The VICE Guide to Right Now

Penelitian Psikologi Simpulkan Orang Narsis Cenderung Tertarik Terjun ke Politik

Berkaca pada penelitian serupa, kecenderungan ini berbahaya. Sebab individu yang merasa hebat saat memegang kekuasaan bisa membahayakan proses demokrasi.
6.10.20
Penelitian Simpulkan Orang Narsis Cenderung Tertarik Terjun ke Politik
Foto Donald Trump dari   Gerd Altmann / Pixabay  

Apa sih bayanganmu soal orang narsis? Gambaran umum narsisisme kira-kira seperti ini: gejala individu yang egois dan sulit diajak berdiskusi secara normal, meyakini dirinya penting dalam dunia ini, dan sangat menyukai foto selfie. Sebagian ciri khas itu diakui oleh akademisi psikologi sebagai pertanda seseorang mengidap narsisisme.

Nah, bayangkan orang semacam itu menempati jabatan publik. Kita akan lihat, beberapa pemimpin negara yang sering disebut narsis memang juga demen banget foto dirinya sendiri.

Rupanya, kecenderungan kayak gini akan makin sering ditemui masyarakat demokrasi di banyak negara. Penelitian yang baru saja terbit di Jurnal Personality and Social Psychology Bulletin, menyatakan orang dengan narsisisme cukup besar lebih tertarik terjun ke politik dibanding individu lain. Politik dalam hal ini bukan cuma jadi politikus ya, namun juga membuat petisi, berdonasi untuk tujuan politik, serta menghubungi politisi untuk melakukan lobi-lobi tertentu.

Peneliti melibatkan nyaris 3 ribu responden dari beberapa negara. Survei ini mengaitkan pengukuran skala narsisime dengan delapan jenis partisipasi politik. Penelitian ini juga mengkaji faktor sosiodemografis, seperti gender, etnis, pendidikan, usia, dan ideologi politik para responden.

Iklan

“Kecenderungan ini tergambar dari semakin mengemukanya kepentingan pribadi dan promosi diri saat seseorang membicarakan agenda politik di ruang publik. Serta menjelaskan kenapa ada individu percaya diri menawarkan fakta alternatif dibanding mengandalkan sumber info yang kredibel,” kata Pete Hatemi, guru besar psikologi Penn State University yang terlibat penelitian tersebut, saat diwawancarai Psypost.

“Dari penelitian kami, dapat disimpulkan bila individu yang merasa lebih baik dari mayoritas orang lain lebih ingin terlibat proses politik di berbagai level,” kata kesimpulan tim peneliti. “Artinya, arah diskusi kebijakan politik kini disetir oleh mereka yang lebih aktif menyuarakan pendapat pribadinya.”

Penelitian ini melengkapi kajian yang lebih dulu terbit pada 2017, bahwa psikopat cenderung memilih kuliah di jurusan bisnis dan ekonomi. Alasannya, karena dua jurusan itu menjanjikan individu psikopat kemungkinan berkuasa dan mendapat status elit.

Menurut tim peneliti dari Penn State University, partisipasi politik sebetulnya tidak salah, bahkan bila pelakunya adalah individu narsis. Masalahnya, ketika mereka memperoleh jabatan publik, atau memiliki status sebagai opinion maker di medsos, maka demokrasi jadi terancam. Karena kepentingan pribadinya lebih besar daripada upaya memperjuangkan kemaslahatan bersama.

Individu yang narsis cenderung sulit bekerja sama, kurang memiliki empati, dan selalu merasa keputusannya benar. Keberadaan individu macam itu yang mempengaruhi insitusi demokrasi, mulai dari pemerintah, legislatif, atau peradilan, bisa mengancam proses partisipasi publik yang lebih luas.

Follow Varsha di Twitter dan Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US