world politics

Tuduhan Pelecehan Seksual Mengiringi Pemakaman Wali Kota Seoul

Pemerintah kota Seoul mengabaikan permohonan korban karena menurut mereka "sudah menjadi tugas sang sekretaris untuk memenuhi kebutuhan emosional wali kota."
Junhyup Kwon
Seoul, KR
14 Juli 2020, 6:12am
Perwakilan mantan sekretaris Wali Kota Seoul Park Won-soon dalam konferensi pers
Sehari sebelum ditemukan tewas, perwakilan mantan sekretaris mendiang Wali Kota Seoul Park Won-soon menuduhnya telah melakukan pelecehan seksual. Foto oleh Korea Women’s Hotline.

Dibantu Korea Women’s Hotline dan Pusat Bantuan Kekerasan Seksual Korea, pengacara mantan pegawai balai kota Seoul menggelar konferensi pers di hari pemakaman mendiang Wali Kota Park Won-soon. Mereka secara resmi membuka kasus pelecehan seksual yang dilakukan Park terhadap mantan sekretarisnya selama empat tahun. Penggugat tidak menghadiri acara tersebut.

Menurut perwakilannya, perempuan itu dikirimi pesan tak senonoh dan foto Park yang hanya mengenakan pakaian dalam lewat obrolan rahasia Telegram. Dia juga menuding sang wali kota menyentuhnya tanpa izin dan memerintahkannya melakukan hal-hal yang bernada seksual.

“Park mendekatkan tubuhnya ke penggugat saat minta selfie di kantor,” ujar pengacara Kim Jae-ryon. “Dia mencium lutut sekretarisnya yang luka, dan bahkan memanggilnya ke kamar yang ada di kantor. Dia minta dipeluk.”

Perempuan itu sebenarnya sudah menggugat Park sejak 12 Mei lalu, tetapi baru diketahui setelah jasad wali kota ditemukan pada Jumat dini hari. Dia menawarkan kesaksian bahwa lelaki 64 tahun itu telah melanggar Act On Special Cases Concerning the Punishment, ETC. Of Sexual Crimes pada 8 Juli, sehari sebelum putri Park melaporkan ayahnya hilang.

Lee Mi-kyoung selaku direktur Pusat Bantuan Kekerasan Seksual Korea mengungkapkan, pemerintah kota Seoul meremehkan permohonan korban karena mereka yakin Park “bukan lelaki jahat. Lagi pula, sudah menjadi tugas sang sekretaris untuk memenuhi kebutuhan emosional wali kota.”

Perempuan itu telah menceritakan pelecehan yang dialaminya kepada jurnalis, rekan kerja dan teman-temannya. Sang pengacara menyertakan bukti berupa tangkapan layar obrolan Telegram mereka.

Park tetap melecehkannya, meski dia sudah pindah ke bagian lain. Perwakilan penggugat menekankan pelecehan seksual umum terjadi dalam hierarki kekuasaan di dunia kerja Korea Selatan.

Perempuan tersebut menyatakan dia hanya ingin “dilindungi secara adil, dan membuat Park menyesal atas perbuatannya yang tidak senonoh.”

“Saya harap bisa memaafkannya suatu saat nanti. Saya ingin beliau diadili sesuai hukum Korea Selatan dan menerima permintaan maaf tulus dari beliau,” imbuhnya.

Namun, perempuan itu tampaknya akan sangat sulit menerima keadilan. Di bawah Undang-Undang Korea Selatan, ada kemungkinan kasus ini terkubur bersama jasad wali kota. Lebih buruk lagi, dia kini menerima cercaan dari segala arah.

Walaupun tergugat sudah tiada, perwakilan mantan sekretaris Park menuntut polisi dan pemerintah untuk terus melanjutkan penyelidikan kasusnya.

Ironis memang, mendiang Park adalah mantan aktivis dan pengacara HAM yang mengaku sebagai feminis. Dia bahkan sempat mendukung gerakan #Metoo, namun akhirnya tersandung kasus pelecehan seksual juga.

Follow Junhyup Kwon di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US