Apple

Jony Ive Mundur dari Apple, Sayang Sosoknya Tak Akan Dikenang Manis oleh Sejarah

Dunia akan selalu mengingat Ive sebagai desainer ponsel sampai laptop paling ribet buat diservis ataupun diupgrade.
28.6.19
Jony Ive (kiri) dalam momen peluncuran iPhone terbaru. Foto oleh Justin Sullivan/Getty Images
Jony Ive (kiri) dalam momen peluncuran iPhone terbaru. Foto oleh Justin Sullivan/Getty Images 

Jonathan 'Jony' Ive sebentar lagi angkat kaki dari Apple Inc, setelah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya merancang berbagai produk dan visual perusahaan teknologi berpusat di Cupertino itu. Sebut semua produk terkenal Apple dua dekade terakhir—mulai dari iPod, Macbook Pro, iPad, sampai iPhone—pasti terdapat satu dua sentuhan Ive di dalamnya. Dia mundur untuk mendirikan firma desain sendiri.

Namun, bagi pecinta teknologi, Ive tak akan dikenang manis. Kepergian Ive mewariskan karya-karya sekali pakai, akibat tidak bisa diperbaiki ketika rusak. Pilihan estetik Ive (yang direstui mendiang bosnya Steve Jobs) sejak lama jadi kontroversi bagi para pelaku industri elektronik—terutama dari sudut pandang konsumen.

Apple menelurkan iPod, iPhone, iPad, Apple Watch, AirPods, dan berbagai versi iMac seperti Mac Pro, MacBook, dan MacBook Pro selama dia menjabat sebagai Chief Design Officer. Dia berperan penting dalam mengubah Apple dari perusahaan komputer biasa menjadi perusahaan terkaya di dunia.

Di bawah pengawasannya, desain Apple semakin lama semakin tipis, ringan, dan ramping. Sayangnya, perangkat ciptaan Ive juga semakin tidak modular. Berbagai produk itu tak ramah konsumen, sangat susah diperbaiki, dan sulit berfungsi seperti model-model terdahulunya. Perusahaan kompetitor seperti Samsung, HTC, Huawei dan lain-lain lantas mengikuti jejak Apple. Mereka mengorbankan modularitas, demi desain yang lebih apik.

Iklan

Ive sering dijuluki jenius. Dia memperoleh gelar bangsawan dari Kerajaan Inggris, dan muncul di sampul depan majalah Hodinkee yang khusus membahas jam mewah. Financial Times mengumumkan keputusannya meninggalkan Apple dalam enam laporan bersambung. Apple bahkan menjual buku seharga 300 dolar AS (setara Rp4,2 juta) yang didedikasikan untuk memuja "kejeniusan" desainnya.

Terlepas dari semua pujian tersebut, sejarah tak akan pernah melupakan pilihan desain Ive dan Apple. Meskipun perusahaan ini mempopulerkan ponsel cerdas berdesain minimalis dan ramping, Apple juga selalu mengeluarkan berbagai aksesori baru. Tujuannya? Agar pengguna Apple tak usah memperbaiki iPhone-nya yang sudah rusak.

Di bawah kepemimpinan Ive, Apple mulai merancang baterai yang tidak bisa dicabut. Mereka tak peduli produknya tidak tahan lama asalkan bentuknya ramping dan tipis.

Atas ide Ive pula, Apple mendesain ulang keyboard MacBook Pro agar lebih tipis dan gampang rusak saat tersiram air atau dipenuhi debu (laptop saya yang berumur enam bulan ini tombol spasi dan ‘r’-nya sudah rusak). Apple sendiri tidak mampu memperbaiki keyboardnya. Banyak pengguna terpaksa mengganti MacBook Pro mereka cuma gara-gara ada satu tombol yang eror. Ponsel iPhone 6 Plus memiliki cacat desain yang membuat layar sentuhnya sering tidak berfungsi.

Apple sempat bersikeras produknya tidak bermasalah sebelum akhirnya membuat program perbaikan. Sementara itu, uji coba internal Apple membuktikan adanya kecacatan. Ive kemudian merancang AirPods yang baterainya tidak dapat diganti.

Hasil karya Ive mendorong konsumen untuk beli baru setiap kali gawai mereka berhenti berfungsi. Ujung-ujungnya lingkungan juga yang dirugikan. Apple memang bisa sesukses sekarang berkat Ive, tetapi mudah-mudahan saja penggantinya nanti tak sepicik dia.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard