Aplikasi Kencan

Data Menunjukkan Makin Banyak Anak Muda Pakai Aplikasi Kencan Buat Ngobrol Doang

Swipe kanan di Tinder kini bisa diartikan ajakan ngobrol bareng. Jadi, ga usah mikir yang aneh-aneh....
7.8.20
Data Tinder Menunjukkan Banyak Anak Muda Pakai Aplikasi Kencan Buat Ngobrol Doang
Foto ilustrasi pakai aplikasi kencan oleh Andrea Piacquadio / Pexels

Masih ingat ga momen kamu menunda ketemuan sama kenalan di Tinder, hanya karena kalian sama-sama sibuk menentukan kapan waktu senggang buat makan malam? Kalian merasa aplikasi kencan dibutuhkan demi tujuan utama berupa temu darat. Seakan tak ada gunanya mainan Tinder, Okcupid, Bumble, atau Grindr, kalau ujung-ujungnya nge-chat doang. Tapi, sekarang datang pandemi corona.

Ketemuan di luar rumah tentunya tak bisa jadi pilihan. Cara kita semua memahami fungsi aplikasi kencan lantas berubah drastis. Mustahil bisa mengajak kenalan dari aplikasi kencan buat “Netflix and Chill” di malam minggu. Apakah harus berhenti mainan Tinder dan sebangsanya? Ternyata tidak.

Kreativitas manusia berperan amat besar sekarang. Berdasarkan data dari Tinder, salah satu aplikasi kencan terbesar di dunia, chatting merupakan aktivitas paling meningkat di platform mereka oleh pengguna kawasan Asia. Sepanjang Maret hingga Mei 2020, sebanyak 49 persen anak muda asal Asia di Tinder memakainya buat ngobrol sama kenalan baru hasil nge-swipe kanan.

Peningkatan terbesar muncul dari anak muda India, karena paling gemar memakai Tinder buat ngobrol setelah swipe kanan. Angkanya mencapai 61 persen. Begitu pula muda-mudi Korsel, yang berdasar data Tinder, aktivitas chat-nya selama memakai aplikasi tersebut meningkat 55 persen. Dua negara itu mengungguli negara-negara kawasan Asia lain, yang secara umum mengalami peningkatan aktivitas ngobrol lewat aplikasi sebesar 39 persen.

Iklan

Kencan virtual pun kini menjadi kelanjutan logis dari tren di atas. Kalaupun memang sama-sama cocok untuk kenalan lebih jauh, pasangan yang ketemu di Tinder tak perlu lagi nge-date di kafe. Sebagian dari mereka ketemuan di game Animal Crossing. Praktik kayak gini dilakuan lebih banyak oleh Gen Z, dibandingkan generasi millenial.

Sebagian aplikasi kencan menyadari tren yang sama, sehingga membuat fitur baru agar obrolan tidak membosankan. Okcupid contohnya, kini menyediakan pilihan kencan online yang bisa diisi bareng ketika dua orang saling cocok. Misalnya bikin playlist musik bersama, menyusun daftar film yang bisa ditonton bareng kelak, dan lain sebagainya.

Bumble pun menyediakan fitur yang mendorong orang kencan online. Kini sudah tersedia fasilitas pengiriman rekaman suara dan video untuk orang yang match denganmu di aplikasi tersebut.

Intinya, kencan online kini lebih variatif dibanding dulu sebab kondisi di luar sana masih belum aman gara-gara Covid-19 bangsat. Namun, memang, kondisi ini tidak mengubah sifat sebagian buaya lelaki maupun perempuan yang gemar mengincar target di aplikasi kencan. Mahluk kayak gitu wajib diwaspadai, dengan atau tanpa adanya pandemi.

Follow Satviki di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India