Kesehatan Tubuh

Terlalu Banyak Rebahan Tak Bagus untuk Kesehatan

Ada risiko yang mengintai dari gaya hidup pasif begini. Kabar buruk bagi kaum rebahan yang mengisi liburan sambil gegoleran doang.
perempuan sedang tidur
Ilustrasi: Walter Zerla via Getty Images 

Kurang tidur dapat merugikan kesehatan, tetapi kebanyakan tidur sama tidak baiknya. Diterbitkan dalam Neurology, hasil penelitian menemukan terlalu banyak tidur secara berlebihan dapat meningkatkan risiko stroke. Orang dengan kebiasaan tidur lebih dari sembilan jam semalam dan tidur siang panjang memiliki peluang terkena stroke 85 persen lebih tinggi.

Peneliti menganalisis 31.750 orang di Cina tanpa riwayat stroke atau masalah jantung selama enam tahun, dan penelitiannya dikendalikan oleh faktor tekanan darah tinggi, diabetes dan merokok yang berpotensi menyebabkan stroke. Mereka menemukan risiko mengalami stroke pada orang yang tidur sembilan jam lebih 23 persen lebih besar daripada yang tidur tujuh hingga delapan jam. (Peserta memperkirakan durasi tidurnya, jadi belum tentu akurat.) Risikonya naik hingga 85 persen apabila mereka juga suka tidur siang sampai 90 menit sehari.

Iklan

Hubungan antara durasi tidur dan risiko stroke semakin parah seiring bertambahnya usia. Selain itu, kebanyakan tidur juga dapat mengembangkan risiko hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, dan obesitas. “Efek tidur berlebihan pada kejadian stroke bisa saja diperparah faktor-faktor risiko kardiovaskular ini,” tulis peneliti.

Menurut peneliti, durasi tidur anak muda lebih singkat daripada orang tua karena pekerjaan dan kewajiban sosial menyita sebagian besar waktu mereka. Kualitas tidur buruk juga dikaitkan dengan risiko stroke yang lebih tinggi. Mereka yang kualitas tidurnya di bawah rata-rata berpeluang menderita stroke 29 persen lebih tinggi. Penelitian ini tidak menunjukkan hubungan antara tidur singkat dengan stroke.

Tidur bukan pemicu utamanya, melainkan gaya hidup pasif dan kadar kolesterol tinggi yang cenderung dimiliki tukang tidur. Penelitian sebelumnya menjelaskan terlalu banyak tidur dapat membuat orang mudah lelah, sehingga mereka mengadopsi gaya hidup sedenter. Mungkin juga ada komorbiditas atau penyakit mendasar yang memengaruhi ini. Sebagaimana diungkapkan peneliti, “Mekanisme yang mendasari hubungan durasi tidur panjang dengan kejadian stroke tidak sepenuhnya dipahami.”

Tidur dan tidur siang tidak dapat dipastikan menyebabkan stroke—meski menurut penelitian, hal itu belum bisa sepenuhnya dikesampingkan—tetapi orang yang kebanyakan tidur cenderung lebih berisiko. Perlu diakui sebagian besar dari kita jam tidurnya kacau. Ada yang kurang dari tujuh jam, ada juga yang kelewatan. Namun satu yang pasti, kita sebaiknya mulai melatih diri untuk tidur sesuai batasan demi kesehatan jantung masing-masing.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.