Kaavan,
Gajah Kaavan menyendiri di kandangnya yang kotor di Islamabad, Pakistan. Foto: Four Paws / Xdynamix
Satwa liar

Aksi Dramatis Penyelamatan Gajah Paling Kesepian di Dunia

Gajah Asia itu segera mendapatkan kebebasannya setelah delapan tahun depresi hidup sebatang kara di Pakistan.
24.11.20

Kaavan akan memulai perjalanan panjangnya sebentar lagi. Setelah puluhan tahun hidup penuh lika-liku di Pakistan, gajah Asia seberat lima ton itu akhirnya mendapat rumah baru di Kamboja — berkumpul bersama para gajah Asia lain yang telah menunggu kedatangannya.

Kaavan kecil dibawa dari Sri Lanka ke Kebun Binatang Marghazar di Islamabad pada 1985. Hewan ini biasanya hidup berkelompok, tapi Kaavan menjadi “gajah paling kesepian di dunia” sejak ditinggal mati oleh pasangannya, Saheli, pada 2012. Kaavan berubah agresif karena menghabiskan sebagian besar waktunya dirantai dengan perawatan buruk. Depresi membuat gajah itu menderita obesitas. Kukunya juga tumbuh tidak normal.

Berawal dari surat kabar Los Angeles Times, penderitaannya mulai diliput banyak media asing pada 2016. Tak kuasa menyaksikan kondisinya yang memprihatinkan, penyanyi Cher memulai kampanye global untuk membebaskan Kaavan. Usahanya berbuah hasil tahun ini.

Kaavan, gajah paling kesepian di dunia

​Gajah Kaavan mendapat perawatan khusus dari sang pelatih di Islamabad, Pakistan. Foto: Four Paws / Xdynamix

Pada Mei, Pengadilan Tinggi Islamabad memutuskan untuk merelokasi Kaavan dan sejumlah hewan lainnya ke tempat yang lebih layak. Pemindahan sang gajah ke Cambodia Wildlife Sanctuary telah disetujui. Namun, prosesnya jauh dari kata mudah, khususnya untuk gajah yang sudah bertahun-tahun dirantai. Kaavan juga lebih berat dari gajah normal.

“Proses pemindahan hewan selalu berisiko, terutama jika binatangnya liar dan berukuran besar,” Dr Amir Khalil memberi tahu VICE World News melalui email.

Iklan

Dr Khalil adalah dokter hewan yang mengetuai misi penyelamatan Kaavan bersama Four Paws. Sudah dua bulan organisasi nirlaba ini mempersiapkan pindahan sang gajah. “Kaavan menjalani pelatihan ekstensif agar tetap tenang sepanjang perjalanan,” imbuhnya. Dia menyebut misinya “sangat sulit”.

Dokter hewan itu menghabiskan hari-harinya bersama Kaavan selama beberapa minggu terakhir. Dia bahkan menyanyikan lagu-lagu Frank Sinatra untuk menenangkan pasiennya. “Kedengarannya mungkin aneh, tapi cara inilah yang mendekatkan saya dengan sang gajah. Sekarang hewan itu lebih siap berlatih. Sebagai dokter pribadinya, saya akan menemani Kaavan hingga sampai di tujuan.”

Relokasi hewan menggunakan pesawat biasanya dilakukan untuk spesies lebih kecil, sehingga operasi pemindahan gajah memiliki tantangan yang jauh lebih besar. Kondisi menantang bukanlah halangan bagi Four Paws yang pernah bepergian ke Suriah, Gaza dan Sudan. Namun, baru sekarang organisasi tersebut menjalani misi semacam ini.

Pakar Four Paws menemui Kaavan pada Agustus-September. Mereka memeriksa kelayakan sang gajah untuk terbang. Kaavan bisa saja dibawa ke Kamboja, tapi harus menjalani serangkaian latihan khusus supaya siap menghadapi perjalanan panjang. Nantinya sang gajah akan dimasukkan ke dalam kandang raksasa selama beberapa jam.

Pelatihannya sekarang dilakukan tiga kali sehari. Kaavan diajarkan untuk memasuki kandangnya sendiri sampai terbiasa. Setelah itu, sang gajah diperbolehkan keluar. Mereka melewati beberapa rintangan ketika Kaavan tiba-tiba memasuki musim kawin, atau siklus hormonal yang disebabkan oleh lonjakan testosteron. Sebelum naik pesawat, gajah itu akan dibius agar satu kaki depan dan kedua kaki belakangnya bisa diposisikan ke kandang. Begitu pesawat lepas landas, Kaavan harus bangun untuk menjaga keseimbangan. 

Gajah Kaavan latihan masuk kandang.

Gajah Kaavan latihan masuk kandang. Foto: Four Paws / Hristo Vladev

“Kaavan akan sadar total selama perjalanan supaya bisa menjaga keseimbangan ketika kandangnya bergeser,” terang Ingo Schmidinger dari Four Paws. Pakar satwa liar dan dokter hewan yang menemani Kaavan di atas pesawat akan memberikannya obat penenang jika gajah itu mulai menunjukkan tanda-tanda gelisah.

Gajah Kaavan menyentuhkan belalainya ke tangan sang pelatih dari Four Paws.

Pelatih dari Four Paws berinteraksi dengan Gajah Kaavan. Foto: Four Paws / Hristo Vladev

Kandang yang akan mengangkut Gajah Kaavan diangkat dengan mesin derek.

Kandang yang akan mengangkut Gajah Kaavan diangkat dengan mesin derek. Foto: Four Paws / Hristo Vladev

Jika rencananya berjalan lancar, pesawat Ilyushin IL-76 akan mengangkut Kaavan pada 29 November. Hewan itu akan dipindahkan ke kandang karantina setibanya di Kamboja. Baru kemudian dia dibawa ke suaka margasatwa.

Walaupun menegangkan, Dr Khalil melihat perjuangan Kaavan sebagai kisah paling inspiratif dan menyentuh di antara berbagai berita pandemi yang menyedihkan.

“Kaavan menjadi contoh seperti apa manusia memperlakukan satwa liar. [Tapi] operasi penyelamatan Kaavan menunjukkan masih ada secercah harapan di dunia ini, terutama di tahun yang sangat sulit seperti sekarang,” simpulnya.

Gajah Kaavan berendam

Gajah Kaavan berendam. Foto: Four Paws / Hristo Vladev

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India