat Seseorang Depresi

Galau jelang ulang tahun ternyata dialami banyak orang. Untung kata pakar perasaan macam itu normal.
6.5.18
Michael Hernandez/EyeM

Setiap tahun, pada 12 April, Tyler Stewart mulai merasa melankolis dan tidak nyaman. Ini karena keesokan harinya, 13 April, adalah hari ulang tahunnya. Stewart biasanya suka nongkrong-nongkrong bersama teman-temannya atau mengadakan pesta di atap apartemennya. Namun ini tidak berlaku ketika membicarakan hari ulang tahunnya.

“Sehari-harinya, tidak ada kondisi yang menimbulkan gangguan kecemasan, tapi di hari ulang tahun saya, saya selalu tidak nyaman menjadi pusat perhatian,” ujar Stewart, 32 tahun, yang bekerja sebagai direktur strategi digital untuk sebuah perusahaan media di New York. Selain ketidaknyamanan yang datang akibat menjadi pusat perhatian, ulang tahun juga membuatnya resah karena membuatnya meninjau ulang pengalaman, pencapaian dan keragu-raguan dalam hidupnya di titik tersebut.

“Ketika berumur 29 tahun, saya ketakutan selama setahun penuh,” ujar Stewart. “Ini adalah tahun terakhir saya di umur 20-an. Apakah saya sudah melakukan semua yang seharusnya saya lakukan? Apakah saya sudah mencapai potensi maksimal? Apakah saya sudah merasakan semua pengalaman yang ingin saya rasakan? Ada kecenderungan untuk merefleksikan hidup kita.”

Ulang tahun bisa membuat orang merasakan berbagai emosi, dari yang kontemplatif, sedih, hingga cemas atau depresi. (Episode depresif didefinisikan berlangsung paling tidak selama dua minggu, dan rata-rata selama enam bulan.) Biarpun belum ada penelitian khusus mengenai ulang tahun, ada bukti kuat bahwa peristiwa hidup dapat menyebabkan stres atau depresi, jelas Stewart Shankman, seorang psikolog dari University of Illinois di Chicago. Peristiwa besar seperti menikah, memiliki anak, atau pensiun—semuanya sering diiringi dengan periode stres yang parah—bisa menyebabkan depresi.

Peristiwa-peristiwa ini bisa menyebabkan depresi karena mereka memaksa orang untuk merefleksikan identitas mereka, ujar Shankman. Ketika seorang anak keluar dari rumah orang tua, ibu atau ayah mungkin akan meninjau ulang aspek identitas mereka sebagai orang tua. Ketika seseorang pensiun, aspek profesional dari identitas mereka berubah. Lewat cara yang serupa, ulang tahun memaksa kita mengeksplor bagaimana identitas kita telah berkembang. “Ulang tahun bisa menyebabkan pemikiran-pemikiran tersebut, terutama ulang tahun yang penting. Kalau saya sudah tidak lagi berumur 30-an, sekarang saya 40 tahun, apakah artinya itu bagi diri saya sendiri?” ujar Shankman.

Peristiwa kehidupan yang bermakna juga mengeluarkan memori, ekspektasi, dan kekecewaan, ujar Myrna Weissman, kepala divisi epidemiologi di New York State Psychiatric Institute. Contohnya, banyak pasien Weissman telah mengalami depresi yang disebabkan oleh ulang tahun kematian orang tersayang, dan memori yang bermunculan akibat tanggal tersebut.

Ulang tahun juga datang dengan ekspektasi, karena kita kerap membayangkan hari yang sempurna, dirayakan dengan orang-orang tercinta. Beratnya ekspektasi ini, dan kekecewaan yang muncul apabila ekspektasi ini tidak tercapai, bisa berdampak negatif. “Orang berharap orang lain akan menyelamati mereka, ingat hari ulang tahun mereka, atau bahkan memberikan hadiah. Apabila ini tidak terjadi, rasanya sangat mengecewakan,” ujar Weissman.

Ekspektasi sosial bisa mendikte bagaimana kita “seharusnya” berpikir, padahal realitanya jauh lebih rumit. “Seharusnya” ini, ujar Shankman, sangat menyulitkan karena selain harus berhadapan dengan situasi itu sendiri, orang juga bergumul dengan narasi kenapa mereka tidak merasakan emosi yang “seharusnya” mereka rasakan (misalnya, merasa bahagia dan bergaul dengan banyak kawan di hari ulang tahun). “Kalau kamu tidak bisa mencapai “seharusnya,” rasanya seperti ditonjok dua kali. Apa yang salah dengan saya? Kenapa saya tidak bisa merasakan apa yang harusnya saya rasakan?” ujar Shankman.

Masalahnya, “seharusnya” ini merupakan konstruksi sosial. Sangat wajar untuk merasakan berbagai pengalaman dan emosi, dan tidak ada yang benar atau salah. Tentu saja, media sosial bisa semakin memperburuk penekanan kita akan ilusi hari ulang tahun yang sempurna. “Apalagi sekarang, seiring populernya perayaan diri lewat media sosial dan self-branding, semakin mudah untuk merasa tidak nyaman,” ujar Stewart.

Ada beberapa strategi yang bisa membantu menghadapi stres di hari ulang tahun, ujar Shankman. Salah satunya adalah jauh-jauh hari menulis buah pikiran, ekspektasi, dan kecemasan. Menumpahkan pikiran ke dalam kata-kata bisa membantu menyesuaikan sudut pandang kamu tentang sebuah peristiwa. Kedua, jangan sendirian di hari ulang tahun, tidak peduli seberapa anti-sosial mood kamu saat itu. Menghabiskan waktu dengan orang yang kamu percaya atau sayangi bisa membantu kamu melewati hari—atau bahkan menikmatinya.

Kamu juga bisa membuat rencana untuk menghadapi beberapa kemungkinan terburuk yang membuatmu cemas, ujar Weisman. Kalau kamu khawatir ada anggota keluarga yang akan lupa menelepon, hubungilah mereka terlebih dahulu dan ingatkan mereka tentang ulang tahunmu. Kalau kamu khawatir akan kedatangan pikiran-pikiran yang negatif, rencanakan aktivitas yang akan membuatmu sibuk dan mengalihkan perhatian.

Stewart kini menganggap hari ulang tahunnya sebagai sebuah kesempatan untuk berefleksi diri. Rasa sedih muncul pada 12 April, tapi kini dia menggunakan emosi-emosi tersebut untuk merefleksikan masa lalu dan bagaimana dia bisa menjadi lebih baik setahun ke depan. “Saya berhasil mengubah perasaan tersebut menjadi hari yang berharga daripada sekadar membencinya,” ujarnya. “Saya berusaha keluar dari diri sendiri dan seolah bertanya apakah kamu telah menjaga diri, pikiran, dan tubuh dengan baik? Apakah kamu berhasil menciptakan keseimbangan? Buat saya, itulah pelajaran berharganya.”