teknologi

Komunitas Mata Uang Kripto Heboh, Transfer Rp1,8 Juta Doang Biayanya Rp35 Miliar

Entah ini kesalahan yang tidak disengaja atau bukan, tetapi platform Sparkpool menahan biaya transaksi ethereum tersebut seandainya sang pengirim mau mengaku.
12 Juni 2020, 6:43am
ilustrasi lelaki main laptop sambil garuk kepala
Ilustrasi: Tim Gouw via Pexels

Bayangkan bagaimana rasanya kalau kalian ingin mengirim satu juta doang, tapi biaya transaksinya sampai miliaran Rupiah? Pasti enek banget, kan?

Pengguna uang kripto baru saja mengalami kejadian serupa. Pada Rabu lalu, dia harus membayar setara US$2,5 juta (Rp35 miliar) ketika melakukan perdagangan menggunakan Ethereum, mata uang kripto mirip Bitcoin dengan beberapa perbedaan fundamental.

Menurut detail transaksi yang tersedia untuk umum, kesalahannya mungkin terletak pada penetapan biaya yang penambang bersedia bayar agar transaksi mereka diposting ke blockchain Ethereum atau catatan permanen transaksi.

Sama seperti Bitcoin, pengguna Ethereum dapat membebankan biaya transaksi sebagai insentif untuk memasukkan transaksi mereka ke blok data berikutnya. Biasanya, biaya transaksi sangat rendah dibandingkan dengan jumlah astronomi yang dapat dikirim melalui blockchain. Kalkulator mata uang kripto sering kali membantu penambang menemukan biaya yang cocok. Tujuannya agar mereka tidak bayar kemahalan.

Namun, dalam kasus ini, pengguna tampaknya menetapkan batas normal “gas” (mewakili upaya komputasi), tapi harga “gas” yang ditetapkan selangit. .5 ETH per unit gas. Transaksinya menggunakan keseluruhan batas “gas” 21.000, yang berjumlah sekitar 10.668 ETH atau setara 2,5 juta Dolar (Rp35 miliar).

Singkatnya, perdagangan eter senilai $133,95 (Rp1,9 juta) memiliki biaya transaksi $2,5 juta (Rp35 miliar). Belum diketahui apakah transaksinya disengaja atau tidak. SparkPool masih menahan biaya transaksinya, kali saja sang penambang mau mengakui kesalahan mereka.

SparkPool menjelaskan dalam email masih menyelidiki transaksinya. Mining pool ini pernah menangani hal serupa di masa lalu.

“Kami sedang menyelidikinya lebih lanjut,” ujar Ze Cao, manajer operasional SparkPool.

SparkPool pernah menerima biaya transaksi sebesar $300.000 (Rp4,2 miliar) pada 2019. Transaksinya dibekukan selama SparkPool mengusut penyebabnya. Hasil penyelidikan SparkPool menunjukkan perusahaan blockchain Korea Selatan salah menetapkan biaya transaksi. Coindesk melaporkan SparkPool mengembalikan setengahnya ke perusahaan itu.

Tal Be’ery, manajer riset keamanan dan cofounder dompet kripto ZenGo, berpendapat langkah SparkPool sudah tepat.

“Dengan begini, SparkPool takkan dicurigai pihak berwenang,” Be’ery menerangkan dalam email. “Secara teori, pengirim dan penambang dapat bersekongkol untuk mengirim uang secara lebih rahasia menggunakan biaya transaksi dan bukan melalui jumlah seperti biasa. Jadi, bisa dibilang mereka menghindari pemantauan dan melakukan ‘pencucian uang.’”

Walaupun mungkin sekadar kesalahan tak disengaja, transaksi ini jelas sangat mencurigakan. Apalagi jumlahnya terlalu tinggi.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard