Kriminalitas

Berbagai Jenis Kriminalitas Meningkat Selama Pandemi Corona Melanda Indonesia

IPW menilai lonjakan kasus pencurian dan perampokan ini ada kaitannya sama kebijakan Kemenkumham. Soalnya puluhan ribu napi yang dilepas demi social distancing lapas tempo hari sulit dapat kerjaan.
13 April 2020, 10:01am
Napi Dilepas Kemenkumham Berulah Lagi Pencurian marak selama wabah corona di Indonesia
Kolase oleh VICE. Ilustrasi garis polisi [kanan] via Unsplash; ilustrasi pencurian rumah via Wallpaper Flare.

Polda Aceh sempat membuat peringatan awal Maret lalu, tentang risiko meningkatnya pencurian memanfaatkan situasi wabah virus corona. Peringatan itu terbukti. Sejumlah pencolengan bermunculan, tapi pencurinya enggak repot-repot menyamar jadi petugas medis seperti disampaikan aparat.

Pandemi corona memaksa kantor kosong, sekolah kosong, tempat usaha kosong, kecuali otak maling yang tetap terisi niat jahat. Jadilah selama pandemi muncul aksi-aksi pencuri yang ngerasa wabah ini memberi mereka karpet merah.

Di Jambi, misalnya, kasus kriminalitasnya ngeselin banget: 14 warung sekaligus kena rampok. Yuni, salah satu korban perampokan, bilang emang warungnya tutup lebih cepat semenjak wabah. Waktu tutup lebih panjang itu membuatnya mendapati warungnya dibobol maling pada Rabu (8/4) pagi.

"Saya baru tahu kejadian ini waktu mau buka warung, dan semua pemilik toko yang berjualan di sini ada 14 orang mengatakan kalau barang mereka ada yang hilang, kami sudah melpor ke ketua kami,” kata Yuni kepada Kumparan. Ketua Koperasi Warung Sugito yang juga jadi salah satu korban mengatakan selama empat tahun berjualan, baru malam itu ia dirampok.

"Ini kejadian perampokan baru pertama kali terjadi dan memang benar tempat ini tidak ada yang jaga," ujar Sugito.

Pencurian terjadi pula di Kotagede, Yogyakarta. Atun, pedagang kelontong di Jalan Mondorakan, dirampok tokonya pada 10 April dini hari. Kata pengusaha fotokopi bernama Sutiyono yang kiosnya bersebelahan dengan toko kelontong itu, malam sebelumnya tidak ada suara ribut orang sedang membuka paksa toko. Perihal perampokan juga baru ketahuan pada pagi keesokan harinya. Atun tercatat menutup toko dari jam 4 sore sejak ada wabah corona.

"Sudah ada laporan kasus itu dan diketahui kerugian mencapai ratusan juta. Pelaku juga masih kami selidiki," kata Kapolsek Kotagede Kompol Dwi Tavianto kepada Suara.

Tak cuma toko, rumah ibada enggak lepas dari incaran kriminal oportunis. Imbauan untuk beribadah di rumah memicu inisiatif seorang pria mencuri kotak amal Masjid At-Tauhid di Surabaya, pada 17 Maret lalu. Aksi ini terekam CCTV masjid. Pelaku terekam membawa besi pipih yang dipakai merusak gembok kotak amal. Seluruh isi kotak amal kemudian disikat habis. Kapolsek Tandes AKP Ricky Tri Dharma bilang polisi belum beraksi karena belum ada laporan.

Maling era corona yang kebanyakan nonton film-film kriminal juga hadir di Padang. Sepi aktivitas karena diliburkan, SMP Negeri 30 Padang dibobol empat maling pada 7 April lalu. Komputer, laptop, dan proyektor digondol pergi tanpa izin. Mungkin ingin merasa paling misterius sedunia, para maling sok ide menuliskan pesan di papan tulis ruang guru bertuliskan "Maling Brandal SMP Go***k" (kata terakhir disensor bukan karena kami sopan, tapi karena kami enggak tahu apa isi sensoran itu mengingat hampir semua media menyensornya). Tidak lupa, kawanan itu membubuhkan tanda tangan mereka di sana. Dikira binder kali.

Tapi kalau boleh milih, tempat spesial di neraka patut diberikan kepada para maling di Kalimantan Tengah. Di tengah kondisi minimnya stok APD buat tenaga medis, para maling malah mencuri ribuan masker bedah milik Dinas Kesehatan Kalteng pada 11 April.

"Yang hilang sekitar enam ribuan masker bedah yang disimpan di dalam gudang farmasi. Saya baru tahu sore ini dari staf saya. Dan diperkirakan pencuri masuk ke dalam gudang farmasi ini subuh tadi," kata Kepala Dinkes Kalteng Suyuti Syamsul.

Menanggapi kasus-kasus pencurian saat situasi darurat begini, Kapolres Rembang AKBP Dolly A. Primanto berasumsi pandemi corona membuat masyarakat ekonomi bawah amat terdampak. Mereka mencari cara agar dapat bertahan hidup. Pencurian dianggap sebagai salah satu alternatif menyambung nyawa.

"Dampak corona ini terasa sekali. Kami akan lakukan pencegahan dan pengungkapan kasus. Mudah-mudahan segera terungkap," kata Dolly.

Setelah terungkap justru bakal ada keribetan lain. Pencuri-pencuri ini bakal mengisi lagi sel penjara yang sebenernya hendak dilapangkan oleh pemerintah lewat program asimilasi dengan cara melepas dini 50 ribu narapidana. Kebijakan ini sempat bikin geger masyarakat, lantaran ada wacana dari Menkumham Yasonna Laoly bahwa napi korupsi juga ikut dilepas, yang akhirnya batal direalisasikan setelah ada intervensi Presiden Joko Widodo.

Indonesia Police Watch (IPW) menilai meningkatnya kasus kriminal seperti pencurian dan perampokan selama dua pekan belakangan patut disinyalir menjadi lebih parah akibat kebijakan Kemenkumham melepas narapidana. Di berbagai daerah, media melaporkan napi yang baru bebas itu langsung beraksi kembali dengan mencuri, merampok, menjambret, hingga membegal.

Kondisi pandemi membuat jutaan orang sedang sulit mencari kerja. Bahkan di Jawa saja, lebih dari 200 ribu orang dirumahkan pekan lalu. Situasi lebih sulit tentu dihadapi napi-napi yang baru berupaya asimilasi. Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, menilai wajar bila sebagian bekas narapidana tertarik kembali ke keahlian lama mereka di bidang kriminal.

"Kasus ini harus menjadi tanggungjawab Kemenkumham. Bagaimana janji Menkumham jika para napi itu akan diawasi. Harus diantisipasi agar tidak menjadi fenomena, di mana setelah menghirup udara bebas, ternyata para napi tidak jera, bahkan tidak berselang lama langsung kembali beraksi," ujar Neta.

Pelepasan napi, awalnya bertujuan mengurangi potensi wabah menyerang penjara-penjara kelebihan kapasitas. Semakin memusingkan ketika The Jakarta Post melaporkan, sebenarnya ada kelompok peneliti yang usul bila penjara ditutup dari pembesuk saja, alih-alih napinya dilepas mendului jadwal bebas. Kalau di masa wabah ada napi baru, justru ada kemungkinan mereka membawa virus dari luar masuk ke penjara.

Nah, ngomong-ngomong soal napi bawa virus dari luar, ada kasus entah lucu entah ngeselin tentang seorang pencuri kotak amal di Jakarta Selatan pada 9 April lalu. Dia enggak berhasil mencuri karena keburu ketahuan warga, tapi caranya berkelit saat akan dibawa ke kantor polisi lumayan jahanam: ngaku sebagai ODP corona.

Untung warga enggak kalah cerdik. Pas diancam mau diangkut ke RS untuk dikarantina, dia menyerah dan jujur kalau pengakuan ODP barusan bohong. Ah elang tong.....